Tandon Air Raksasa di Perut Gunung Penanggungan

foto
Sketsa tandon air raksasa di perut Gunung Penanggungan. Foto: Sketsa Nonot Sukrasmono.

Gunung Penanggungan, 1.653 meter dari permukaan laut (mdpl) yang terletak di Kabupaten Mojokerto sisi barat dan Kabupaten Pasuruan sisi timur memiliki ratusan peninggalan purbakala. Patirtan Jolotundo, sebagai salah satu situs peninggalan purbakala di gunung Penanggungan menurut beberapa pengunjung, memiliki kekuatan magis yang cukup besar.

Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra tergolong gunung yang memiliki bentuk yang unik. Keunikannya ditengarahi dengan adanya 8 bukit (anak gunung) yang keberadaannya melingkar dengan puncak Penanggungan ditengah–tengah.

Susunan lingkungan tertata berselang–seling, tinggi-rendah / besar dan kecil, sehingga penampang Gunung Penanggungan selalu nampak sama bila dipandang dari delapan penjuru mata angin.

Keberadaan Gunung Penanggunan yang demikian itu menurut konsep atau Doktrin Cosmogoni Brahman Hinduisme atau Jawaisme, merupakan MINIATUR JAGAD RAYA. Mandala di tengah– tengah dengan dikelilingi 7 Samudera dan 7 Benua.

Merupakan MAHA MERU dengan MANDALA ALAMI. Delapan bukit besar kecil secara berseling-seling tersebut adalah:
Empat Bukit tinggi:
– Bukit Bekel Bekel, berketinggian 1.260 mdpl
– Bukit Gajah Mungkur, berketinggian 1.089 mdpl
– Bukit Kemucup, berketinggian 1.238 mdpl
– Bukit Sarahklopo, berketinggian 1.235 mdpl

Empat Bukit kecil:
– Bukit Jambe, berketinggian 745 mdpl
– Bukit Gambir, berketinggian 588 mdpl
– Bukit Wangi, berketinggian 987 mdpl
– Bukit Bende, berketinggian 1.015 mdpl

Di kawasan hutan Gunung Penangungan, disamping tumbuh / ditanam pohon-pohon umum strandra Perhutani seperti pohon Jati, Mauni, Sono dan Sengon, juga tumbuh pohon-pohon khusus yang mungkin sebagian tidak ditemui di hutan lain.

Pohon-pohon tersebut sudah mulai langka, antara lain pohon Andi-Andi, pohon Kemloke, pohon Rawu, pohon Awar-Awar, pohon Kepi-Kepian, pohon Sambi Kelet, pohon Awisan, pohon Keposo, pohon Sambitan, pohon Badut, pohon Klakar, pohon Sambung Got, pohon Beendo, pohon Kopi, Lanang pohon Saratan, pohon Berasan, pohon Lantong.

Ada pohon Segawe, pohon Bondo, pohon Manisan, pohon Senu, pohon Bruyem, pohon Manisan, pohon Srigalak, pohon Buluh, pohon Manting, pohon Sriwil, pohon Gamal, pohon Marasan, pohon Suren, pohon Gembiril, pohon Mtosari, pohon Susen, pohon Glingsem, pohon Muring, pohon Trawasan, pohon Gondang, pohon Ngigas, pohon Truncum, pohon Grawang, pohon Nogosari, pohon Truncum Abang, pohon Jambe Wiji, pohon Oyot Got, pohon Truncum Prutih, pohon Jenglot, pohon Oyot Jelun, pohon Tutup Abang,

Juga pohon Jirak, pohon Oyot Putih Kulit, pohon Tutup Putih, pohon Kasian, pohon Pacar, pohon Tutup Putih, pohon Katil, pohon Pancal Kidang, pohon Walik Lar, pohon Kawang, pohon Peh Kecik, pohon Wangkal, pohon Kedutan, pohon Penjalinan, pohon Wineng, pohon Kelangan Gebang, pohon Purwosari, pohon Wiyu, pohon Kemiri, pohon Putihan, dll.

Konon, di dalam Perut gunung Penanggungan terdapat sumber mata air purba yang tidak dapat dideteksi ujung pangkalnya. Dan di sela sela kedelapan bukit di Gunung Penanggungan sepanjang musim penghujan merupakan area resapan yang menarik air di permukaan masuk ke dalam perut gunung.

Proses yang berlangsung selama ribuan tahun ini telah membentuk tandon air raksasa yang merupakan percampran sumber air purba dan resapan dari air hujan yang memasok air ke Patirtan Jolotundo.

Salah satu pelukis Jawa Timur, Nonot Sukrasmono mengatakan bahwa bentuk tandon air di perut Gunung Penanggungan tersebut nampak seperti “cawang”.

Setelah menggunakan penerawangan lewat mata batinnya, Nonot menggoreskan pensil dalam kertas putihnya saat dilaksanakan kegiatan pembuatan film dokumenter Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo oleh Dewan Kesenian Jawa Timur, Agustus 2016 lalu.

Menurut Gatot Hartoyo, penulis buku Patirtan Jolotundo, pohon-pohon yang tumbuh menyebar di hutan lindung, hutan preduktif dan pategalan, akarnya menghujam masuk dalam tanah menyentuh air di jalur-jalur resapan dan gorong-gorong, menyatu dengan air tandon perut gunung, keluar di sumber-sumber, termasuk sumber Patirtan Jolotundo.

Dan Dari hasil penelitian para ahli tentang air di Partitan Jolotundo disimpulkan bahwa ‘Air Patirtan Jolotundo’ memiliki kualitas yang sangat baik dan berbeda dengan sumber sumber mata air lainnya, bahkan beberapa orang menyatakan sumber mata air di Patirtan Jolotundo merupakan sumber mata air terbaik di dunia. (ist)

Add Comment