Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (4): Sima Perdikan dan Tata Kelola Wilayah

foto
Lukisan rekaan tentang kegiatan di pelabuhan di masa silam. Foto: ist.

SETIAP daerah yang berstatus sima adalah sebuah desa yang sudah menjadi bagian penting dalam tata kelolah ekonomi sebuah kerajaan. Di wilayah Timur Jawa, terlebih pada masa Pemerintahan awal Kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya yang menggantikan Pemerintahan Kertanegara sebagai raja terakhir Singosari, pembenahan tata pemerintahan berbanding lurus dengan tata kelolah ekonomi.

Nagarakertagama yang lebih dikenal dengan Desawarnana karangan Mpu Prapanca mencatat perjalanan Raja Hayam Wuruk (1359 M), termasuk Pararaton (anonim) memiliki kerterdekatan bahasan tentang alur sejarah Singosari-Majapahit, menyebut desa (sima) yang berhubungan dengan raja dan aktifitas politiknya.

Dalam hal ini desa menjadi sebuah tolak ukur pembangunan ekonomi kerajaan, semakin banyak desa yang berstatus perdikan (sima perdikan) maka disitulah seorang raja berhasil mengembangkan pembangunan wilayah.

Walaupun belum bisa memprediksi jumlah sima perdikan yang ada dalam standarisasi berdirinya sebuah syahbandar, namun wilayah perdikan yang disebut dalam kitab kuno atau prasasti menjadi dasar adanya tata kelolah ekonomi pada setiap pemerintahan.

Dalam beberapa catatan sejarah klasik yang ada hingga saat ini, belum ada yang menuliskan tentang penutuan atau penghancuran sebuah syahbandar. Tata kelolah kota pelabuhan dari fasilitas publik berupa pemukiman pedagang asing, keberdaan Situs Leran (Bungah-Gresik) yaitu batu nisan Siti Fatimah binti Maimun (1082 M) yang sezaman Kerajaan Mataram Kuno Hindu atau 2 abad sebelum berdirinya Kerajaan Singosari (1222 M), menjadi bukti bahwa wilayah Timur Jawa sudah menjadi jalur perekonomian utama di wilayah Jalur Sutra.

Muncul pertanyaan, apakah proses Islamisasi belum berjalan?. Proses penerimaan budaya baru tentunya melalui proses komunikasi budaya dan tidak dengan cara instan.

Pada ranah ini menjadi landasan adanya komunikasi budaya dari masa pra-aksara (zaman megalithikum) sampai diterimanya pengaruh Hindu-Budha dari Gujarat India hingga berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa.

Keterbukaan komunikasi perdagangan di Timur Jawa abad X-XIV menjadi bukti bahwa proses komunikasi ekonomi kerajaan tidak bersifat kaku, meskipun hukum ekonomi terkait pengawanan wilayah dan sistem perpajakan berlaku tegas.

Akulturasi Budaya
Pedagang lintas samudra yang tentunya terdapat perbedaan religi (Islam, Hindu-Budha, Kong Hu Cu, dan sub-sub religi di wilayah Jalur Sutra) saling memperkenalkan budaya religi masing-masing. Pada ranah ini, komunikasi atau kontak budaya yang ada mendukung terjadinya akulturasi budaya.

Sima perdikan sebagai daerah yang memiliki otonomi dalam bidang ekonomi, tentu juga memiliki tingkat kemajuan budaya dari daerah yang belum berstatus perdikan.

Hal ini bisa kita kaitkan dengan keberadaan tokoh sastrawan atau pujangga dan agamawan yang memiliki peran penting dalam proses Indianisasi (masuknya kebudayaan Hindu-Budha) terhadap Kebudayaan Jawa Kuno.

Masyarakat pra-hindu atau pra-aksara yang kita sebut zaman Megalithikum (Kebudayaan Batu Besar di akhir era Neolithikum) sudah mengenal agama leluhur, melakukan “komunikasi” dengan roh nenek moyang dan memaknai benda-benda yang memiliki berkekuatan gaib (animism dan dinamisme), sebagai bukti adanya Menhir, Sarkofagus, Dolmen, dll.

Hal ini sebagai bukti adanya proses pedidikan dari seorang tokoh agamawan yang juga Kepala Suku/ Sesepuh adat. Begitu pula pada saat masuknya pengaruh India oleh dari Teori Waisya (N.J.Krom) melalui perdagangan dan Teori Ksatria (Bosch dan Van Leur) melalui penguasaan wilayah, serta Teori Brahmana (Bosch) melalui para Brahmana India.

Perdebatan beberapa Teori Indianisasi tersebut, telah memunculkan Teori Arus-Balik yang menyatakan bahwa pelajar-pelajar dari tanah Jawa (Nusantara) mengikuti perjalan ke Gujarat-India dan setelah belajar agama (Hindu-Budha) kembali ke Nusantara (Stutterheim dan Bosh).

Pembahasan lintas zaman ini bukan berarti membingungkan tapi mempermudah pola pemikiran (analisa budaya) yang ada. Ada sebuah pembahasan menarik sebagai dasar pemikiran tata kelolah masyarakat maritim.

Apakah sebelum proses Indianisasi berlangsung, masyarakat zaman pra-aksara tidak mengenal sistem maritim atau perdagangan?

Sebelum mengenal adanya mata uang, masyarakat megalithikum sudah melewati masa perundagian atau bisa mengolah logam (perak, tembaga dan besi) sebagai perlatan hidup.

Hal ini menjadi dasar bahwa masyarakat Timur Jawa sudah mengenal perdagangan khususnya dengan cara barter atau tukar-menukar. Mengenai sistem kemaritiman, adanya pengetahuan tentang teknik mencari ikan dan kebutuhan pokok makan di sungai dan laut, (sampah dapur: kjokenmondinger) membuktikan bahwa masyarakat pra-aksara telah mengetahui sistem kemaritiman.

Mengenai sistem religi menjadi bukti adanya keteraturan hubungan antara masyarakat pra-aksara dengan sistem nilai-nilai. Inilah yang menjadi eksotisme Kebudayaan Timur Jawa yang memunculkan sebuah kearifan lokal (local genius).

Kerjasama Lintas Kerajaan
Kembali pada pembahasan tata kelola wilayah ekonomi kerajaan, memasuki abad X-XIV wilayah Timur Jawa (dalam kesatuan Jawa-Madura termasuk Sunda yang berada dibawah kekuasaan Mataram Kuno sampai zaman Singosari-Majapahit), Kerajaan Bali dan Dompu (daerah seberang timur) masuk dalam wilayah urat nadi Jalur Sutra.

Sebelumnya, Jalur Sutra dari India (termasuk Jazirah Arab) ke Cina pasti melalui Semenanjung Malaka dan Laut Jawa. Kebutuhan dagang utama adalah komoditi dagang yang sudah menjadi fase perdagangan (ekspor-impor) di zaman tersebut.

Kebesaran suatu kerajaan sangat ditentukan dengan sistem kerjasama lintas kerajaan. Saat Kekaisaran Mongol (Tar-tar) dibawah kekuasaan Jengis Khan dan turun ke Kubilai Khan mengumum keberadaan bandar-bandar besar di Jalur Sutra, Wilayah Jawa (Cho-po), sudah menjadi wilayah penting persinggahan para pedagang asing.

Peran seorang utusan raja menjadi sebuah hubungan politik-ekonomi yang menampakkan sebuah kerjasama utama. Hal inilah yang menjadi dasar setiap terjadi perebutan kekuasaan maka salah satu pihak saat merasa kekurangan pasukan perangakan meminta bantuan dari luar.

Sumber sejarah kedatangan tentara Mongol (Tar-tar) termuat dalam Kidung Harsawijaya, Kidung Ronggolawe, dan Sejarah Dinasti Yuan. Sumber tersebut memuat sejarah tentang peyerbuan tentara Mongol di bawah Kubilai Khan ke Jawa (Kerajaan Kadiri) pada masa pemerintahan Raja Jayakatwang.

Dan dimanfaatkan oleh Raja Kertanegara (Kerajaan Singosari), untuk mengalahkan Raja Jayakatwang (Kerajaan Kadiri). Terdapat sebuah konspirasi politik yang akhirnya Jawa (Singosari) dapat mengalahkan pasukan Mongol.

Strategi politik yang dijalankan oleh Kertanegara bukan berarti tanpa persiapan. Persiapan perang butuh penguasaan wilayah yang bagus (terencana), bisa dikatakan Kertanegara lebih menguasai wilayah maritim dari pada Jayakatwang.

Dalam analisa singkat, para penguasa syahbandar bisa menjadi penggerak pasukan strategis di luar pasukan utama kerajaan. Setelah seorang raja mendapat kemenangan atas musuhnya, maka penghormatan wilayah, yakni status perdikan akan diberikan kepada suatu desa (sima perdikan).

Penutup
Eksotisme Kebudayaan Timur Jawa pada abad X-XIV telah kita bahas secara sepintas dari sisi geo-historis dan sistem tata kelolah pemerintahan, dimana aspek politik berhubungan erat dengan sistem perekonomian dan sosial-budaya masyarakat Timur Jawa.

Adanya budaya, sedekah bumi, grebeg panen, grebeg suro, larung, resik deso, ngumbah pusoko, termasuk upacara-upacara kesuburan, dan tolak-balak yang ada hingga saat ini merupakan warisan budaya yang menampakkan bukti eksostisme budaya Timur Jawa.

Peran dan fungsi budaya yang ada menampakkan nilai-nilai kultural yang juga menjadi bukti keteraturan sistem dan nilai bijak (pemerintahan) di era klasik kerajaan (khususnya abad X-XIV).

Perbedaan sudut pandang dan analisa yang ada dalam pembahasan ini, diharapkan menjadi motivasi para pemerhati sejarah-budaya untuk dapat membuka tabir kebesaran Nusantara. Pembahasan kecil ini juga diharapkan memupuk nasionalisme bangsa Indonesia ditengah arus pembangunan yang sangat kompleks. (4 dari 4/habis – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Klasik Nusantara)

Tulisan ketiga

Sumber Bacaan:
– Ayathrohaedi, 1983, “Kepribadian Budaya Lokal (Local Genius)”, (Bandung: Pustaka Jaya)
– Goerge Coedes, 2015, “Asia Tenggara Masa Hindu-Budha”, (Jakarta: Gramedia)
– Irawan Djoko Nugroho, 2010, “Majapahit; Peradaban Maritim Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia”, (Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti)
– Hadi Sidomulyo, 2007, “Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca”, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra)
– Soekmono, 2001, “Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2”, (Yogyakarta: Kanisius)
– Slamet Mulyana, 2012, “Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)”, (Yogyakarta: LKiS)

Add Comment