Sang Ksatrya Mahapurusha, Juara Naskah Wayang Airlangga

foto
Kisah Prabu Airlangga kini bisa disampaikan melalui wayang setelah ada lomba penulisan naskah wayang Airlangga. Foto: Humas Unair.

Naskah wayang berjudul “Sang Ksatrya Mahapurusa” karya Amri Bayu Saputra SSn terpilih sebagai yang terbaik atau juara I dalam Sayembara Penulisan Naskah Wayang Lakon Airlangga.

Sayembara terkait kisah Prabu Airlangga, Raja Kerajaan Kahuripan yang memerintah tahun 1009-1042 itu dilaksanakan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dalam memeriahkan peringatan Dies Natalis ke-62.

Pengumuman pemenang bersamaan dengan pementasan wayang kulit Airlangga dengan lakon “Airlangga Sumbaga Wiratama”, di halaman parkir Kampus B, Sabtu (19/11) malam.

Seperti dirilis Humas Unair, sayembara penulisan naskah wayang Airlangga dilaksanakan dalam rangkaian Festival Wayang Airlangga, dalam rangka Dies Natalis ke-62 Unair. Pagi hari sebelumnya diadakan seminar bertajuk ”Wayang Airlangga: Varian Baru dalam Jagat Pewayangan Indonesia” di Aula Siti Parwati FIB Unair.

Karena itu, sebelum pementasan “Airlangga Sumbaga Wiratama”, Rektor Unair Prof Dr Mohammad Nasih, SE MT Ak CMA langsung menyampaikan hadiah-hadiahnya kepada para pemenang sayembara penulisan naskah. Juara I sayembara ini memperoleh hadiah uang sebesar Rp 12 juta.

Dalam penilaian Dewan Juri yang diketuai Dr Sri Teddy Rusdy SH MHum antara nilai juara I dengan juara II hanya terpaut selisih nilai tipis sekali. Ini menunjukkan adanya kompetisi visi yang ketat.

Dari lima orang juri, Juara I mengumpulkan nilai 1.185. Sedangkan Juara II yang dimenangkan oleh Aneng Kiswantoro MSn memperoleh nilai 1180. Hanya berselisih 5 (lima) poin. Aneng Kiswantoro menulis naskah berjudul ”Sumilaking Medang Kahuripan”. Sedangkan juara III dimenangkan oleh Tatag Taufani Anwar dengan karya naskah berjudul “Airlangga Nurapati”.

Dengan demikian Amri, Juara I asal Kabupaten Sidoarjo ini, berhak atas hadiah uang sebesar Rp 12 juta. Sedangkan Juara II meraih hadiah uang sebesar Rp 10 juta, kemudian juara III menerima hadiah sebesar Rp 8 juta.

Menurut anggota dewan juri Dra Adi Setijowati MHum, yang juga Ketua Panitia Sayembara Penulisan Wayang Lakon Airlangga ini, sayembara ini diikuti 12 peserta dari berbagai daerah. Diantara peserta sayembara tersebut ada yang berprofessi sebagai dalang, seniman, sastrawan Jawa, serta peminat wayang.

Menurut kajian tim juri yang dipimpin Dr Sri Teddy Rusdy, keunggulan naskah Amri Bayu Saputra sebegai juara I karena beberapa pertimbangan. Misalnya, garapannya sederhana dan bertumpu pada pakeliran tradisi, kemudian ia menyertakan garapan sulukan wayang secara lengkap dengan partitur notasinya.

Amri juga menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ia bahkan juga menyertakan gendhing-gendhing iringan wayang.

”Dengan dasar garapan tradisi tersebut memudahkan bagi siapapun pengrawit (niyaga) untuk dapat mengiringi bentuk pakeliran, selain itu garapan tradisi secara pakem jangkep juga memudahkan bagi siapapun untuk mempergelarkannya lakon ini,” demikian kesimpulan dewan juri.

Seperti diketahui, sebelum diadakan sayembara penulisan naskah wayang lakon Airlangga ini, panitia juga telah menyelenggarakan diskusi. Wacana dalam diskusi ini dimaksudkan untuk membekali para calon peserta sayembara dalam menuliskan naskahnya. Dalam diskusi itu menghadirkan arkeolog dan sejarawan dari UI dan Unair.

Peran Dalang Menentukan
Sebelumnya dalam seminar dengan tema “Wayang Airlangga: Varian Baru Dalam Jagat Pewayangan Indonesia” dibahas kisah Prabu Airlangga yang akan dimunculkan untuk mengisi jagat pewayangan tanah air. Selain Airlangga merupakan raja pembaharu yang mashur di abad 12, lakonnya diharapkan bisa memberikan pelajaran bagi generasi sekarang. Melalui seminar diharapkan generasi muda akan lebih memahami dunia pewayangan dan menghargai kesenian tradisi.

Pembuat Wayang Airlangga Dr Sri Teddy Rusdy, yang juga Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta itu mengungkapkan, selama ini, pewayangan Indonesia masih berkiblat pada kisah Ramayana. Hal itulah yang kemudian menjadi alasan baginya untuk memilih lakon Airlangga.

“Saya mulai berpikir, bahwa Indonesia ini luas dan memiliki banyak jagat lakon peradaban. Karena kecintaan pada almamater pertama saya, maka saya gunakan lakon Airlangga. Meski demikian lakon Airlangga ini untuk semua bangsa Indonesia,” jelasnya.

Hadir sebagai pembicara pertama, dalang kondang Sujiwo Tejo menjelaskan terkait fenomena generasi muda yang meninggalkan wayang. Baginya, bukan salah pemuda yang meninggalkan wayang, tapi peran dalanglah yang menjadi penentu wayang bisa diterima generasi muda.

Prof Kasidi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta lebih menyoroti beragam varian wayang yang telah meramaikan jagat nusantara. “Wayang itu diikuti oleh siklusnya. Varian baru itu muncul mengacu bahwa sebelumnya telah beredar wayang-wayang lainnya,” jelasnya.

Pemerhati keris dan batik Prof Bambang Tjahjadi memaparkan materi terkait keberlangsungan wayang Airlangga di masa mendatang. Baginya, keberlangsungan wayang Airlangga juga harus didukung banyak pihak, termasuk sivitas akademika Unair.

“Inti dari pelestarian adalah membangun komunitas. Kita harus bangun paguyuban. Kita lihat saja, kalau paguyuban jalan, wayang ini bakal lestari,” tegasnya. (ist)

Add Comment