Menyelami Sosok Ken Dedes dari Sebuah Tarian

foto
Tari Bedhaya Ken Dedes saat ditampilkan di acara Pekan Budaya Indonesia, September 2016 lalu. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Sekelompok penari berbalut busana kuning emas lengkap dengan aksesorisnya berjalan perlahan memasuki panggung pembukaan Pekan Budaya Indonesia di Malang. Di sisi kiri para pengrawit dengan khusyuk memainkan gamelan mengiringi gemulai lembut gerak sang penari.

Seniman yang terdiri dari Komunitas Penari dan Pemusik Malang ini menyajikan sebuah pertunjukan yang bernama Tari Bedhaya Ken Dedes. Tarian ini diciptakan pada 2013 atas permintaan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang.

“Saat itu Disbudpar Kabupaten Malang yang dipimpin Bu Ratna meminta saya membuat tarian. Ikon Kabupaten Malang Beautiful of Ken Dedes, sehingga itulah saya coba menerjemahkan sosok Ken Dedes,” ujar Tri Wahyuningtyas, pencipta Tari Bedhaya Ken Dedes saat ditemui di belakang panggung, awal September lalu.

Berbeda dengan tari Bedhaya khas Mataram yang memiliki bermacam-macam syarat untuk para penari saat tampil, tarian khas Malang ini hanya mensyaratkan kepekaan rasa para penari.

“Hubungan dengan rasa, unsur penjiwaan, unsur bagaimana dia menangkap sosok Ken Dedes seperti apa, baik berupa fisik, raga, maupun spiritual itu yang sangat penting,” jelas sang koreografer.

Dipilihnya sosok Ken Dedes bukan hanya karena ikon Malang. Ken Dedes adalah perempuan yang diberi anugerah dewata sebagai nareswari. Ia dianggap istimewa karena telah menurunkan raja-raja Nusantara. Hal tersebut membuktikan bahwa perempuan dapat setara dengan laki-laki.

Ken Dedes sebagai putri seorang bathara tentu memiliki kepekaan spiritual cukup tinggi. Konsep Manunggaling Kawula Gusti yang artinya menyatunya manusia dengan Sang Maha Pencipta senantiasa diusungnya.

Sehingga sebagai manusia harus sadar bahwa masih ada yang menciptakan. Dalam tari Bedhaya Ken Dedes, hal tersebut digambarkan dari bentuk pola lantainya.

Saat tampil, formasi penari membentuk poros papat kiblat lima pancer dengan satu orang berada di tengah dan penari lain membentuk empat poros.

Empat poros melambangkan kekuatan dunia yakni api, air, udara, bumi, sedangkan satu orang di tengah sebagai pancer melambangkan bahwa sumber seluruh kekuatan berasal dari Pencipta.

Dari konsep bentuk ini, Ken Dedes dianggap cocok menjadi panutan para perempuan. Meskipun secantik dan semolek apapun ia tetap rendah diri dihadapan Sang Pencipta, namun dapat melahirkan pemimpin-pemimpin kerajaan. (sak/sumber: Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Add Comment