Upacara Kasada: Warisan Masyarakat Tengger pada Dunia

foto
Upacara Kasada kini menjadi daya tarik wisatawan. Foto: Antara

Siapa yang tidak kenal dengan kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Potensi wisata unggulan Jawa Timur yang setiap tahunnya dikunjungi oleh 550.000 wisatawan yang diantaranya terdapat 15.661 wisatawan asing ini, menyimpan potensi alam yang luar biasa.

Selain suasananya yang sejuk, gunung yang memiliki ketinggian 2.329 m/dpl, menyimpan panorama alam yang konon tiada bandingnya di negeri ini. Seperti fenomena sunrise, hamparan padang pasir, dan hamparan padang savana.

Namun dibalik keanggunan Gunung Bromo, tersimpan beberapa tradisi yang membentuk filosofi dan kesejarahan yang pada akhirnya menunjukkan keramahan dan perilaku konservatif pada budaya dan lingkungan masyarakat Tengger, penduduk asli gunung Bromo.

Salah satu tradisi yang hingga kini dipertahankan oleh masyarakat Tengger adalah Upacara Kasada. Upacara yang biasa disebut dengan Yadnya Kasada merupakan hari raya kurban masyarakat Tengger. Upacara ini jatuh pada tanggal 14 malam bulan ke-12 atau Bulan Kasada menurut kalender Tengger.

Yadnya Kasada diikuti seluruh masyarakat Tengger yang tinggal di kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Puncak upacara diselenggarakan di Pura Luhur Poten yang menghadap ke Gunung Bromo, di tengah laut pasir atau biasa disebut oleh masyarakat Tengger dengan istilah Segara Wedhi.

Dalam upacara Kasada, masyarakat Tengger pada waktu fajar menyingsing berbondong-bondong menuju kawah Gunung Bromo untuk melemparkan kurban. Kurban yang dilemparkan berupa hasil pertanian dan peternakan yang dilengkapi dengan sajian dalam ongkek, alat sajian yang terbuat dari bambu.

Setelah itu di mereka berbondong-bondong menuju Pura Luhur Poten untuk mengikuti penyelenggaraan ujian untuk para calon dukun Tengger yang disebut mulunen.

Masyarakat Tengger
Menurut Prof Ayu Sutarto dalam bukunya ‘Inventarisasi Upacara Adat Provinsi Jawa Timur’, masyarakat Tengger merupakan salah satu dari 10 sub-kultur kebudayaan yang memiliki turunan tradisi terlengkap.

Selain Upacara Kasada, terdapat beberapa tradisi yang masih dipertahankan turun-temurun sebagai pemertahan keyakinan dan identitas seperti diantaranya upacara karo, unan-unan, pujan-pujan, peturon penganten, hingga upacara nyadran/sedekah panggonan.

Kondisi masyarakat Tengger sangat aman dan damai. Segala permasalahan selalu dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah mufakat.

Setiap pelanggaran yang dilakukan cukup diselesaikan oleh petinggi adat dan kepala desa. Mereka sangat patuh dan menjunjung tinggi apapun keputusan yang dikeluarkan oleh orang-orang tersebut.

Apabila cara ini tidak juga menolong, maka pelaku pelanggaran itu cukup disatru (tidak diajak bicara) oleh seluruh penduduk. Mereka juga sangat patuh dengan segala peraturan yang ada, seperti kewajiban membayak pajak, kerja bakti dan sebagainya.

Hal tersebut tidak terlepas dari peranan ajaran yang hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti Panca Setia.

Yaitu setya budaya artinya, taat, tekun, dan mandiri; setya wacana artinya setia pada ucapan; setya semya artinya setia pada janji; setya laksana artinya patuh, tuhu, dan taat; serta setya mitra artinya setia kawan.

Namun dari kesekian ajaran dan tradisi yang dianut oleh masyarakat Tengger, upacara Kasada-lah yang dianggap sebagai puncak perekat dari seluruh ritualitas masyarakat Tengger dalam mensyukuri nikmat dari Sang Maha Pencipta.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya cerita rakyat yang mengisahkan tentang asal muasal leluhur masyarakat Tengger dalam upacara Kasada.

Joko Seger dan Roro Anteng
Cerita rakyat tersebut tentang Joko Seger dan Roro Anteng, yang juga merupakan pelarian masyarakat kerajaan Majapahit yang mengalami serangan.

Pada saat itu penduduk Majapahit kebingungan untuk mencari tempat tinggal hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi dua bagian, yang pertama menuju ke Gunung Bromo, dan rombongan kedua menuju Pulau Bali.

Gunung Bromo dipilih sebagai tempat pelarian karena dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma. Orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.

Diceritakan dalam cerita rakyat, pasca pelarian dari Kerajaan Majapahit pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger. Sebutannya Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya ‘Penguasa Tengger Yang Budiman’.

Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga ‘Tenggering Budi Luhur’ atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumah tangga belum juga dikaruniai keturunan.

Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widhi agar dikaruniai keturunan. Tiba-tiba muncul suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat. Bila kelak telah mendapatkan keturunan, maka anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya. Hingga pada akhirnya mereka memiliki 25 orang putra-putri, dengan anak bungsu bernama Raden Kusuma. Namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila harus mengorbankan Raden Kusuma ke dalam kawah gunung.

Hingga akhirnya pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger memutuskan untuk ingkar janji, hingga pada akhirnya Dewa menjadi marah dengan menimpakan malapetaka kepada seluruh masyarakat desa. Seketika itu juga suasana menjadi gelap gulita hingga pada akhirnya, kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Raden Kusuma anak bungsunya lenyap dari pandangan seketika terjilat selendang api, kemudian masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kusuma terdengarlah suara gaib.

”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Syah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan ritual kirim sesaji yang berupa hasil bumi kemudian dipersembahkan kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.”

Mulai saat itulah masyarakat Tengger selalu menjalankan upacara Kasada, sebagai rasa syukur mereka atas kedamaian yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi. Mereka berbondong-bondong datang ke kawah gunung Bromo untuk berkurban, dengan harapan mereka dijauhkan dari malapetaka serta diberikan kemakmuran.

Kasada Warisan Dunia
Dalam mengapresiasi tradisi masyarakat Tengger, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencatat dan meregistrasikan upacara Kasada dalam warisan kebudayaan tak benda Indonesia. Namun dalam perjalanannya, tidaklah mustahil Kasada akan didaftarkan pemerintah dalam warisan kebudayaan tak benda dunia yang digawangi oleh UNESCO.

Adapun beberapa upacara adat dunia sudah didaftarkan, diantaranya Upacara adat Xooy dari Senegal, Upacara adat pembersihan anak laki-laki Lango dari Uganda, Upacara Nan Pa’ch dari Guatemala, Upacara Adat Rumah Suci Kangaba dari Mali, Upacara Mevlevi Sema dari Turki, serta Upacara Yamahoko dari Kyoto Jepang.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia mendaftarkan upacara adat Kasada sebagai warisan budaya mengingat tradisi tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Selain itu jika mengacu kepada syarat yang ditetapkan UNESCO, Upacara Adat Kasada sudah memenuhi kriteria diantaranya traditional, contemporary and living at the same time (tradisional, kontemporer, dan hidup pada saat yang sama).

Juga Inclusive (berkontribusi untuk memberikan rasa identitas dan kontinuitas serta menyediakan hubungan dari masa lalu); Representative (tumbuh subur pada dasar dalam masyarakat); serta Community-based (berbasis masyarakat). Tentunya hal tersebut juga disertai dengan acuan dan respon pemerintah Indonesia ketika melihat Upacara Kasada sebagai peluang dalam memberikan sumbangsih pada wasisan budaya dunia. (rba)

Add Comment