dr Faida: Pelestarian Budaya Tanggung Jawab Bersama

foto
Ketoprak Humor oleh Himpuni usai pagelaran di Balai Budaya Surabaya. Foto: FB dr Faida MMR.

Bupati Jember dr Faida MMR menyatakan berbagai lapisan masyarakat perlu didorong untuk ikut melestarikan seni budaya karena pelestarian seni budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab seniman dan budayawan.

“Melestarikan seni budaya merupakan tanggung jawab semua pihak. Bukan semata tanggung jawab seniman dan budayawan saja,” katanya usai tampil dalam pentas Ketoprak Humor di Balai Budaya Surabaya, Jumat (25/11) lalu.

Ditemui usai ikut pentas ketoprak humor yang digelar Himpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) ia menjelaskan bahwa dirinya sebagai kepala daerah juga termasuk ikut bertanggung jawab dalam melestarikan seni dan budaya.

Oleh karena itu, katanya, dirinya bersedia memerankan Anita Dewi dalam pementasan ketoprak humor itu.

“Termasuk kita sebagai kepala daerah. Apalagi kalau kita terlibat langsung main sendiri, otomatis akan memahami sejarah kerajaan-kerajaan di negeri kita. Supaya kebijakan-kebijakan kita nantinya tidak lepas dari adanya sejarah, tidak lepas dari dari pengembangan seni dan budaya,” tuturnya seperti dikutip Antara Jatim.

Dalam pementasan bersama rekan-rekannya di Himpuni malam itu, dalam lakon Ketoprak Humor berjudul “Menyatukan Kembali Nusantara”, alumnus Faktultas Kedokteran Unair tahun 1994 ini tampil pada sesi kedua.

Berseting tahun 1.000 Masehi, mengisahkan Kerajaan Medang Mataram yang dipimpin Prabu Airlangga, dalam upayanya menyatukan Dwipantara, yang pada kala itu terbagi atas kekuasaan Sriwijaya di wilayah barat dan Medang Mataram di wilayah timur.

Sosok Anita Dewi yang diperankan Faida merupakan permaisuri Prabu Airlangga (pada pementasan ini diperankan Rektor Unair Prof M Nasih), dikisahkan sangat berperan besar dalam keberhasilan menyatukan bumi nusantara di era sebelum Kerajaan Majapahit.

Menurut Faida, sebelum pementasan bersama Ketoprak Himpuni ini, pada masa kecilnya dulu sudah akrab dengan kesenian.

Putri ketiga dari lima bersaudara yang tumbuh sebagai keluarga dokter ini mengaku selama dua belas tahun sejak usia SD hingga SMA, yang kebanyakan dihabiskan di Banyuwangi dan Jember, telah aktif sebagai seniman karawitan.

Selain juga penari, keahliannya pada waktu itu bersama kelompok karawitannya adalah penabuh bonang babok, perangkat utama ‘ansamble’ pada alat musik gamelan.

“Tapi itu dulu, sudah lama sekali, lebih dari 30 tahun saya gak pernah pentas lagi,” ucapnya.

Faida mengenang, berbagai pementasan yang pernah dilakoninya semasa kecil dulu, termasuk yang terakhir bersama Kelompok Ketoprak Humor Himpuni, sebenarnya punya misi silaturahmi nasional.

“Dengan pertunjukan seni, persatuan bisa lebih kuat. Nyatanya pada pertunjukan ketoprak malam ini, penontonnya datang dari berbagai kota. Ini silahturahmi melalui ketoprak,” ujarnya. (ist)

Add Comment