Sebab Primbon Bukanlah Kitab Suci

foto
Dr Lucy Dyah Hendrawati SSos MKes saat acara promosi menjadi Doktor. Foto: ist

Sehelai janur tertempel melengkung di tiang penyangga terop. Dihembus angin, dia seolah menari diiring lantunan musik dangdut dengan suara bas yang dominan. Sepasang mempelai terus tersenyum di atas pelaminan.

Tamu undangan tak kalah sumringah. Mungkin turut bahagia, mungkin pula karena hidangan begitu melimpah. Seusai Lebaran pertengahan Juli 2016 lalu, pemandangan semacam itu kerap dijumpai di sudut-sudut halaman atau bahkan jalanan (yang ditutup) Kota Surabaya. Ya, pada bulan Syawal (penanggalan Jawa) merupakan musim kawin.

Maka tak heran undangan pernikahan akan menumpuk menunggu giliran untuk dihadiri. Namun memasuki bulan Selo, hampir dipastikan, masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi tak akan berani menggelar pernikahan. Ini semua terjadi karena masih kuatnya kepercayaan pitungan seperti tertera dalam primbon.

Tak ada penjelasan tentang pantangan-pantangan, selain hanya agar tidak mendapat petaka jika melanggarnya. Inilah yang membuat seorang Dr Lucy Dyah Hendrawati SSos MKes tertarik menelitinya.

Hasilnya, sebuah disertasinya untuk meraih gelar doktor di bidang Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Dosen Antropologi FISIP Unair itu membuat disertasi berjudul ‘Pitungan dan Variasi Kelahiran Anak Pertama pada Etnis Jawa’.

Sebuah kajian akademik yang logis dan ilmiah dari sebuah buku yang sering kali disalahartikan sebagai kitab suci.

“Saya sengaja membuat disertasi terkait primbon pitungan karena merasa prihatin terhadap keberlangsungan budaya Jawa. Padahal pitungan itu sangat bermanfaat bagi ibu, anak dan paramedis serta rumah sakit dalam mempersiapkan kebutuhan puncak kelahiran di etnis Jawa,” ungkap Lucy seusai sidang disertasinya di aula Kampus A Unair, Kamis 11 Agustus 2016 lalu.

Seperti dikutip Koran Sindo, Lucy menerangkan, penelitiannya dilakukan di tiga daerah yang masih kuat memegang pitungan dalam primbon, yaitu Kabupaten Blitar, Kota Blitar dan Kota Surabaya.

“Variabel pitungan penentuan waktu perkawinan memang berpengaruh terhadap variasi kelahiran anak pertama dan jumlah anak yang dilahirkan pada masyarakat etnis Jawa. Begitu juga perasaan slamet mempengaruhi variasi kelahiran anak pertama dan jumlah anak pada etnis Jawa,” papar istri dari Fandi Utomo, anggota DPR RI ini.

Lebih jauh Lucy menjelaskan, tradisi pitungan Jawa waktu penentuan perkawinan (ijab) sampai kini masih kuat. Terbukti, bulan pernikahan yang dianggap baik biasanya dilakukan pada bulan Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah dan Besar. Sementara dianggap cukup baik adalah bulan Sapar, Bakdomaulud, Jumadilawal dan Syawal.

“Pantangan menggelar perkawinan ada di bulan Suro, Maulud, Puasa dan Selo. Kalau dilanggar, pasangan pengantin dan keluarganya akan mendapat musibah besar dalam hidupnya. Inilah yang kerap menyebabkan waktu pernikahan dapat tertunda cukup lama,” ungkap Ibu tiga orang anak ini.

Pantangan maupun anjuran dalam primbon ini bukan sekadar klenik. Kata Lucy, pitungan untuk menentukan waktu pernikahan ternyata bermanfaat besar bagi pasangan yang hendak menikah, agar mempersiapkan fisik dan mental dalam menghadapi kehamilan dan kelahiran anak pertama yang sehat. “Artinya, perkawinan yang direncanakan dengan baik itu akan menghasilkan anak yang sehat,” ucapnya.

Menurut Lucy, nilai seorang anak bagi masyarakat Jawa adalah sebagai jaminan hari tua, sumber pembawa kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarga.

“Semakin banyak anak akan bernilai ekonomis bagi tenaga kerja keluarga pada masyarakat yang mata pencariannya bertani. Prinsip ini masih kuat pada masyarakat petani yang tinggal di Kabupaten Blitar sehingga rata-rata memiliki lebih dari dua anak,” ucapnya.

Sementara untuk slametan, lanjut Lucy, bagi etnis Jawa adalah bagian upaya memperoleh ketenangan jiwa raga dalam kehidupannya. Makanya, di etnis Jawa ada slametan kelahiran, khitanan, perkawinan hingga kematian.

“Perasaan slamet yang dimiliki pasangan suami-istri diyakini akan mempengaruhi kesehatannya, termasuk pada janin yang masih dalam kandungan,” dalihnya.

Hasil perkawinan yang melaksanakan pitungan juga lebih cepat dan memiliki anak jumlah yang lebih dari dua. “Rata-rata proses kehamilan pasangan menggunakan pitungan tidak lebih dari dua tahun,” tandas perempuan kelahiran Pamekasan ini. (ist)

Add Comment