Dari Ujub Tumpeng Hingga Banteng Ketaton (3)

foto

Ruwat Sumber Partirtan Jolotundo dibagi menjadi tiga tahapan, sebelum, pada saat dan sesudah.

5. Sumaningah Ujub Tumpeng
Masyarakat pedesaan khususnya di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Malang serta Jombang, setiap ada acara (ritual) yang bernuansa adat, memakai ujub lokal yang rata rata hampir sama.

Namun untuk Desa Seloliman dimana ada Petirtan Jolotundo yang setiap saat dikunjungi para wisatawan religi untuk keperluan ritual, akhirnya model-model ujub berkembang di Seloliman, menjadi model Mataram berbagai versi, juga model Tengger.

Ujub Tumpeng (doa jawa) dipanjatkan oleh tetua / tokoh adat atau dusun. Untuk ujub lokal karena sangat dipahami kata kalimat dan makna para warga-warga nyenggaki: nggeh……… nggeh…… sampai selesai tenpa mengurangi khidmad.

Setelah ujub tumpeng selesai, dilanjutkan dengan doa oleh ulama. Selama ini dipanjatkan oleh ulama Islam dari warga Dusun Biting sendiri. Pihak panitia tetap mempersilakan kepada ulama dari agama lain Kristen, Budha dan Hindu untuk berkenan memmanjadkan doa juga.

Pada saat sumaningah ujub tumpeng dipanjatkan, beberapa tetua atau tokoh dusun sambil berkeliling memercikkan air suci (air yang telah diruwat), yaitu air-air dari berbagai sumber yang sudah disatukan (manunggal) di dalam kemaron, kepada semua yang hadir. Sebagian warga dan undangan (tamu) membawa pulang, disamping untuk diminum keluarganya, juga dipercikkan ke sawah, tegal dan ternak.

Setelah selesainya ujub dan doa, panitia mempersilahkan para tamu dan segenap yang hadir untuk menikmati tumpeng-tumpeng yang telah disediakan/yang telah diberkati dalam ruwat.

6. Beksan
Beksan atau tandaan oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah pedesaan Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Malang dikenal sebagai tari pergaulan muda-mudi / pria-wanita dan umumnya disebut Saweran.

Tarian wanita-pria ini sekilas memang nampak beraroma sedikit porno, dengan gerakan-gerakan sedikit erotis. Namun bagi yang memahami bahwa penampilan wanita-wanita dan gerakan sedikit erotis itu melambangkan (simbol) dari Lingga Yoni. Apapun yang bermakna Lingga Yoni, adalah sesuatu yang magis dan sakral, yang tidak boleh dibuat main-main, apalagi disalahgunakan.

Beksan disebut juga saweran, karena si pria yang umumnya tamu, sebelum naik panggung (arena), harus memberi tip berupa sejumlah uang kepada pimpinan panjak (wiyogo), sambil meminta gending (lagu). Tampilnya si pria keatas panggung, disamping karena ditunjuk kemlandang, juga atas kemauannya sendiri, tetapi tetap harus seijin (memberitahu) Kemlandang. Kemlandang adalah pembawa acara khusus saweran sekaligus mengatur jalannya saweran.

Di Patirtan Jolotundo, beksan ditempatkan di depan kolam pojok barat. Karena beksan merupakan salah satu persyaratan dalam ruwat, dan berlangsungnya beksan tidak lama, yakni antara 15- 30 menit. Selesai beksan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit ruwat.

7. Wayang Ruwat
Gebyar (pentas) wayang kulit (ruwat) sebagai rangkaian yang tak terpisahkan dari prosesi ruwat harus digelar pada saat itu juga. Oleh karena itu dalam tekhnis pelaksanaannya, ada dua cara yang dilakukan selama ini, pertama digelar sampai selesai saat itu juga, biasanya dengan lakon ruwat singkat.

Kedua digelar sepintas, yang disebut dengan Mucuki dan dilanjutkan pada malam hari di rumah Kepala Dusun, sebagaimana umumnya gebyar warang kulit semalam suntuk.

Adapun lakon (ceritera) yang ditampilkan, menurut pendapat tetua adat dusun Biting, antara lain Dewa Ruci (Tirta Perwita Sari), Pandawa Tambak atau Pendawa Tani, karena erat kaitannya dengan air, dan erat pula dengan pertanian atau kehidupan para petani.

8. Bantengan
Seni Bantengan merupakan ikon Mojokerto, keberadaannya di Dusun Biting Seloliman cukup eksis dan patut dibanggakan setidak-tidaknya menyangkut gamelannya. Paguyuban Bantengan di wilayah Mojokerto awalnya tumbuh di desa-desa lereng bawah dan lembah Gunung Penanggungan, Gunung Wirang dan Gunung Anjarmoro.

Adapun seni tari bantengan itu sendiri diilhami beberapa hal. Konon di hutan-hutan pulau Jawa, hidup berkelompok-kelompok sapi liar. Manakala di tengah-tengah kelompok tersebut lahir seekor sapi yang mempunyai ciri berbeda dengan yang lain, yakni keningnya putih sampai kemoncong, pantatnya putih, keempat kakinya juga berwarna putih sampai batas lutut. Secara naluri, seluruh anggota kelompok melindungi dengan ketat padat yang memiliki ciri khas tersebut.

Menginjak masa remaja sampai dewasa, keistimewaan sapi tersebut mulai nampak. Tubuhnya ramping dan kekar, cenderung lebih kecil. Itulah yang oleh masyarakat Jawa disebut ‘Banteng’ secara naluri pula, dia diangkat sebagai pemimpin kelompok/tampil sebagai pemimpin kelompok.

Dalam pengembarannya di hutan, pada suatu saat bertemu dengan harimau. Harimau tidak langsung menerjang dan menerkam. Karena kelompok sapi tersebut dikawal oleh banteng. Sang harimau mulai berhitung dan mulai memaknai siasat sebelum menyerang. Pertama harimau mulai beraksi, kaki banteng dicakar-cakar. Sang banteng tidak melayani, dan menggiring kelompoknya untuk menghindar. Tapi Sang Raja Hutan terus membuntuti.

Strategi harimau mulai ditingkatkan. Harimau melompat naik ke pantat banteng, ke punggung banteng sambil mencakar dan menggigit. Sang banteng berusaha melepaskan diri dan banteng yang nalurinya ‘lamban panas’ menggiring kembali kelompoknya menjauhi sang pemangsa sambil berlari.

Harimau masuk ke belukar, namun tetap mengintai mangsanya. Kelompok sang banteng merasa sudah berada jauh diluar jarak terkam hHarimau. Sampai di padang rumput hijau. Sang banteng bersama kelompoknya santai sambil menikmati makanan rumput, Sang Banteng tidur-tiduran sambil mengawasi anggota kelompoknya.

Mendadak, muncul dari semak-semak harimau dan langsung menerkam banteng yang sedang santai. Kali ini sasaran serangan harimau yang dipilih leher (tenggorokan/ kerongkongan) dan kepala. Sang banteng tidak bisa menghindar dan mengalah lagi.

Banteng dalam keadaan kesakitan yang amat sangat, sakit fisiknya sakit perasaannya. Tenaga banteng muncul, sang harimau dilempar Sang Banteng mengamuk, menerjang, menyerang siapa saja dan apa saja yang dianggap sebagai lawannya.

Inilah yang disebut dengan BANTENG KETATON, tidak takut siapapun dan apapun. Inilah yang mendasari Bung Karno, menancapkan Kepala Banteng pada dada Garuda Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai salah satu simbul bangsa Indonesia : Lamban panas, senang mengalah, tapi kalau sudah kesakitan (sakit martabatnya, sakit fisiknya) akan mengamuk ibarat (lir kadyo) Banteng Ketaton.

Kesenian Bantengan tidak ada kaitannya dengan partai politik manapun, demikian pula dengan kesenian Bantengan Dusun Biting Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, lereng timur laut Gunung Penanggungan (Bukit Bekal).

Pada saat atraksi Bantengan, sampai pada atraksi Bantengan Ketaton, hampir semua pemain menjadi trans (kesurupan). Kalau salah satu dari dua orang pemain Bantengan kesurupan, cirinya tanduk dari kepala banteng itu ditancapkan ketanah.

Setelah banteng ketaton berhasil menaklukkan harimau sang pengganggu, banteng-banteng yang mulai tenang, satu persatu para pemain yang trans (kesurupan/ndadi) itu disadarkan oleh para pawang. Disini cambuk sudah tidak boleh dicambukkan lagi, sebab bunyi cambuk atau bahasa Jawanya Pecut memberikan sugesti kepada para pemain untuk trans (ndadi). (ist/3 dari 3-habis)

Tulisan pertama klik disini

One thought on “Dari Ujub Tumpeng Hingga Banteng Ketaton (3)

  1. Pingback: Lakon Brotoseno Mencari Air Suci (2) | timurjawa.com

Add Comment