Candi Penampihan, Barometer Air Bawah Pulau Jawa

foto
Candi Penampihan di Tulungagung disebut-sebut sebagai barometer air bawah Pulau Jawa. Foto: pesona-tulungagung.ga

TULUNGAGUNG – Satu lagi cagar budaya dalam bentuk candi dari ratusan candi yang tersebar di Jawa Timur menyimpan sebuah cerita, menarik untuk dieksplore, yaitu Candi Penampihan yang berada di lereng Gunung Wilis, tepatnya berada di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung.

Candi yang dibangun sebagai tempat pertemuan dan pemujaan kepada Sang Hyang Wenang ini memiliki beberapa keunikan seperti yang diceritakan oleh sang juru pelihara situs, Winarti.

Menurut Winarti, Candi Penampihan dibangun pada tahun 898 masehi yang artinya pada saat itu candi ini dibangun pada saat Kerajaan Kadiri belum berdiri, atau juga dapat dikatakan pada saat Mataram kuno berkuasa di era pemerintahan Dyah Balitung.

“Candi ini berdiri sudah melewati 4 kerajaan besar pulau Jawa, Mataram Kuno, Kediri, Singosari, hingga Majapahit, dan diperuntukkan sebagai tempat pemujaan. Sehingga Candi ini dapat dikatakan sebagai saksi bagaimana rumitnya perebutan kekuasaan pada saat itu,” lanjut juru pelihara yang sudah bekerja mulai tahun 1978 ini.

Masih menurut Winarti, salah satu yang menjadi pertanda hadirnya Candi Penampihan adanya Prasati Tinulat. Dalam prasasti itu disebutkan tentang Nama-nama raja Balitung, serta seorang yang bernama Mahesa Lalatan, dimana sejarah lisan maupun artefak belum bisa menguaknya.

“Selain itu di dalam prasati ini juga disebutkan tentang seorang putri yang bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri,” katanya kepada timurjawa.com.

Uniknya selain menyebutkan kesejarahan, prasasti berangka tahun 1269 M ini juga memberikan informasi tentang Catur Asrama yaitu sistem sosial masyarakat era itu dimana pengklasifikasian masyarakat (stratifikasi) berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu Brahmana, Satria, Vaisya dan Sudra.

Selain itu, dapat diketahui pula dalam prasarti ini, bahwa Candi Penampihan selalu dihubungkan dengan tokoh Kertanegara, yang pada zaman Kerajaan Kediri terdapat beberapa perubahan upacara keagamaan hingga segala upacara agama tentang makhluk yang mati akan dihidupkan kembali.

Kondisi Candi
Candi dengan corak Hindu ini memiliki 3 teras dengan posisi Candi utama terletak di bagian paling atas. Bentuknya seperti timbunan padi sebagai perlambang kemakmuran.

Candi lain bentuknya seperti kura-kura yang dikelilingi arca naga. Menurut Winarti, bentuk kura-kura adalah perlambangan wujud Dewa Wisnu, sebagai perwujudan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun sayangnya kini kondisi Candi Penampihan tampak tidak terawat. Awalnya di atas candi ada arca Bima namun kini sudah hilang. Dulunya juga ada arca Dwarapala namun arca tersebut juga hilang di tahun 2000-an.

Di sebelah utara dulu ada relief hewan-hewan yang hidup di daerah ini seperti kera, burung, ular, ayam hutan, babi hutan, hingga macan. Ada juga relief yang bercerita tentang tiga ekor gajah untuk membajak. Namun sekarang relief tersebut sudah dipindahkan di Musem Trowulan, Mojokerto, untuk keamanan.

“Mayoritas beberapa situs di sini sudah hilang dan yang lainnya dipindahkan ke musem Mojokerto agar aman”, ujar perempuan yang telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1983 itu.

Barometer Air Pulau Jawa
Satu hal yang sangat unik dan tidak dimiliki candi manapun, di Candi Penampihan terdapat 2 kolam kecil yang bernama Samudera Mantana (pemutaran air samudera), di mana menurut pengamatan empiris selama berpuluh-puluh tahun oleh Winarti, kolam-kolam tersebut merupakan indikator barometer keadaan air di Pulau Jawa.

Dikatakan, kolam yang sebelah utara merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian utara, dan kolam sebelah selatan merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian selatan.

“Apabila sumber air di kedua kolam tersebut kering berarti keadaan air dibawah menderita kekeringan, sebaliknya bila kedua atau salah satu kolam tersebut penuh air berarti keadaan air di bawah sedang banjir,” jelas Winarti.

Penuturan Winarti tersebut bukan tanpa alasan, dijadikannya kolam di Candi Penampihan sebagai barometer air Pulau Jawa sebagaimana tertulis dalam prasasti, dimana pada saat itu terjadi peristiwa pemutaran air yang juga menyebabkan Gunung Wilis yang dulunya adalah gunung aktif, sekarang menjadi tidak aktif lagi akibat diredam oleh air laut akibat peristiwa Samudra Mantana yang diabadikan menjadi nama kolam di Candi Penampihan. (bra)

Add Comment