Hikayat Jaman Edan Jayabhaya

foto
Lukisan Raja Kediri, Sri Jayabhaya. Foto: Eventzero.org.

Ditengah carut marutnya kondisi tata negara Indonesia di tahun 2016 ini, tidak ada salahnya kita sedikit menengok ke belakang jauh sebelum Indonesia berdiri tepatnya pada tahun 1135-1159 dimana pada saat itu berkuasa seorang raja yang memiliki filosofi hidup dan mampu membawa jaman keemasan Kerajaan Kediri dengan gelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa atau yang sering kita kenal dengan nama Sri Jayabhaya.

Raja keempat Kerajaan Kediri tersebut tidak hanya piawai dalam memperluas wilayah kerajaan Kadiri hingga Kalimantan dan Ternate, Sulawesi, namun dalam beberapa peninggalan sejarah Nusantara seperti Prasasti Ngantang (1135), Prasasti Talan (1136), dan Kakawin Bharatayuddha (1157), disebutkan bahwa Sri Jayabhaya juga memiliki sebuah pesan kepada generasi penerus bangsa dikemudian hari yang terkenal dengan istilah Ramalan Jayabhaya.

Salah satu Ramalan Jayabhaya yang terkenal adalah tentang adanya Jaman Edan yang cuplikannya berbunyi :

“….pancen wolak-waliking jaman\ amenangi jaman edan\ ora edan ora kumanan\ sing waras padha nggagas\ wong tani padha ditaleni\ wong dora padha ura-ura\ beja-bejane sing lali,\ isih beja kang eling lan waspadha….”

Bait sajak diatas disebutkan bahwa kelak akan ada perputaran jaman dimana jaman tersebut oleh Sri Jayabhaya disebut dengan jaman edan (jaman gila).

Dalam bait ke-142 dari total 173 bait ramalan tersebut dijelaskan siapa saja yang tiba gilirannya hidup dalam jaman edan tersebut dan tidak mengikuti kegilaan jaman maka tidak akan kebagian. Kondisi jaman edan tersebut tampak pada baris berikutnya dimana para pemikir yang sehat akalnya akan sedih hatinya, karena para petani diikat, sementara para penjahat bebas berkeliaran dimana-mana.

Namun Sri Jayabhaya melanjutkan dengan sebuah pesan kepada generasi anak cucunya atas kondisi tersebut pada baris selanjutnya, bahwa kelak siapa saja yang hidup di jaman ini, se-beruntung-nya orang yang lupa masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Secara mendalam pemaknaan Ramalan Jayabhaya tersebut dapat dijelaskan, jika keadaan jaman sudah kacau dan hanya sedikit orang yang memegang teguh kebenaran, maka jadilah orang yang selalu ingat dan selalu waspada pada hadirnya perubahan zaman itu. Niscaya ketika kita selalu ingat dan waspada, kita akan dihindarkan dari keterpurukan periode jaman edan.

Bagi sebagian orang yang hidup dengan menjunjung falsafah tersebut, mereka meyakini akan terhindarkan dari bencana karena pada esensinya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

Seperti pesan dari Maryani Gatot Subroto, pegiat macapat Kabupaten Blitar, kepada timurjawa.com. “Kita sebagai sebuah bangsa harus kembali menguri-uri falsafah hidup para leluhur kita, karena hanya dengan itu kita bisa mencetak kejayaan sebuah bangsa kembali, terlepas apakah itu terjadi di jaman edan atau jaman-jaman yang lain,” ujarnya.

Masih banyak lagi Ramalan Jayabhaya yang harus kita jadikan sebagai falsafah hidup. Tidak ada salahnya untuk mulai menggali kembali warisan leluhur khususnya falsafah hidup yang memang dipersiapkan para leluhur untuk kita, generasi anak cucunya. (rba)

Add Comment