Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (3): Pelabuhan Besar Aset Ekonomi

foto
Pelabuhan-pelabuhan besar menjadi aset ekonomi kerajaan yang harus dilindungi. Foto: ist.

SUNGAI besar (bangawan) yakni Sungai Bengawan Solo dan Brantas, menjadi jalur utama transportasi perdagangan pada masa klasik, merupakan eksotisme Timur Jawa. Karena keberadaan sungai sebagai sarana transportasi juga memerlukan pembangunan fasilitas publik dan dapat memberdayakan rakyat melalui pekerjaan sebagai jasa penunjuk jalan dan jasa angkutan (bongkar-muat barang).

Pasar besar lintas samudra dalam konteks geo-historis adalah pelabuhan (syahbandar). Pelabuhan-pelabuhan besar atau sebagai kota dagang yang ada di Timur Jawa menjadi aset ‘eksotisme ekonomi’ jalur perdagangan Asia Tenggara (Jalur Sutra) pada masa Hindu-Budha (Abad X-XIV M).

Daya tarik perdagangan dan perkembangan Kerajaan besar dari Mataram Kuno Hindu (X-XII M) hingga berdirinya Singosari-Majapahit (XIII-XIV M) juga memberikan bukti perkembangan potensi komoditi lokal berupa permintaan barang dagang penduduk asli. Tanpa adanya barang dagang, otomatis perdagangan tidak akan berjalan dengan ‘sehat’.

Kota dagang dikelolah oleh seorang Kepala Syahbandar yang juga menampakkan kinerja terhadap tata kelolah pelabuhan sebagai pasar dan jalur transportasi lintas samudra.

Sarana pendukung syahbandar yang harus ada yakni; (1) tempat peribadatan (candi/pure); (2) galangan kapal; (3) penterjemah/ahli bahasa; (4) jasa bongkar-muat barang termasuk jasa angkut barang menuju pusat kerajaan atau pasar kelas II; (5) Jasa penunjuk jalan.

Mengenai jasa angkut barang menuju pusat kerajaan atau ke pasar desa (sima) menuju bagian dalam, bisa diangkut lewat sungai dan darat. Dalam hal ini, Jasa penunjuk jalan bisa menjadi satu paket pelayanan publik bagi pedagang asing yang belum mengetahui pasar kelas II dan pasar di sekitar pusat kerajaan.

Berita atau kronik Cina dan Pelayaran Bangsa Eropa (catatan perjalanan Marcopolo 1511 M) menjadi bukti bahwa semua syahbandar yang ada di Timur Jawa termasuk daerah-daerah bawahan Kerajaan Majapahit di seluruh Nusantara, memiliki potensi barang dagang berupa komoditi lokal yang beragam.

Hasil pertanian agraris (perkebunan, lada, pala dan rempah-rempah lainnya, termasuk hasil pertanian basah, padi, jagung, dll.), pertambakan maritim (terasi dan garam); termasuk kerajinan gerabah dan hasil tambang emas dan perak, menjadi komoditi terkenal hingga akhir abad XIV M.

Kerajaan Maritim Besar
Jalur perdagangan yang ada pada zaman klasik lintas samudra dikenal dengan istilah Jalur Sutra. Pemerintahan Kerajaan Mongol (Tar-tar) menyebutkan negeri-negeri yang berpengaruh di Jalur Sutra yakni; Wilayah Indocina, Semenanjung Malaka, Nusantara, Sri Langka, India, hingga Semenanjung Arabia, dan Jawa.

Wilayah yang ada tersebut harus ditundukkan (ada sebuah kesepakatan bersama) terkait penjaminan keamanan dan kelancaran perdagangan di Jalur Sutra (Irawan D Nugroho: 2010). Pada ranah ini semakin memperkuat porsi Jawa termasuk nantinya Nusantara sebagai Negara (Kerajaan) Maritim yang besar di dunia.

Mengingat hingga awal abad XV para pelaut Eropa dari Spanyol dan Portugis belum berperan aktif dalam ekonomi-politik di Jalur Sutra. Memasuki masa berdirinya Kerajaan Islam Giri Kedaton, Demak dan Pajang hingga Mataram Islam, para pelaut Eropa atas nama kongsi dagang, baru turut andil dalam perdagangan di Jalur Sutra.

Mereka (para pelaut Eropa; Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda) butuh mempelajari terlebih dahulu sistem kemaritiman yang sebelumnya sudah tertata.

Peran aktif Kepala Syahbandar sebagai pimpinan pelabuhan menjadi amanah yang sangat penting pada setiap masa pemerintahan kerajaan, meskipun hingga saat ini masih belum begitu jelas sumber tentang nama-nama syahbandar yang ada di era tersebut.

Pada intinya kepal pelabuhan juga sebagai kepala lokal pemerintahan yang membawahi balatentara. Kepala syahbandar juga bisa disetarakan dengan jabatan otonomi khusus setara adipati (pembantu raja). Tata kelolah syahbandar menjadikan kerajaan semakin besar dan menjadi tolak ukur kesejahteraan rakyat.

Dalam kaitan aspek politik kerajaan, pergeseran kekuasaan dari Kerajaan Mataram Kuno Hindu Wangsa Isyana hingga Kerajaan Singosari-Majapahit Wangsa Rajasa (Keturunan dari Ken Arok 1222 M), lebih pada perebutan kekuasaan, berupa pemberontakan lintas geneologi (lintas wangsa).

Masalah ekonomi memiliki porsi tersendiri dan berhubungan dengan kerja sama lintas samudra. Peradaban Timur Jawa dalam perspektif pembangunan tata wilayah ekonomi dan sosial-budaya tersistem dengan nilai-nilai akulturasi budaya antara Hindu-Budha dan budaya lokal atau budaya asli pra-hindu yang lebih dikenal dengan local genius.

Pada pembahasan geo-historis bisa ditarik kesimpulan bahwa kesetian seorang punggawa kerajaan yang bergelar kepala syahbandar ‘tidak’ atau ‘jarang sekali’ dikaitkan dengan sebuh pemberontakan terhadap raja yang berkuasa. (3 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Klasik Nusantara)

Tulisan kedua

One thought on “Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (3): Pelabuhan Besar Aset Ekonomi

  1. Pingback: Eksotisme Sejarah-Budaya Abad X-XIV (4): Sima Perdikan dan Tata Kelola Wilayah | timurjawa.com

Add Comment