Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (1): Latar Belakang Geo-Historis

foto
Banyaknya peninggalan sejarah di Jawa Timur membuktikan adanya peradaban dan kebesaran Timur Jawa di masa silam. Foto: Viva.co.id.

UNSUR geografi atau wilayah dalam sejarah memang bukan hal yang sepele. Ahli geografi Indonesia N Daljoeni menyatakan bahwa geografi dan sejarah menjadi satu kesatuan ruang. Hal ini dipererat dengan konsepsi tata ruang sebuah keberadaan budaya termasuk berdirinya kerajaan dimasa lalu.

Jawa bagian timur atau yang kita sebut sebagai Timur Jawa memiliki historisitas tersendiri dalam catatan sejarah Nusantara. Memasuki abad ke-X di bawah kekuasaan Mataram Kuno Hindu wangsa Isyana atau keturunan Mpu Sindok memunculkan pembangunan wilayah di wilayah Timur Jawa.

Wilayah Sunda, Madura, Bali dan Dompu juga berada di bawah kekuasaan Timur Jawa yang berpusat di Mataram Kuno Hindu dengan segala pergeseran pemerintahan.

Istilah wilayah barat Nusantara meliputi wilayah-wilayah yang ada berada dibawah kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai, Sriwijaya dan Malaka.

Kerajaan Sunda yang terletak di sebelah Barat Pulau Jawa (Jawa Barat sekarang) pasca kemunduran Kerajaan Tarumanegara, tidak begitu mendominasi dalam percaturan politik Nusantara.

Pasca terjadinya pralaya (bencana alam; Letusan Gunung Merapi dan atau Gempa) di wilayah Kerajaan Mataram Kuno (Jawa bagian Tengah), menjadi landasan perpindahan pusat Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Dari sisi pemerintahan kerajaan juga telah bergeser dari kebesaran Wangsa Sailendra (Dinasti Budha Mataram Kuno; dengan bukti peninggalan Candi Borobudur) dan Wangsa Sanjaya (Dinasti Hindu Maram Kuno; dengan bukti peninggalan Candi Prambanan) memunculkan Wangsa Isyana.

Setelah Mpu Sindok (Wangsa Isyana) membuka pemerintahan di masa peralihan, apa saja yang menjadi pembaharuan di Timur Jawa?

Sumber sejarah yang kita gunakan dari beberapa sejarawan dan budayawan (arkeologi dan antropologi) menjadi landasan dalam memahami perkembangan tata wilayah Timur Jawa pada abad X-XIV dengan kebesaran Kerajaan Singosari-Majapahit.

Nagarakertagama, Pararaton, dan Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai dan sumber sejarah sezaman, menjadi pegangan tersendiri dalam pembahasan terkait nilai-nilai eksotisme Timur Jawa dengan berbagai karakteristiknya.

Dari zaman dahulu, hasil kebudayaan yang berkaitan dengan sejarah masa lampau masih banyak terpendam dalam benda-benda (artefak) termasuk karya sastra klasik, sedangkan pemikiran sejarah yang menghidupkan masa lampau masih membutuhkan pembahasan dan gubahan landasan pemikiran bersama (R Soekmono: 1973).

“I het verleden ligt het heden, en in het heden ligt de toekomst” (di dalam masa lampau terletak masa sekarang dan di masa sekarang terletak masa yang akan datang).

Ungkapan ini juga sejalan dengan konsep Jawa Kuno “atita-nagata-warttamana” yang berarti, terdapat hubungan yang erat antara masa lampau (atita), masa yang akan datang (nagata) dan masa kini (warttamana). Hal inilah yang mendasari perlunya kita membahas perjalanan sejarah-budaya bangsa (Sukarto K Atmodjo: 1983).

Kebesaran Timur Jawa
Sebagai generasi penerus bangsa, semua berhak untuk turut andil dalam mempersiapkan sebuah analisa sejarah-budaya, tentunya sangat membutuhkan logika berpikir sehat dan sesuai dengan landasan keilmuan.

Pendapat dan analisa masing-masing individu (baik sebagai akademisi atau sebagai pemerhati), menjadi lebih kuat saat bukti sejarah bisa disajikan dengan analisa yang bisa diterima oleh publik.

Candi, Gapura, Petirtan, Prasasti, dan pamerian situs dalam berbagai arca, termasuk sisa-sisa pemukiman kuno, menjadi unsur penting dalam mendukung sebuah analisa sejarah-budaya.

Timur Jawa memasuki abad X dengan kebesaran kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, mulai dari Mataran Kuno Hindu (Medang Kamulan), Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Panjalu sampai dengan kebesaran Kerajaan Singosari-Majapahit, mengalami hiruk pikuk kehidupan politik, ekonomi, sosial-budaya yang saling berhubungan.

Apa yang menarik dari semua itu? Hal inilah yang memunculkan pondasi nilai-nilai eksotisme sebuah budaya. Perbedaan analisa dan hipotesa antar akademisi dan pemerhati merupakan bentuk ketekadan dan keseriusan yang terus-menerus, agar lebih dekat dengan konsepsi perkembangan masa Hindu-Budha di Timur Jawa pada era tersebut.

Berdasarkan catatan Chou Ch’u-fei, yang termuat dalam karyanya Ling-wai Tai-ta (1178M): “Dari semua negeri asing yang kaya yang memiliki barang dagang berharga dalam jumlah-jumlah besar, tidak ada yang melebihi kerajaan Ta-shih (Semenanjung Arab).

Lalu terdapat Sho-po/Cho-po (Jawa) dan yang ketiga San-Fo-shi (Sumatera)…” (Coedes: 1964). Dari sebutan geografis wilayah Jawa dengan wilayah Nusantara sekitar, termasuk wilayah antar kerajaan lintas samudra, dapat dijadikan pembahasan lebih dalam mengenai hubungan tata wilayah sebuah peradaban.

Kebesaran nama kerajaan-kerajaan yang ada di Timur Jawa, memunculkan pola pikir, bagaimana para penguasa kerajaan dan jajarannya bisa menjalankan pemerintahan yang baik?

Pertanyaan ini tentunya juga berhubungan dengan konsepsi tata kelola ekonomi kerajaan (syahbandar) dengan hubungan dagang antar kerajaan (agraris dan maritim) lintas samudra melalui jalur sutra (dari dan ke Cina atau Gujarat/India).

Masyarakat maritim (maritime society of kingdoms) di Timur Jawa juga sangat mendukung kebesaran budaya perdagangan dan politik kerajaan. Pasar atau kota dagang lebih dikenal dengan sebutan syahbandar, berhubungan erat dengan tata kelolah transportasi dan jasa pendukung pasar, termasuk pajak perdagangan atau upeti.

Sedangkan, potensi komoditi khas lokal berkaitan dengan sumber daya alam tanah Jawa (agraris-maritim) dan produk barang dagang yang semuanya menjadi komoditi internasionallintas samudra (ekspor-impor).

Pada ranah ini pola tata kelolah suatu wilayah menentukan kedudukan sang raja sebagai penguasa, untuk bisa menjadi pemimpin yang mendapatkan pengakuan rakyat butuh pola manajemen pemerintahan yang baik (tersistem dan tegas). Peperangan dan perebutan wilayah bukan hanya sebatas perebutan kursi jabatan dalam sejarah kerajaan.

Akan tetapi, bagaimana budaya tapa atau tapa brata (meminta petunjuk pada Sang Dewa/Bathara Guru) yang dilakukan oleh seorang calon raja untuk dijadikan sebuah perencanaan pembangunan kerajaan (planning of kingdoms) yang bisa dimaknai sebagai visi dan misi pemerintahan kerajaan nantinya. (1 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Klasik Nusantara)

Tulisan kedua

One thought on “Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (1): Latar Belakang Geo-Historis

  1. Pingback: Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (2): Antara Sungai, Pasar dan Syahbandar | timurjawa.com

Add Comment