Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo (1)

foto

Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan (Gunung Pawitra) (1.653 mdpl) terletak di Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur) Jawa Timur memiliki ratusan peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Gunung Penanggungan, dikelilingi oleh delapan bukit besar kecil secara berseling-seling, (empat bukit tinggi dan empat bukit pendek) sehingga penampang Gunung Penanggungan selalu nampak sama bila dipandang dari delapan penjuru mata angin.

Keberadaan Gunung Penanggunan yang demikian itu menurut konsep atau Doktrin Cosmogoni Brahman Hinduisme atau Jawaisme merupakan MINIATUR JAGAD RAYA. Mandala ditengah–tengah dengan dikelilingi 8 Samudra dan 8 Benua. Merupakan MAHA MERU dengan MANDALA ALAMI.

Gunung Penanggungan, adalah satu-satunya gunung yang menyimpan bukti-bukti arkeologi paling banyak tentang sejarah masa lampau Bangsa Indonesia. Berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung.

Patirtan Jolotundo
Patirtan Jolotundo berada di lereng barat Gunung Penanggungan, terletak di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.

Desa Seloliman terdiri dari tiga dusun dengan keindahan alam dan adat budayanya. Dusun Biting dalah salah satu dusun yang tepat berada di kawasan Patirtan Jolotundo.

Pada Bulan Suro, sebagian besar warga Dusun biting selalu mengadakan ruwat sumber, sejak puluhan tahun lalu. Sumber air Jolotundo adalah sumber air purba, artinya sumber air yang tidak bisa dideteksi pangkalnya.

Puncak Gunung Penanggungan yang dikelilingi oleh delapan bukit besar kecil secara berseling-seling, disepanjang musim penghujan merupakan tandon air raksasa, kawasan jebakan kabut, dan merupakan areal resapan, yang akan menarik air dipermukaan, masuk ke dalam perut gunung.

Proses demikian berlangsung jutaan tahun sudah barang tentu akan membentuk tandon air raksasa di perut gunung (minimal sebesar tandon dipermukaan) dan dapat disimpulkan bahwa tandon di perut gunung merupakan percampuran atau pertemuan antara air dari sumber purba dengan air resapan hujan dan kabut.

Gorong-gorong yang membawa air dari tandon raksasa di perut gunung ke delapan penjuru setelah melewati anak gunung, Patirtan Jolotundo yang menerima pasokan air terbesar. Pasokan air dari perut gunung, tidak semuanya muncul (dimunculkan) di Patirtan Jolotundo. Sebagian muncul dan dimunculkan (sumber-sumber lain) di kawasan bawah Patirtan Jolotundo.

Oleh karena itu Desa Seloliman khususnya Dusun Biting, konon namanya Dusun Benteng, karena posisinya berada di bawah areal Patirtan Jolotundo, dengan banyak ditemui sumber-sumber air.

Adalah Gatot Hartoyo, seorang ‘budayawan Embongan’ yang pada tahun 2009 mendata sumber-sumber air di Dusun biting bersama tim kecil Karang Taruna Dusun Biting dan memprakarsai agar budaya ruwat sumber di Patirtan Jolotundo, terus dilestarikan dan dikembangkan.

Patirtan Jolotundo adalah salah satu situs yang dibangun oleh Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Airlangga pada tahun 899 saka. Konon, Patirtan Jolotundo, digunakan Raja (Prabu) Airlangga untuk bersuci sebelum melakukan ritual.

Dari sudut pandang alami maupun cerita sejarahnya, membuat keberadaan Patirtan Jolotundo menjadi sangat penting, bagi masyarakat Desa Biting pada khususnya dan Desa Seloliman pada umumnya.

RUWAT SUMBER
RUWAT merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Jawa yang dilakukan sejak jaman dahulu kala, turun temurun hingga sekarang. Ruwat, bagi masyarakat Jawa bukan sekedar budaya, namun sudah masuk dalam Ritual & Religi.

Ruwat pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ruwat Perorangan dan Ruwat Kelompok atau Komunitas. Namun kedua bentuk ruwat itu pada hakekatnya tetap sama, maksud dan tujuannya sama, yang membedakan hanya pada obyek yang diruwat.

Sejarah, Latar Belakang Dan Motivasi Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo
Dilihat dari kwalitas air dan kebutuhan manusia, air dibedakan menjadi tiga, air minum, air besih, dan air irigasi. Bagi warga masyarakat Dusun Biting Seloliman, air dari sumber Jolotundo menyangkut ketiga-tiganya.

Tentang air Jolotundo, pengertiannya tidak hanya air yang ada di Patirtan Jolotundo, tapi menyangkut juga air dari sumber-sumber yang ada di bawah Jolotundo, karena sumber-sumber tersebut merupakan limpahan dari Jolotundo.

Karena Ruwat Sumber Jolotundo ini menyangkut kepentingan pertanian perkebunan (tegalan) dan peternakan, selain kepentingan minum berikut kepentingan rumah tangga yang lain, maka Ruwat Sumber Jolotundo bisa diartikan sebagai Ruwat Pertanian dan sangat penting artinya bagi masyarakat, khususnya Dusun Biting Seloliman.

Ruwat Sumber Jolotundo bagi masyarakat Dusun Biting, menyangkut besar kecilnya debit air yang keluar dari sumber-sumber Jolotundo, menyangkut lancar dan tidak lancarnya, menyangkut keluar dan mampetnya sumber. Lengah atau absen dalam ruwat, akan berakibat mengecilnya debit air yang keluar, bahkan bisa mampet.

Penyelenggaran Ruwat Sumber Jolotundo, adalah demi (dengan harapan) lancar dan melimpahnya debit air yang keluar di seluruh sumber-sumber tersebut. Hal semacam ini sangat diyakini kepada bukti-bukti lewat N I T E N I. Oleh karena itu warga masyarakat Dusun Biting, tidak berani absen dalam pelaksanaan ruwat sumber ini.

Warga Dusun Biting Seloliman dengan antusias selalu aktif dan mengambil bagian dalam pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo, sejak puluhan tahun yang lalu.

Kemudian sejak 2008 warga berinisiatif meningkatkan acara ruwat sumber ini dari lingkup dusun ditingkankan menjadi lingkup desa, dari kegiatan dusun menjadi kegiatan desa. Dan dalam perjalannya penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo terus dibenahi, direnovasi dan kian disempurnakan sesuai kebutuhan dan tuntutan jaman.

Waktu pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo oleh warga masyarakat Dusun Biting Seloliman dilaksanakan pada bulan Suro, jatuh pada pasaran Legi sepuluh hari petama (sebelum tanggal 10 jawa).

Bulan Suro adalah bulan pertama jawa tahun (faham) aboge dan tahunnya berdasarkan tahun saka (tahun jawa ).

Sedangkan pasaran Legi didasarkan kepada pitungan jawa tentang kejayaan, bahwa Jolotundo berada di sebelahan timur Dusun Biting. Warga masyarakat Dusun Biting untuk ke Jolotundo arahnya ke timur sesuai dengan pitungan jawa, bahwa pada pasaran Legi kejayaan ada di arah timur. Pitungan semacam itu bagi masyarakat jawa selalu diperhitungkan sejak jaman kuno hingga sekarang.

Adapun mengambil sepuluh hari pertama (sebelum tanggal 10), diperoleh dari hasil pengamatan yang diyakini bahwa bahwa mulai tanggal satu sampai dengan supuluh adalah saat-saat berkumpulnya enerji (kekuatan) di Jolotundo.

Penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo, kian tahun kian dibenahi dan kian disempurnakan dengan tidak merubah pakem, tetap berpegang kepada tradisi dan memegang teguh esensi ideologis.

Setelah tahun 2010 gagasan ini didukung Kepala Dusun Biting, Kepala Desa Seloliman, Karang Taruna dan didukung penguyuban kesenian Dusun Biting. Kegiataan ruwat memperkokohkan posisi ruwat dan lebih semarak gebyar pelaksanannya dan melibatkan masyarakat luar Dusun Biting. (ist/1 dari 3-bersambung)

Tulisan kedua klik disini

2 thoughts on “Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo (1)

  1. Pingback: Lakon Brotoseno Mencari Air Suci (2) | timurjawa.com

  2. Pingback: Dari Ujub Tumpeng Hingga Banteng Ketaton (3) | timurjawa.com

Add Comment