Warga Stren Kali Surabaya Ritual Larung Sungai

foto
Warga Stren Kali Surabaya melaksanakan Larung Sungai. Foto: Antara.

Warga penghuni stren Kali Surabaya menggelar larung sungai yang dipusatkan di Kali Jagir, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Tak hanya dimaksudkan untuk menolak balak atau membuang sangkal, tradisi ini untuk saling mengingatkan agar senantiasa menjaga kebersihan sungai.

Mereka adalah penghuni stren di sepanjang kali yang mengalir membelah Kota Surabaya di lima kecamatan, yaitu Sukolilo, Gubeng, Wonokromo, Wiyung, dan Karangpilang. “Setidaknya perwakilan warga penghuni stren Kali Surabaya dari lima kecamatan itu hadir di sini,” ujar Said, sesepuh warga stren Kali Surabaya, awal Desember lalu seperti dikutip Antara.

Menurut Said, Larung Sungai di Kali Surabaya sudah menjadi adat atau kebiasaan bagi masyarakat setempat sejak lama. “Dulunya larung sungai semacam ini dilakukan oleh masing-masing individu warga di berbagai kampung sepanjang stren Kali Surabaya, dengan melarung sesajen seadanya sesuai dengan kemampuannya. Jadi melarungnya dilakukan sendiri-sendiri gitu, dengan waktunya juga gak bersamaan seperti sekarang ini,” terangnya.

Tahun 2002, penghuni stren Kali Surabaya membentuk Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya (PWSKS). Tujuannya agar warga penghuni stren turut merawat kebersihan Kali Surabaya. Maklum, kali yang menjadi bahan baku air bersih PDAM bagi seluruh warga Kota Surabaya itu kadarnya sudah dinyatakan tercemar parah.

Paguyuban yang menyatukan warga penghuni di sepanjang stren Kali Surabaya dari lima kecamatan itu sepakat untuk tidak buang sampah sembarangan ke dalam sungai.

Sejak itu pula pengurus paguyuban juga menonjolkan kearifan lokal larung sungai yang telah lama menjadi kebiasaan warga bantaran. Saat ini, PWSKS mencatat penghuni stren Kali Surabaya sebanyak 3.500 KK, dengan jumlah penduduk sekitar 18.000 jiwa.

“Untuk pertama kalinya Larung Sungai dilakukan bersama-sama dan terpusat di Kali Jagir sejak tahun 2003. Sejak itu Larung Sungai menjadi even budaya tahunan bagi warga di sepanjang stren Kali Surabaya dari lima kecamatan,” ucar Sekjen PWSKS Warsito.

Said menambahkan, Larung yang dipimpin Takirin selaku sesepuh sekaligus pembawa acara ritual Larung sesaji di Kali Brantas mengawali acara tersebut dengan membawakan tembang macapat “Dandang Gula dan Sinom Parijotho”.

Makna isi dan temang/gending tersebut memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa Penguasa Alam Semesta agar sealu memberi keselamatan kepada masyarakat stren Kali Brantas khususnya dan masyarakat Surabaya umumnya. Maka jadilah tumpeng setinggi dua meter dengan diameter satu meter yang dikumpulkan dari seluruh warga stren di lima kecamatan sebagai sesaji untuk dilarung di Kali Surabaya.

Waktu pelaksanaannya dipilih hari yang berdekatan dengan peringatan Hari Habitat Internasional. “Karenanya selain melarung sesaji, hari ini kita juga menabur benih ikan untuk meremajakan habitat yang ada di Kali Surabaya,” ucap Warsito.

Said menambahkan, larung sungai ini tak sekadar buang sangkal atau buang sial bagi warga stren Kali Surabaya. “Lebih dari itu, beginilah cara kita peduli lingkungan. Dengan menggelar tradisi ini setiap tahun, kita saling mengingatkan untuk terus menjaga kebersihannya. Sebab sungai ini adalah ibu kita yang memberi kehidupan, tak hanya bagi penghuni stren tapi juga bagi seluruh warga Kota Surabaya,” tuturnya.

Selain diadakan ritual melarung sesaji, mereka juga menabur benih ikan nila, lele dan patin untuk meremajakan habitat ikan-ikan tersebut bisa terus berkembang biak di Kali Brantas Surabaya. Acara dihadiri beberapa perwakilan dari PU Pengairan, Balai Besar Sungai Brantas, Perum Jasatirta dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur serta tokoh masyarakat. (ist)

Add Comment