Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (2): Antara Sungai, Pasar dan Syahbandar

foto
Sungai-sunga menjadi jalur transportasi di masa silam. Foto: ist.

DALAM Prasasti Pucangan (1041 M), yang menguraikan tentang silsilah raja Erlangga (Airlangga), menyatakan bahwa Raja Erlangga adalah cicit dari Raja Sindok (Mpu Sindok) yang lahir dari perkawinan antara Putri Gunapriya Dharmapatni (keturunan Raja Sindok) dengan Sri Dharmodayana Warmadewa (Raja Bali).

Nama Sri Maharaja Mapanji Garasakan ditemukan pada dua prasasti, yakni Prasasti Kambang Putih (tidak bertarikh) dan Prasasti Malenga (1052 M).

Prasasti Malenga menguraikan anugerah tanah kepada para pengetua atau pemimpin desa (sima) di Malenga, karena kesetiannya kepada Mapanji Garasakan dalam perang melawan Haji Linggajaya.

Kedua prasasti tersebut menggunakan stempel garudamukha yang menunjukkan bahwa raja yang mengeluarkan adalah keturunan Raja Erlangga.

Prasasti Budha Mahaksobhya di Simpang-Surabaya (1289 M) yang ditulis oleh Pendeta Nandya pada zaman pemerintahan Prabu Kertanegara (1268-1292 M) penguasa terakhir Kerajaan Singosari.

Prasasti ini menguraikan bahwa pendeta agung Arya Bharada mendapat tugas untuk membagi Pulau Jawa menjadi dua (Slamet Mulyana: 1979).

Hal ini perkuat dengan Kitab Nagarakertagama pupuh: 68, yang menguraikan tentang pembagian Kerajaan Erlangga menjadi Kerajaan Jenggala/Kahuripan (Jiwana) dan Panjalu/Daha (Kadiri), atas dasar kecintaan Erlangga kepada kedua putranya.

Sumber berikutnya adalah Serat Calon Arang (1540 M) menguraikan bahwa Raja Erlangga mengutus Pendeta Bharada dari Lemah Tulis di Bali untuk bertemu dengan Pendeta Kuturan, karena Sang Prabu bermaksud akan menobatkan puteranya di Bali.

Kepergian Mpu Bharada melalui Selat Bali tidak berhasil membujuk Pendeta Kuturan sehingga Raja Erlangga terpaksa membelah negaranya (kerajaannya) di Jawa untuk kedua putranya yang sedang bermusuhan.

Yang menarik dalam sejarah ini adalah munculnya hubungan sumber sejarah yang banyak dikaitkan dengan dongeng “Mpu Bharada mencucurkan air kendi dari udara”, dimana dongeng ini mengaitkan bahwa Kerajaan Jenggala dan Panjalu mempunyai batas alam berupa sungai.

Sungai menjadi pembahasan yang menarik dalam geo-historis peradaban Timur Jawa. Terdapat dua sungai besar yakni (1) Sungai Brantas dan (2) Sungai Bengawan Solo.

Mengalir dari wilayah Jawa bagian selatan-barat menuju ke Jawa bagian timur-utara (Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik sebagai muara dua sungai besar tersebut), yang juga memiliki sudetan atau anak sungai.

Kota-kota besar di Jawa Timur diantaranya; Jombang, Singosari-Malang, Mojokerto, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Sidoarjo, Gresik dan Surabaya memiliki geografis yang berdekatan dengan aliran kedua sungai besa tersebut.

Alat Transportasi Utama
Secara geografis, selain berfungsi sebagai batas wilayah juga sangat erat hubungannya dengan alat transportasi utama menuju (dari dan ke) pusat kerajaan dari masa Kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit.

Pusat Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur (Medang Kamulan), Kerajaan Panjalu dan jenggala hingga berdirinya kerajaan Singosari-Majapahit tidak bisa dilepaskan dari jalur transportasi menuju syahbandar (kota pelabuhan utama) yakni (1) Hujung galuh (Surabaya, bisa termasuk wilayah Sidoarjo) dan (2) Sidayu (Sidayu lawas-Lamongan hingga Sidayu-Gresik).

Bagaimana dengan wilayah Pantai Utara Timur Jawa lainnya?. Mengenai wilayah yang berstatus syahbandar dan menjadi pusat perekonomian diantaranya; wilayah Pasuruan, Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi.

Keberadaan syahbandar merupakan aset ekonomi utama bagi pusat kerajaan dalam bidang upeti (pajak) dan atau seserahan (komoditi lokal sebagai hasil ekonomi daerah akan menjadi persembahan kepada pusat kerajaan yang bersifat kesadaran wajib), sebagai tanda bakti setia terhadap raja.

Apabila syahbandar tersebut berstatus perdikan atau wilayah bebas pajak, seserahan tidak akan membebani tingkat kesejahteraan rakyat setempat, mengingat pendapatan rakyat berada di atas rata-rata.

Bisa dikatakan bahwa sungai memiliki peran utama sebagai pintu masuk menuju pusat kerajaan. Sebagai bentuk pelayanan publik, syahbandar juga menyediakan pelayanan bidang jasa menuju pasar kelas II atau pasar-pasar di dekat pusat kerajaan.

Perlu diketahui, tidak semua syahbandar pasti berada di dekat muara sungai, namun keberadaan sungai sedang (aliran sudetan bangawan), termasuk jalur darat yang menghubungkan daerah pesisir pelabuhan dengan sebuah sungai, menjadi jalur perekonomian dibawah tata kelolah sebuah syahbandar.

Asumsi ini tidak jauh beda dengan analisa Hadi Sidomulyo (2007) yang meneliti perjalanan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M) saat singgah di Desa Kapulungan (Sidoarjo) yang berada di sebelah selatan Kali Porong.

Lain konteks, akan tapi masih berhubungan dengan peranan sebuah sungai, yakni Prasasti Waringin Pitu (1447 M) yang secara konsisten menyebutkan Sungai Kalimas dengan nama bangawan, beserta peranan sungai tersebut (dari dan ke) wilayah Hujung Galuh (Surabaya dan sekitar muara sungai Brantas).

Sungai Kalimas merupakan salah satu aliran sungai Brantas yang bermuara di Hujung Galuh. Kali Porong yang juga merupakan muara sungai Brantas dari dan ke Sidoarjo juga menjadi fasilitas perdagangan vital bagi ekonomi kerajaan hingga berdirinya Islam (Giri Kedaton-Gresik) abad XV-XVI.

Terdapat Candi Pari yang berada di wilayah Porong-Sidoarjo sebagai bentuk fasilitas publik yaitu sarana peribadatan bagi para tamu (pedagang asing). Selain pemukiman bagi pedagang asing tempat peribadatan (Candi) juga menjadi tata wilayah yang wajib untuk sebuah syahbandar. (2 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Klasik Nusantara)

Tulisan pertama

Add Comment