Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah di Blitar

foto
Mbah Supalil bersama Gong Kyai Pradah saat jamasan di alun-alun Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Foto: Blitarkab.go.id.

DALAM memperingati milad atau hari lahir Kanjeng Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal atau bulan Mulud dalam penanggalan Jawa, selalu dilaksanakan beberapa tradisi Islam-Jawa di beberapa wilayah di Indonesia.

Tradisi-tradisi yang disebut Muludan tersebut sudah dimulai sejak zaman masuknya Islam di Pulau Jawa melalui ajaran Walisongo yang menyampaikan dakwah Islam melalui akulturasi budaya hingga menjadikan agama Islam mayoritas di Jawa dan Indonesia saat ini.

Salah satu tradisi hasil akulturasi tersebut yang menjadi perhatian dalam perayaan Muludan adalah adanya Jamasan Gong Kyai Pradah di Kabupaten Blitar yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya di alun-alun Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Wilayah yang juga disebut sebagai Lodoyo ini selalu ramai dikunjungi ribuan pengunjung setiap tahunnya untuk berebut berkah air jamasan atau air siraman yang digunakan untuk memandikan Gong Kyai Pradah. Air ini dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit serta dapat menjadikan seseorang awet muda. Namun tidak sedikit dari mereka sekedar hadir untuk melihat ritual yang dilaksanakan satu tahun sekali ini.

Gong Kyai Pradah
Kyai Pradah atau yang juga disebut Kyai Bicak merupakan sebuah pusaka peninggalan Sunan Amangkurat Mas (Pangeran Prabu) dari Kartasura. Kedatangan Pangeran Prabu ke wilayah Lodoyo, Blitar karena menjalani hukuman pengasingan dari ayahandanya, Pakubuwana I. Pada saat itu wilayah Lodoyo masih merupakan hutan lebat yang angker. Ia membawa serta pusaka berupa Gong (Kempul Limo) tersebut, sebagai alat penawar keadaan daerah yang angker ini.

Pangeran Prabu mulai membangun peradaban disana, sehingga berangsur-angsur tempat itu mulai dipadati penduduk. Namun Pangeran Prabu tidak lama menetap disitu, karena kesedihan hatinya belum dapat disembuhkan akibat pengasingan. Untuk menghilangkan kesedihannya itu ia berpendapat bahwa hanya Tuhan-lah kiranya yang bisa menyembuhkannya.

Dalam rangka mencari petunjuk Tuhan, Pangeran Prabu meninggalkan Pusaka Kyai Bicak di Desa Kebonsari dan berpesan kepada masyarakat agar selalu memandikan pusaka peninggalannya tersebut setiap 12 Rabiul Awal yang juga bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Penamaan “Kyai Pradah” didapat dari cerita tentang kedatangan segerombolan harimau saat gong pusaka itu ditabuh tujuh kali oleh abdi kinasih Pangeran Prabu yaitu Ki Amat Tariman. Konon Ki Amat Tariman sempat terpisah dari Pangeran Prabu di belantara, kemudian ia menabuh gong sebanyak tujuh kali supaya Sang Prabu dapat mendengar dan menemukannya.

Alih-alih datangnya Sang Prabu, justru segerombolan harimau yang datang. Namun harimau-harimau justru menjaga Ki Amat Tariman. Oleh karena itu pusaka yang awalnya bernama Kyai Bicak ini disebut sebagai “Kyai Macan” atau “Mbah Pradhah”. Hingga kini pesan Pangeran Prabu agar memandikan pusaka tersebut tepat pada Muludan tetap dilaksaanakan.

Menurut Mbah Supalil, Juru Kunci Gong Kyai Pradah, menyatakan acara ini harus rutin dijalankan supaya semua warga selamat dan sejahtera. “Pernah sekitar tahun 1992, waktu itu wedono (pembantu pimpinan wilayah tingkat II Kabupaten, Red) yang menjabat tidak begitu peduli dengan tradisi masyarakat disini. Kyai Pradah tidak dijamasi. Malamnya saya melihat ada bayangan putih menyerupai macan (harimau) keluar dari gedung pakuncen (tempat menyimpan gong). Macan itu meloncat keluar lalu lari ke arah Timur,” terang pria yang berusia 89 tahun ini.

“Entah kebetulan atau tidak, esok pagi, warga Desa Gondanglegi yang letaknya di timur Alun-Alun Lodoyo melaporkan, kambing ternak mereka banyak yang mati secara bersamaan,” imbuh sesepuh yang akrab dipanggil Mbah Palil ini.

Jamasan Kyai Pradah
Dalam proses ritual yang dilaksanakan pada 13 Desember 2016, Gong Kyai Pradah dikeluarkan dari tempatnya. Yakni, sebuah pesangrahan yang ada di samping kanan lapangan.

Tak sembarangan orang boleh mengeluarkan Gong itu, kecuali juru kuncinya, Mbah Supalil. Saat mengeluarkannya, sang juru kunci dikawal puluhan orang baik laki-laki atau perempuan yang berpakaian serba hitam, dengan membawa bunga setaman. Termasuk juga diiringi musik gamelan, sehingga menambah suasana jadi kian sakral. Selanjutnya, Gong itu gendong oleh Mbah Supalil, dan diarak mengelilingi lapangan.

Untuk membawa Gong itu, tak mudah karena harus melewati kerumunan warga. Apalagi, warga berebut ingin menyentuhnya karena diyakini bisa membawa berkah atau keselamatan apabila bisa menyentuh Gong tersebut. Selanjutnya, Gong itu diserahkan Bupati Blitar Rijanto, yang sudah menunggu di atas panggung. Oleh Rijanto, Gong itu dimandikan dengan disiram air bunga tujuh setaman.

Menariknya, saat berlangsung proses memandikan Gong itu, warga berebut ke depan panggung, untuk mendapatkan air bekas dipakai memandikan Gong tersebut. Tak pelak, air yang jatuh dari atas panggung itu diperebutkan untuk membasuh muka atau membersihkan tubuhnya, sampai ada yang meminumnya.

“Tolong disaksikan, sehabis dimandikan, Gong ini saya pukul tujuh kali. Terus, dijawab sae (baik) atau awon (buruk) disetiap pukulan itu,” teriak Rijanto.

Meski tanpa dikomando, setiap pukulan itu dijawab baik oleh warga dengan serentak hingga tujuh kali pukulan. “Alhamdulillah, semoga baik semua. Baik rezekinya, baik kesehatan, baik ibadahnya,” ucap Rijanto sehabis memukul gong itu sebanyak tujuh kali.

Menurur Rijanto, ritual ini diharapkan jadi salah satu destinasi atau tujuan wisata di Kabupaten Blitar. Buktinya, yang datang tak hanya warga setempat namun warga dari luar kota. “Di samping itu, warga setempat bisa mendapatkan berkah, dengan berjualan makanan atau mainan. Termasuk, membuka lahan parker,” katanya.

Dilanjutkannya, dari tahun ke tahun prosesi jamasan menjadi lebih baik. bila tahun-tahun sebelumnya, warga dari luar kota datang dan bermalam sembarang tempat. Saat ini mereka sudah tinggal di rumah warga. “Hal ini merupakan wujud kesiapan Pemerintah Kabupaten Blitar dalam mempersiapkan diri menyongsong era ekonomi kreatif berbasis tradisi dan budaya,” pungkas Rijanto. (rba)

One thought on “Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah di Blitar

  1. Pingback: Blitar Bumi Bungkarno – Anom Yudi Tri Wibowo

Add Comment