Festival Wayang ASEAN: Kolaborasi Budaya Serumpun

foto
Peserta Festival Wayang ASEAN usai pentas di Mojokerto. Foto: Tribunnews.com.

Dalam rangka memeriahkan ulang tahunnya ke-10, Asosiasi Wayang ASEAN (AWA) atau ASEAN Puppetry Association (APA) menggelar pentas kolaborasi wayang di Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (5/12/2016). Pentas kolaborasi dengan lakon Ramayana yang berlangsung selama hampir satu jam itu diikuti oleh grup wayang dari sembilan negara ASEAN.

“Kami juga menggelar sidang tahunan ketujuh dan festival wayang ASEAN. Kami tampilkan wayang ASEAN secara individual atau masing-masing negara, maupun pentas kolaborasi, yang salah satunya ditampilkan di sini,” ujar Sekretaris Jenderal AWA/APA Suparmin Sunjoyo.

Sebelum menggelar pentas kolaborasi di Pesantren Tebuireng, tambah Suparmin, pihaknya telah menggelar pentas serupa di Mojokerto. “Rangkaian kegiatan sidang tahunan APA dan festival wayang dipusatkan di Mojokerto sejak 30 November lalu,” katanya.

Pentas kolaborasi di lingkungan pesantren ini juga untuk mengingatkan bahwa penyebaran Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kesenian wayang.

“Kita semua tahu bahwa penyebaran Islam, khususnya di Jawa, antara lain dilakukan melalui wayang, karena itu, kami mengharapkan juga lulusan Pesantren Tebuireng nantinya ada yang turut mengembangkan wayang ASEAN,” harap Suparmin.

Di tempat sama, Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng Abdul Ghofar menyambut baik pentas kolaborasi ini. “Harapan kita, pondok pesantren dan masyarakat Islam bisa meniru apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwah untuk menyiarkan Islam dengan halus, toleran dan tidak menimbulkan konflik dalam masyarakat,” ungkapnya.

Menurut pria yang akrab dipanggil Gus Ghofar ini, dalam menyiarkan Islam, Sunan Kalijaga juga menciptakan karakter Punakawan. Dan karakter itu hanya ada dalam pewayangan Indonesia. “Tidak tertutup kemungkinan, di tempat lain juga ada kearifan lokal yang bisa diangkat dalam karakter pewayangan untuk menyiarkan Islam,” ungkapnya.

Pentas kolaborasi ini menampilkan para artis dari sembilan negara. Yaitu, Anucha Sumaman (Thailand), Pangna Phranakhone (Laos), Mann Kosal, dan Sang Thorn Chek (Kamboja), Kamarudin HJ Othman (Brunei Darussalam), Donarose Marzan, dan Kiarra Poblacion (Philippines).

Juga ada Tin Tin Oo, Thet Thet Htwe Oo, dan Myint Mo (Myanmar), Suzlaifan Sulaimin (Singapore), Bui Duy Hieu, Nguyen Hong Phong, dan Nguyen Ngoc Triu (Vietnam), dan Wahyu Dunung Raharjo, Bimo Sinung Widagdo, dan Santi Dwisaputri (Indonesia).

Usai pementasan, seluruh delegasi AWA/APA juga diajak untuk melakukan ziarah ke makam Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pentas di Mojokerto
Sebelumnya pada hari Jumat (2/12) di Pendopo Graha Majatama Pemkab Mojokerto, pertunjukan seni multiwarna negara-negara rumpun Asia Tenggara itu digelar. Acara ini membius para audience dengan aneka pertunjukan khas wayang negeri masing-masing.

Para delegasi wayang seperti duo Black Theatre (Filipina), Wayang Tali (Myanmar), Wayang Air (Vietnam), Wayang Golek Indonesia, berkolaborasi dengan tari khas Thailand, Khon. Suatu tari drama bertopeng yang diadaptasi dari epik Ramayana, lengkap dengan Shinta dan Hanuman.

“Festival Wayang ASEAN kita gelar mulai 30 November hingga 6 Desember 2016. Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran identitas budaya. Kita juga menjaga kepercayaan dunia, yakni banyaknya budaya Asia Tenggara yang sudah diakui UNESCO,” ujar Suparmin Sunjoyo.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Jarianto mewakili Gubernur dalam menjelaskan tentang perkembangan wayang di Indonesia dan menyebut perkembangan wayang paling baik di Indonesia bisa ditemukan di Jatim.

“Kabupaten Mojokerto sudah terkenal di dunia karena riwayat agung Kerajaan Majapahit. Event ini menjadi satu contoh jika kita mampu menjadi tuan rumah event budaya tingkat internasional,” tandasnya.

Wakil Bupati Mojokerto Pungkasiadi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mempercayakan Kabupaten Mojokerto sebagai tempat Festival Wayang ASEAN 2016.

“Bumi Majapahit yang kita huni ini merupakan tanah bersejarah, dimana 700 tahun lalu para leluhur kita berhasil menyatukan Nusantara hingga ke kawasan besar Asia Tenggara,” katanya.

Disebutkan bahwa di Mojokerto inilah cikal bakal persatuan Indonesia mulai dibicarakan dan direncanakan melalui Sumpah Palapa Patih Gajah Mada. “Atas nama pribadi dan Pemkab Mojokerto, terima kasih atas kepercayaan seluruh pihak penyelenggara, selamat datang dan menikmati keindahan Bumi Majapahit,” tutur Wakil Bupati. (ist)

Add Comment