1.012 Wayang Krucil Gondowangi Pecahkan Rekor MURI

foto
Prosesi pasca penyerahan Rekor MURI. Foto: Grup WA Japung Nusantara.

Bagi sebagian orang, Wayang Krucil Gondowangi Malang terdengar sedikit asing ditelinga masyarakat Indonesia. Maklum wayang yang biasa terbuat dari kayu pule sudah jarang diproduksi secara massal.

Wayang krucil tidak seperti wayang kulit dan wayang golek yang keberadaannya secara mapan sangat mudah diproduksi. Selain itu intensitas pertunjukanpun juga sangat jarang digelar, meskipun penutur kesenian ini masih aktif melestarikannya.

Namun kebudayaan asli Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada 15 September 2016, berhasil menorehkan sejarah baru yaitu dicatatkannya Wayang Krucil Malangan dalam Museum Rekor Indonesia nomor 7758/R.MURI/XII/2016.

Prestasi tersebut diraih setelah 1012 orang melakukan sebuah prosesi mewarnai bersama wayang krucil dengan 79 karakter di GOR Pertamina Universitas Brawijaya (UB) Malang pada hari Sabtu, 17 Desember 2016.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dies natalis UB ke-54, sebanyak 1.012 wayang krucil duplikasi yang terbuat dari karton karena keterbatasan bahan dan waktu yang telah diwarnai itu akan digunakan sebagai media pembelajaran di daerah asalnya yaitu di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sebab, wayang yang biasa terbuat dari kayu pule sudah jarang diproduksi karena minimnya populasi pohon pule. Hal ini merupakan wujud kepedulian UB dalam melestarikan warisan seni budaya Indonesia.

Wayang Krucil Gondowangi Malangan
Wayang krucil atau wayang klithik adalah pertunjukan boneka datar dua dimensi yang terbuat dari kayu yang diukir dan diberi warna. Hanya lengannya yang terbuat dari kulit yang dapat digerakkan. Sering kali kepala terlihat lebih bulat.

Awalnya wayang krucil terbuat dari kulit seperti wayang kulit, hanya bentuknya lebih kecil sehingga disebut krucil. Baru pada perkembangan selanjutnya, bahan yang digunakan adalah kayu sehingga dinamai wayang klithik.

Bahan kayu yang digunakan adalah kayu pule atau mentaos. Jenis kayu ini memiliki serat kayu yang halus yang sangat cocok untuk dijadikan wayang.

Dari Serat Sastramiruda, kita bisa mengetahui bahwa wayang krucil pertama kali dibuat oleh Ratu Pekik di Surabaya pada 1571 Saka (1648 M).
Dalam sejarahnya, wayang ini pernah mencapai masa kejayaannya dan populer di beberapa daerah di Jawa Timur, salah satunya di Desa Gondowangi, Kabupaten Malang.

Cerita yang dipakai dalam wayang krucil umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit.

Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menakjingga, bahkan dari babad tanah Jawa sekalipun seperti Serat Damarwulan, legenda dari kerajaan Majapahit, Mahabharata, kisah Panji Asmorobangun, hingga kisah penyebaran Islam melalui dakwah walisongo.

Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Namun, ada kalanya wayang krucil menggunakan gendhing-gendhing besar.

Upaya Pelestarian
Dalam rilis yang diterima timurjawa.com, rektor UB Prof Dr Mohammad Bisri berharap warisan budaya ini harus tetap lestari, ini seni dan budaya luhur khas Malang yang harus kita lestarikan sebelum diambil alih atau diklaim daerah lain, bahkan negara lain, apalagi sudah resmi ditetapkan oleh pemerintah, kita harus menjaganya dan melestarikannya.”

“Wayang Krucil Gondowangi Malangan telah mengalami pasang surut dalam usia perjalanannya yang memasuki tahun ke-368 ini. Adalah sebuah kewajiban bagi kita, sebagai generasi penerus untuk terus melestarikannya hingga kelak anak cucu kita dapat menikmati,” ujar Prof Bisri.

Pelestari Wayang Krucil Gondowangi Malangan yang juga Kepala Desa Gondowangi Danis Setyo Budi Nugroho menyatakan, agar tetap hidup wayang krucil di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi minimal akan dimainkan di hari-hari tertentu, yaitu di awal bulan Syawal.

Sekaligus menjadi penanda kegiatan lain di Desa Gondowangi seperti bersih desa, atau saat ada nadhzar yang dilakukan oleh masyarakat. “Namun tidak menutup kemungkinan jika ada festival seni budaya, kami akan memainkan Wayang Krucil tersebut,” katanya.

Upaya pelestarian kepada generasi penerus juga dilakukan dengan wayang yang sudah di duplikasi yang digunakan pada saat latihan. Sedangkan wayang asli yang juga merupakan warisan dari Mbah Saniyem akan disimpan di rumah beliau untuk acara-acara tertentu. “Acara tertentu itu seperti undangan di Universitas Brawijaya ini atau acara yang membutuhkan sebuah kesakralan karena kondisi wayang yang memang sudah agak rapuh dimakan usia,” imbuhnya. (rba)

Add Comment