Tradisi Petekan, Tes Keperawanan ala Poncokusumo

"Kairouan Mosque Stitched Panorama" by MAREK SZAREJKO - Wikipedia
“Tradisi Petekan adalah test keperawanan oleh dukun bayi di Desa Ngadas Poncokusumo by MalangKab.go.id”

Buku berjudul Tradisi Test Keperawanan di Negeri Kayangan yang ditulis Bupati Malang Dr H Rendra Kresna di launching, Sabtu (5/11) lalu bersamaan dengan pelaksaan tradisi Peteken di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

Selain menulis sebuah buku, tradisi Petekan di Desa Ngadas yang sudah bejalan ratusan tahun silam ini juga diangkat oleh Bupati Rendra Kresna dalam desertasinya saat menempuh gelar Doktor di Universitas Merdeka Malang. Bahkan menjadikannya lulusan dengan nilai cumlaude.

Tradisi Petekan sendiri menurut Rendra adalah sebuah test keperawanan yang dilakukan oleh dukun bayi di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo.

“Tradisi Petekan yang sudah dijalani dan dilestarikan oleh Suku Tengger ini hanya ada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo. Meski sebenarnya Suku Tengger yang tinggal di sekitaran Gunung Semeru ini tersebar di empat wilayah yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan,” ujarnya.

Tradisi Petekan atau pemeriksaan kehamilan yang ada di desa yang berada di ketinggian 2.100 MdPL ini dilakukan setiap tiga bulan sekali dan diikuti oleh para gadis dan janda.

Saat ini tak hanya dukun bayi yang terlibat dalam proses pemeriksaan. Dalam tradisi Petekan ini juga melibatkan bidan desa. Untuk semakin menambah hasil keakuratan secara medis.

“Saat ini seks bebas atau hamil di luar nikah dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal kita semua tahu ini tidak sesuai dengan budaya bangsa kita juga dengan agama yang dianut. Agama apapun itu. Melalui tradisi Petekan akan menghidarkan perempuan dari hal-hal yang menghinakan dirinya. Dan ini menjadi harapan untuk menjaga anak-anak gadis tetap menjadi wanita terhormat,” jelas Rendra lebih lanjut.

Launcing dan bedah buku “Tradisi Petekan di Negeri Kayangan” dilakukan bersamaan dengan digelarnya tradisi Petekan.

Ada 54 peserta yang ikut dalam acara ini. Bupati yang saat itu turut menyaksikan acara Petekan menyisipkan pesan. Agar mereka tidak menikah di usia dini.

“Kalau belum berusia 21 tahun jangan menikah dulu. Jangan mau dikawinkan kalau masih di bawah usia 21 tahun lanjutkan sekolah. Jodoh itu sudah ada yang mengatur jadi kalian tidak perlu kawatir. Saya kagum dan bangga karena kamu adalah gadis-gadis yang bisa menjaga keperawanan,” kata Rendra.

Dalam kesempatannya bertemu gadis-gadis remaja di desa ini, Bupati juga mengenalkan salam genre. “Dalam salam genre ada tiga hal yang harus dihindari, bentuk lingkaran pada tangan artinya zero atau tidak dengan. Jari tengah artinya no seks bebas, jari manis artinya no HIV/AIDS, dan kelingking artinya no NAPZA,” tegas Bupati.

Pada kesempatan lain, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tertarik mengajak Bupati Rendra Kresna melakukan sarasehan di gelar Pendopo Agung Kabupaten Malang, Rabu (09/11) malam.

50 anggota Rombongan LIPI ini diketuai Dr Tri Nuke Pudjiastuti Deputi ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI ini tertarik pada disertasi Bupati Malang yang mengangkat Tradisi Petekan” tersebut. (ist)

Add Comment