Lakon Brotoseno Mencari Air Suci (2)

foto

Ruwat Sumber Partirtan Jolotundo dibagi menjadi tiga tahapan, sebelum, pada saat dan sesudah.

Persiapan Ruwat
Menginjak bulan syawal, sesepuh dusun (tetua adat) yang dipimpin Mbah Jari mulai menentukan waktu pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo dengan pendoman pasaran Legi sepuluh hari pertama (sebelum tanggal 10 jawa). Untuk kemudian membentuk panitia Ruwat Sumber.

Panitia menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk kepentingan ruwat. Pengambilan air/ mengumpulkan air dari sumber – sumber yang akan diruwat. Obyek air yang diruwat tidak terbatas pada sumber jolotundo, tapi sumber-sumber air di seputar gunung penanggungan

Pengadaan pohon tahun, biasanya pohon beringin, buluh dan burung (burung apa saja asal bukan burung hama pertanian).

Cok bakal atau tumpeng sesaji lengkap berikut ikung ayam kampung jantan. Disertai polo kependem, polo gumantug atau buah umumnya pisang ayu dan sepasang buah kelapa, dan bunga minimal 3 warna (kembang telon, 5 warna 7 warna atau kembang setaman).

Kesenian wajib: Wayang kulit dengan lakon yang berkaiatan dengan ruwat dan tandaan serta batengan. Dipersiapakan pula gamelan alusan seperti rebab, siter, gender, gambang dan suling. Selama ini yang sering ditampilkan adalah gendr dan rebab dan disertai dengan vocal dalam bentuk puisi.

Dupa, kendi disiapkan 20-30 buah, kemaron minimal 2 buah berikut sewur secukupnya, bambu jawa 2 lembar dalam keadaan utuh akar dan rantingnya. Ancak atau lincak atau disebut juga amben, yakni kursi panjang dari bambu, untuk meletakan asahan (tumpeng) dari warga.

Prosesi Ruwat
Sekitar jam 08.00 petugas mulai mengambil asahan (tumpeng) dari warga, disisir mulai dari utara dengan dimuat pick-up. Semua tumpeng dikumpulkan di luar area Jolotundo + 50 meter dibawah patirtan, persis di bumi perkemahanan (pendopo).

Setelah semua tumpeng dari warga terkumpul, tumpeng-tumpeng dipanggul, diarak dengan berbaris menuju patirtan dengan dikawal pasukan Banteng. Dibelakang diiringi beberapa warga, tamu dan beberapa petugas, laksana barisan istimewa dengan kawalan khusus diiringi alunan gembing irama sakral. Tabuhan Bantengan Jimo, Malangan dan Gedek.

Sampai di areal Jolotundo, pasukan tumpeng bersama semua pengiring masuk ke Patirtan Jolotundo. Tumpeng-tumpeng ditata ditempat yang sudah disiapkan di depan kolam. Lokasi/areal mulai dari tempat tumpeng sampai Siti Hinggil tetap disterilkan kecuali petugas.

Dengan berhentinya alunan suara gamelan bantengan maka acara Ruwat Sumber Jolotundo dimulai.

1. Panyuwunan
Dalam bahasa jawa lama yang sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat Tengger Gunung Bromo adalah Sumaningah / ngaturi meningga (dalam bahasa jawa Mataraman disebut Ngaturi pirsa). Sesuai dengan mantra yang sumare di tlatah Jolotundo dan sekitarnya, yang sudah kundur kealam kelanggengan, tentang maksud dan tujuan para anak cucu beliau, warga Dusun Biting dating ke Patirtan Jolotundo, yakni:

– Ngaturaken sembah sungkum dumateng para leluhur ingkang sampun kundur dumateng alam kelanggengan, kang sumare wonten tlatah Patirtan Jolotundo lan sakpiturute.

– Ngaturaken matur sembah nuwun, kepada para leluhur yang telah menata sumber-sumber dan aliran-aliran air Jolotundo yang manfaatnya sangat dirasakan oleh anak cucunya. Warga dusun Biting dan sekitarnya, untuk minum, rumah tangga, terutama untuk pertanian sawah, petegalan (kebun) dan peternakan. Dan kesanggupan untuk mempertahankan, melestarikan, mengembangkan dan mengawal semuanya itu demi kemakmuran bersama. Meruwat dan merawat.

– Nyenyuwun (memohon) kepada Kang Akarya Jagad (Hyang Akar ya Jagad) Tuhan Yang Maha Pencipta, untuk selalu diberikan petunjuk bimbingan dan perlindungan. Diakhiri dengan doa agar arwah para leluhur diampuni segala dosanya diterima semua amalnya dan terima disisiNya.

Demikian ritual sumanginah Ujub Sesaji, dengan ngaweruhi pula keberadaan anasir baik di dalam mikro maupun makro, sebagaimana dilambangkan dalam sesaji tumpeng lengkap berikut polo kependem, polo gumantung, bunga setaman dan asap pedupaan.

– Sumaningah (Ngaweruhi) ujub sesaji lengkap dilakukan di Siti Hinggil pelataran atas Patirtan yang dipimpin oleh tetua adat dengan didampingi Kepala Dusun dan beberapa tetua / tokoh dusun. Dan Untuk menambah khusuk dan heningnya sumaningah, di pelataran bawah dilantunkan suara gamelan alusan (rebab, siter, gender, gambang dan suling).

2. Manunggaling Tirta
Yang dimaksud dengan manunggaling tirta adalah menyatukan antara air yang berasal dari sumber-sumber sekitar Patirtan Jolotundo dengan air Jolotundo yang keluar dari pencuran-pancuran di Patirtan untuk dirawat. Kendi-kendi yang jumlahnya antara 9 s/d 33 yang tertata pinggiran kolam, berisi air-air dari sejumlah sumber.

Selanjutnya para pelaku ruwat dengan dipimpin oleh seseorang tetua adat terjun ke kolam bawah yang dangkal, juga naik ke Padmanasa mengambil air Jolotundo dari semua pancuran. Dan ‘semua air–air itu dijadikan satu dalam kemaron yang telah disediakan’.

Setelah semua air–air itu bercampur menjadi satu dalam satu kemaron, air dalam kemaron itu dengan khidmat dituang kembali ke dalam kendi kendi satu persatu, dan ditata sebagimana para tetua adat dan para pelaku ruwat terjun ke kolam menyebar mengambil air dari semua pancuran, berikut mendengarkan suara gamelan alusan yang berpadu dengan suara gemericiknya air.

Bergeloranya air kolam diaduk oleh kaki kaki para pelaku ruwat, mengingatkan kita (bagi penggemar wayang kulit) pada lakon (ceritera) wayang Dewa Ruci-Ruci atau disebut juga Terta perwita (Pawitra Sari). Brotoseno (warkudara) mencari air suci (sarisaino banyu), yakni ceritera sakral yang reliefnya terpampang di Patirtan Jolotundo dan Candi Kendalisodo.

Memang prosesi manunggaling tirta suci, kalaudi pertajam semaningah TIRTA PERWISA SARI. Yang mempunyai makna yang sangat dalam mikro dan makro, disamping makna menyangkut pelestarian lingkungan.

3. Sumaningah Penaman Pohon dan Pelepasan Burung
Sumaningah ini juga merupakan bagian penting dari prosesi dari prosesi ruwat. Walau ruwat tidak secara harfiaf artinya bersih, namun meruwat jelas mengandung arti membersihkan.

Pohon dan burung (flora & fauna) adalah pendamping kehidupan manusia. Ketiganya saling tergantung dan saling membutuhkan. Ketiganya adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Seringkali manusia bersikap egois, mengganggu keberadaan mereka, bahkan dengan sadar membunuh mereka. Pada saat ruwat inilah kita merenung, kembali menyadari terhadap prilaku kita terhadap para beliau Pohon dan Hewan.

Penanaman pohon dan pelepasan burung, tetap diiringi dengan alunan gamelan alusan. Pelaku ruwat yang melakukan penanaman pohon dan pelepasan burung, juga dilakukan dengan hati-hati dan kehalusan juga disertai sesaji pembakaran dupa (Gondo Arum).

4. Sambutan–Sambutan
Sambutan–sambutan ini dilihat dari kerangka ritual ruwat, bukan termasuk pokok acara. Tapi dipandang dari penyelenggaraan kegiatan dusun secara umum, sambutan–sambutan itu harus ada dan merupakan bagaian dari rangkaian ruwat. (ist/2 dari 3-bersambung)

Tulisan ketiga klik disini

One thought on “Lakon Brotoseno Mencari Air Suci (2)

  1. Pingback: Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo (1) | timurjawa.com

Add Comment