Banyuwangi Ethno Carnival Gerakkan Ekonomi Rakyat

"Kairouan Mosque Stitched Panorama" by MAREK SZAREJKO - Wikipedia
“Banyuwangi Ethno Carnival menggerakkan ekonomi rakyat. Foto: Humas Pemkab Banyuwangi

Bupati Abdullah Azwar Anas mengemukakan bahwa ajang Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2016 yang berlangsung sangat megah pada Sabtu mampu menggerakkan ekonomi rakyat.

Anas menyebut, BEC mempunyai tiga tujuan. Pertama, adalah upaya mengenalkan budaya lokal ke publik global. Lewat ajang ini pihaknya ingin menumbuhkan rasa cinta warganya pada budaya lokal.

Kedua, kegiatan pariwisata tersebut adalah ruang untuk mengapresiasi anak-anak Banyuwangi yang bergiat di bidang seni-budaya. “Salah satu problem pengembangan seni budaya kita selama ini adalah minim apresiasi. Latihan terus tapi tidak ditonton ribuan orang. Dengan kegiatan ini, apresiasi dilakukan sekaligus bagian dari regenerasi pencinta seni-budaya,” ujar Anas seperti dikutip Antara.

Tujuan ketiga, kata Anas, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. “Karena ada kegiatan ini hotel penuh, kuliner laris, oleh-oleh ludes, jasa-jasa penunjang bergerak, seperti jasa transportasi, pemandu wisata dan lain-lain,” katanya.

Ia menegaskan bahw BEC meupakan bagian dari pesta rakyat Banyuwangi, selain kegiatan-kegiatan lainnya yang mampu menggerakkan gairah pariwisata.

“Tujuan utama dari berbagai kegiatan pariwisata yang kami gelar adalah untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Di setiap festival, kami membebaskan trotoar di sekitar lokasi untuk berjualan UMKM karena ini adalah pesta mereka. Ke depannya kami akan terus menguatkan pariwisata daerah, salah satunya menambah infrastruktur wisata. Tahun depan akan ada lima hotel berbintang yang beroperasi di Banyuwangi. Akhir tahun ini juga akan ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Banyuwangi,” ujar Anas.

Sementara itu, kata sebanyak 200 peseta BEC mampu menunjukkan penampilan yang luar biasa. Mereka merupakan anak anak muda Banyuwangi yang penuh dengan ide dan kreativitas tanpa kehilangan semangat tradisi dalam menuangkan segenap potensinya.

“Anak anak ini tidak hanya menampilkan desain pakaian yang kreatif, namun sebagai garda terdepan menyampaikan pesan budaya dan sejarah, yakni dari Banyuwangi untuk dunia,” ujar Anas.

Karnaval yang temanya mengisahkan asal mula berdirinya Banyuwangi ini juga diikuti oleh 40 wisatawan mancanegara yang ikut berparade. Di antaranya berasal dari Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia. Mereka berpakaian layaknya penari Gandrung dan ikut berjalan menyapa masyarakat Banyuwangi. Para wisatawan itu kebetulan sedang berlibur di Banyuwangi lalu ditawari untuk ikut tampil dan mereka menyambut antusias.

“Ini pertama kalinya saya berlibur di Banyuwangi dan langsung terlibat di acara yang unik ini, sangat menyenangkan sekali,” kata Dzmitry Magvay Nedashkouskiy dari Republik Belarusia. (ant)

Add Comment