Dari Desa di Madiun: Meruwat Diri, Merawat Negeri

foto
Ruwatan massal digelar di Padepokan Seni Kirun di Desa Bagi, Madiun. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Tiga ratus sukerta (orang yang akan diruwat) melapisi tubuh mereka dengan kain mori putih. Bersama rombongan kesenian dongkrek dan sesepuh masyarakat, para sukerta melakukan kirab budaya menuju lokasi prosesi ruwatan. Jaraknya sekitar 500 meter. Dalang ruwat telah menunggu, siap menyuguhkan Ruwatan Murwakala.

Ruwatan massal ini digelar oleh Padepokan Seni Kirun (Padski) milik seniman dan pelawak Syakirun atau Kirun, di Desa Bagi, Madiun, Jawa Timur. Kegiatan diadakan lewat kerjasama dengan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Masa Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dung, dung, dung… suara beduk memecah suasana pagi, mengundang warga kampung bergabung. Krek, krek, krek… suara korek menyahut riuh. Korek adalah sejenis alat musik kayu yang diputar-putar dan melahirkan bunyi “krek” sangat keras. Bebunyian lain seperti saron, kenong, dan gong membuat pertunjukan makin meriah.

Dongkrek tak sekadar pelengkap, tetapi menyatu dalam prosesi ruwatan karena kesenian itu dipahami sebagai pengusir kejahatan, kemungkaran, dan hal-hal buruk lainnya. Dongkrek, dari kata dong dan krek, merujuk pada bunyi dung pada beduk dan krek pada korek.

Bebunyian dongkrek mengiringi gerakan empat orang yang mengenakan topeng buto, perlambang angkara murka. Dongkrek juga mengiringi tarian topeng orang tua, lambang pemimpin bijaksana. Ada pula topeng perempuan menggendong anak atau nenek, perlambang kasih sayang dan bakti.

Ruwatan tersebut merupakan bagian dari hajatan Gelar Budaya Purnama Sura, yang juga menyuguhkan pertunjukan dongkrek serta wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Wiratha Parwa, Sabtu (22/10) lalu.

Adapun acara yang diselenggarakan secara lengkap meliputi Kirab Budaya, sungkeman, pasrah (penyerahan sukerto), prosesi ruwatan yang diiring dengan pagelaran wayang kulit, potong rambut dan siraman, larung sukerto dan pada malam harinya pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Kegiatan diawali Kirab Budaya dengan membawa gunungan berupa sesaji dari jalan utama menunju Padepokan Seni Kirun, kemudian prosesi penyerahan dan diterima secara langsung Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kemdikbud, Sri Hartini.

Rambut dipotong
Prosesi ruwatan dimulai dari wayang ruwat Murwakala selama tiga jam dengan dalang Ki Gutoyo Cermo Sudarmo. Setelah itu, para sukerta sungkem kepada orangtua masing-masing, rambut mereka dipotong sebagian, lalu dimandikan. Memotong sebagian rambut mengingatkan pada kelahiran, sedangkan memakai mori putih mengingatkan pada kematian.

Ruwatan Murwakala dipahami sebagai ritual untuk menghilangkan pengaruh negatif dalam diri yang mungkin terbawa saat lahir, atau karena perilaku keliru, yang menyebabkan rasa waswas, gelisah, dan tak percaya diri.

Dua remaja, lulusan D-3 dan SMA, ingin diruwat demi meraih masa depan yang cerah, mendapat pekerjaan layak, serta dijauhkan dari kesialan.

Ruwatan telah menjadi tradisi yang dipraktikkan secara turun-temurun di Jawa. Di dalamnya, terkandung petuah dan harapan untuk menjadi seorang yang lebih baik.

Ajaran warisan leluhur di daerah-daerah sebetulnya bisa diterapkan di mana saja. “Kearifan di Jawa, bukan hanya untuk Jawa, tetapi bahkan bisa untuk dunia,” tutur G Hardjito, pengurus Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan YME Kabupaten Madiun.

Kegiatan tradisi yang bersifat renungan seperti ruwatan ini juga menjadi momen untuk mengevaluasi hidup. “Eling lan waspodo. Waspodo itu terjaga, cermat, awas terhadap godaan yang menyesatkan,” kata Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi Sri Hartini.

Sri Hartini menyampaikan bahwa peserta yang datang dan mengikuti ruwatan sudah mengetahui tentang nilai makna kehidupan dari tradisi ruwatan itu sendiri. Dikatakan tradisi Sukerto ini adalah untuk membersihkan diri dari hal-hal atau sesuatu yang menghambat dalam kehidupan secara pribadi dan nilai yang paling tinggi dari ruwatan adalah membersihkan diri dari sukerto.

Dimana sukerto dianggap bahwa seorang anak yang baru lahir masih ada sukertonya sehingga harus diruwat atau dibersihkan sehingga akan mendatangkan nilai kehidupan yang baik dalam kehidupan yang akan datang.

Sri Hartini juga menambahkan bahwa masyarakat bisa menilai sendiri, apakah perlu mengikuti ruwatan atau tidak. Pemerintah dan negara diharapkan turut hadir dalam rangka ikut serta melaksanakan proses pelestarian nilai-nilai tradisi lewat tradisi ruwatan.

Soal tradisi dan agama, Sri Hartini mengatakan tidak perlu dipersoalkan karena tradisi sudah ada sejak nenek moyang. Tradisi dan budaya tidak boleh disamakan dengan agama, tetapi ada benang merah antara keduanya yaitu bagaimana transformasi nilai-nilai yang baik antara tradisi dan agama yang menjadi modal dasar dalam kehidupan.

Sri Hartini berharap kegiatan ruwatan para sukerto atau peserta yang mengikuti ruwatan mendapat ridho dari Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga apa yang mereka harapkan dalam kehidupan dapat terwujud.

Merawat negeri
Pada malam hari digelar wayang kulit semalam suntuk. Mendikbud Muhadjir Effendy menghadiri pagelaran bersama Bupati Madiun Muhtarom dan Bupati Ngawi Budi Sulistyono, beserta staf serta pelawak-pelawak kawakan tanah air seperti Gogon, Marwoto dan Yati Pesek.

Mendikbud menyampaikan bahwa ruwatan diri juga merupakan simbolisasi dari ruwatan negeri. Ruwatan ini menjadi pernyataan simbolik dari tradisi yang kita warisi secara turun menurun. “Tradisi adalah bagian dari kebudayaan yang harus kita lestarikan,” kata Muhadjir Effendy.

Mendikbud juga menyinggung pentingnya pelestarian tradisi seperti ruwatan. Lebih lanjut, Mendikbud mengajak masyarakat mengembangkan agar tradisi yang dijalankan dapat menggairahkan ekonomi misalnya dengan meningkatkan pariwisata. Jadi, pelestarian tradisi akan berdampak positif ke segala arah.

Ruwatan sejatinya adalah simbol agar manusia selalu mawas diri, membersihkan diri dari keburukan. Jika setiap orang sadar untuk mawas diri, kehidupan berbangsa dan bernegara akan tenteram.

“Tiap hari sebetulnya kita meruwat negara, menyelesaikan masalah- masalah kenegaraan. Ruwatan jadi pernyataan simbolik, sekaligus bagian dari tradisi secara turun-temurun,” kata Muhadjir. (sak/sumber: Kompas)

Add Comment