Wima Brahmantya dan Purnama Seruling Penataran

foto
Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar sukses menggelar PSP. Foto: Wikipedia

BLITAR – Menghidupkan kembali suasana kerajaan-kerajaan di zaman keemasan Nusantara terdengar sangat mustahil dilakukan pada saat ini. Namun ditangan Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar (DKKB), agaknya hal tersebut tak mustahil dilakukan.

Melalui sebuah pagelaran budaya bertajuk Purnama Seruling Penataran (PSP), Wima Brahmantya bersama seluruh pengurus DKKB berhasil mendapatkan apresiasi masyarakat internasional karena dianggap mampu menghidupkan kembali warisan leluhur.

Baik itu benda peninggalan cagar budaya maupun tak benda, produk kebudayaan, seni, cerita dan spirit kebangkitan, yang tertimbun ratusan tahun lamanya.

Menurut Wima kepada TimurJawa.com, ide penyelenggaraan PSP ini berawal dari obrolan ringan bersama Ray Sahetapy di Candi Panataran.

“Waktu itu Ray sedang gandrungnya main seruling, dan kemana-mana bawa seruling bambu. Dari situ muncul gagasan pagelaran budaya di Candi Panataran dengan meniup seruling di malam purnama,” papar Wima.

Enam bulan kemudian pagelaran budaya pertama diadakan dengan nama Purnama Seribu Seruling dengan keberadaan 1.000 pelajar yang meniup seruling bersamaan sebagai simbol bangkitnya spirit kenusantaraan, tepatny apa di bulan Oktober 2010, imbuhnya.

Penyelenggaraan PSP ini mengingatkan kembali kita pada tradisi masyarakat Indonesia kuno yang seringkali berkumpul setiap malam purnama. Beberapa dari mereka biasanya mengisi malam purnama tersebut dengan bermain seruling bambu.

Menurut Wima, secara filosofis PSP merupakan sebuah persembahan kepada Sang Pencipta sebagai ungkapan rasa syukur. Salah satu wujud rasa syukur tersebut adalah dengan memelihara bumi ini sebaik-baiknya.

“Itulah akhirnya muncul slogan Purnama Seruling Penataran sebagai Panggung Persaudaraan dan Perdamaian Dunia,” jelasnya.

Ditambahkan, tujuan penyelenggaraan PSP tak lain agar masyarakat Indonesia bisa mengenal kembali budayanya, kemudian mencintainya, kemudian melestarikannya, dan kemudian mengembangkannya.

“Selain itu, dengan PSP kita mampu membangkitkan spirit sebagai bangsa besar yang akan selalu terdepan dalam mewujudkan persaudaraan dan perdamaian dunia,” lanjut penerima penghargaan Person of The Year dari JawaPos 2012 ini.

Masih menurut Wima, dipilihnya Candi Penataran s bagai lokasi penyelenggaraan PSP bukanlah tanpa alasan. “Candi Panataran dipilih karena popularitasnya yang melebihi puluhan candi lainnya di Blitar, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengangkatnya,” katanya.

Selain itu Candi Penataran merupakan sebuah pusat spiritual kerajaan-kerajaan Jawa Kuno yang seringkali dijadikan sebagai tempat pendharmaan raja-raja besar Nusantara. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dibumikannya jasad raja-raja Nusantara seperti Ken Arok, Anusapati, Ranggawuni, RadenWijaya, hingga Presiden Sukarno yang didharmakan di seluruh penjuru Blitar, imbuhnya.

Candi “Palah” Penataran
Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra atau yang dikenal dengan nama Kertajaya yang memerintah kerajaan Kadiri mulai tahun 1194-1222.

Candi yang memiliki nama asli Candi Palahini, telah melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari dan Majapahit.

Hal tersebut dibuktikan dengan dijadikannya tempat itu sebagai tempat pendharmaan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari pertama dan pemujaan kepada Sang Hyang Acapat (perwujudan Dewa Siwa) oleh Hayam Wuruk yang dituliskan Mpu Prapanca dalam kitab Negarakertagama.

Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi kerajaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai tempat pengangkatan para raja dan tempat untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.

Masih dalam kitab yang sama, yaitu Negarakertagama, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja serta petinggi kerajaan besar di Jawa Timur.

Candi Penataran pernah menyimpan abu dari Raja Kertarajasa Jaya wardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama ‘Sumpah Amukti Palapa’, diucapkan di kompleks area CandiPenataran.

Selain itu, Candi Penataran merupakan salah satu candi di Indonesia yang kaya dengan corak relief, arca dan struktur bangunan yang bergaya Hindu.

Adanya pahatan Kala (raksasa), arca Ganesha (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi sakral Hindu yang seringkali digunakan untuk ritual penguasa kerajaan-kerajaan Nusantara.

Pagelaran Seni
Dalam penyajian pagelaran seni, PSP memiliki komposisi tetap dalam menampilkan pertunjukkan seperti halnya kesenian Blitar, kesenian Nusantara, kesenian Internasional, dan sendratari persembahan DKKB sendiri.

Bahkan seringkali dalam penyajian pertunjukkan, PSP mengangkat kisah pada relief-relief di Candi Panataran seperti kisah Panji, Bubhuksah dan Gagang Aking, atau Sri Tanjung.

Namun agar setiap pertunjukan memiliki spirtit dan kesan tersendiri, variabel tema yang ditampilkan dalam PSP selalu berbeda. Sehingga banyak dari penikmat PSP enggan melewatkan pertunjukan yang diselenggarakan secara periodik setiap triwulan ini.

Menurut Wima, tema yang ditampilkan dalam PSP sangat beragam. Kadangkala menampilkan pertunjukan secara tematik seperti ‘Garudayana’ dalam memperingati 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka.
Bahkan mereka tak jarang menciptakan branding tersendiri seperti pertunjukan dengan tema ‘Bhumi Laya IkaTantra Adi Raja’ yang memiliki arti ‘Bumi Persemayaman Raja-Raja Merdeka’.

“Hingga kini berhasil menjadi ikon dari spirit pembangunan pemerintah Kabupaten Blitar,” jelas penerima penghargaan International Tour film Academy Award 2015 di Polandia ini.

Layaknya zaman kerajaan di masa lalu, pertunjukan di pelataran Candi Penataran ini juga menampilkan berbagai kesenian yang dibawakan seniman negara-negara sahabat.

Nama-nama seperti Rodrigo Parejo (Spanyol), Tony Yap (Australia), Ronnarang Khampa (Thailand), Khuan Nam (Malaysia), Mazurka (Polandia), Tanieco (Slovakia), Kanoko (Jepang), Victor (Mexico), Charlotte Simmonuti (Perancis) dan Aron (Mozambique), adalah sedikit nama seniman dari enam benua yang pernah menampilkan kesenian asli mereka di PSP.

Selain itu, berbagai kesenian Nusantara juga pernah ditampilkan dalam PSP. Kesenian Sasan do Flobamora (NTT), Seruling Sakuhaci (Makassar), Musik Sahala Medan (Tapanuli), Tari Saman (Aceh) dan Tari Ampus Kauma (Kalimantan Barat), adalah sedikit pula kesenian Nusantara yang dipertunjukkan dalam pertunjukan yang telah berlangsung selama 6 tahun terakhir itu.

PSP dapat dikatakan sebagai etalase mini peradaban dunia. Pesan persaudaraan dan perdamaian dunia disuarakan dari Blitar, sebuah wilayah kecil di ujung selatan Jawa Timur, terwujud dalam sajian PSP.

Hal ini makin menunjukkan jika pengaruh kekuasaan kerajaan di Indonesia seperti halnya Kerajaan Majapahit yang menguasai hamper sebagian wilayah Asia-Afrika-Australia diwujudkan dalam bentuk damai, tidak melalui jalan perang.

Mereka beramai-ramai menaklukkan diri mereka untuk tunduk dibawah konstitusi Kerajaan Majapahit yang terkenal mampu membawa dunia ke jalan persaudaraan, kesejahteraan dan perdamaian. (rba)

Add Comment