Keluarga Kanjengan Hibahkan ‘Kyai Upas’

foto
Upacara jamasan Tombak Kyai Upas di Dalem Kanjengan. Foto: Sportourism.id.

KELUARGA besar Pringgokoesoemo akhirnya menghibahkan tombak pusaka Kanjang Kyai Upas kepada Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, karena keterkaitan sejarahnya dengan terbentuknya daerah yang dulu berbentuk rawa-rawa tersebut.

Prosesi penyerahan dan pemindahan tombak pusaka peninggalan zaman Kerajaan Mataram Islam atau masa transisi di akhir kejayaan Majapahit itu berlangsung sederhana, Senin (19/12) lalu.

Keluarga Pringgokoesoemo yang menjadi ahli waris pusaka, menurut laporan Antara dengan seremoni dan tradisi Jawa melakukan pemindahan tombak pusaka dari rumah Kanjengan di Kelurahan Kepatihan ke Balai Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung yang lokasinya bersebelahan (berhimpit).

“Sengaja kami pilih balai kearsipan dan dokumentasi karena memang fungsinya lembaga ini untuk menyimpan dokumen aset daerah termasuk juga benda cagar budaya seperti tombak pusaka Kyai Upas ini,” kata Bupati Tulungagung Syahri Mulyo dikonfirmasi usai prosesi serah-terima tombak pusaka.

Selain itu, kata dia, hasil rembugan para tetua adat dan keluarga ahli waris tombak pusaka Kyai Upas menyebutkan bahwa keberadaan senjata pusaka yang memiliki panjang sekitar 3,2 meter itu tidak boleh jauh dari pendopo Kepatihan (rumah kanjengan).

Konsekuensinya, kata Syahri, pemindahan hanya menggeser lokasi penyimpanan dari semula di bilik kosong (bahasa Jawa diistilahkan dengan ‘senthong’) rumah Kanjengan ke Balai Kearsipan dan Dokumentasi yang ada persis di sampingnya.

“Ada wacana tembok pembatas antara rumah kanjengan dengan balai kearsipan akan dijebol dan dibuatkan pintu sehingga memudahkan keluarga ahli waris melakukan perawatan setiap pekannya,” kata RM Mufangat Noto Koesoemo.

Secara umum prosesi boyongan berjalan lancar. Diiringi alunan gending serta dua baris remaja putra-putri berkapaian adat Jawa, RM Mufangat Noto Koesoemo yang memimpin prosesi boyongan lalu menyerahkan tombak pusaka Kyai Upas kepada Bupati Syahri Mulyo bersama Wabup Maryoto Bhirowo dan jajaran Forpimda.

Tombak pusaka yang menurut cerita rakyat berasal dari seekor naga itu kini tersimpan rapi dengan posisi menggantung sejajar tembok di salah satu ruang khusus penyimpanan pusaka Balai Kearsipan dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung.

“Hibah ini murni diberikan karena pusaka Kyai Upas sudah menjadi milik masyarakat Tulungagung, berikut sejarahnya,” katanya.

Babad Tulungagung
Kompleks Dalem Kanjengan merupakan salah satu tempat bersejarah di Kabupaten Tulungagung, lokasi tepat Dalem Kanjengan berada di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kedungwaru.

Pada dalem kanjengan, tersimpan sebilah pusaka kraton Mataram bernama tombak Kyai Upas yang, konon, berasal dari lidah seekor naga bernama Baru Klinting.

Berdasarkan babad Tulungagung, pendopo kanjengan adalah tempat bupati pertama menjalankan pemerintahan, sebelum pindah ke sebelah utara alun-alun kota.

Sedangkan Pusaka Kiai Upas yang berwujud tombak ini berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Mataram Islam. Kyai Upas merupakan pusaka milik Ki Ageng Mangir, menantu Raja Mataram yang menolak tunduk pada Mataram.

Pemberontakan Mangir berhasil dipadamkan setelah Ki Ageng Mangir terbunuh dan Tombak Kiai Upas dikuasai oleh Mataram.

Setiap bulan Suro (penanggalan Jawa), biasanya Hari Jum’at setelah tanggal 10 bulan Sura, secara turun temurun Bupati di Tulungagung melakukan ritual Jamasan (memandikan) Kyai Upas di Dalem Kanjengan.

Hal tersebut menjadi sebuah konten wisata religi yang menarik perhatian ribuan anggota masyarakat. Tidak hanya dari Tulungagung, masyarakat yang datang dalam acara ini adalah yang berada di daerah eks Karesidenan Kediri.

Upacara biasanya didahului dengan iring-iringan reog gendang mengawal para dayang pembawa air dari sembilan mata air menuju Pendopo Kanjengan. Air tersebut lalu dicampur dengan kembang setaman, untuk air pemandian. Diiringi pengawalan ketat dari para prajurit, tombak dikeluarkan dari ruang pusaka dan dibawa ke halaman belakang.

Pada pelaksanaan ritual Jamasan, ada sejumlah larangan seperti kaum perempuan tidak boleh melihat langsung Tombak Kyai Upas. Sebab menurut legenda, Kyai Upas berjenis kelamin laki-laki dan pantang dilihat perempuan saat dimandikan.

Selain itu Keluarga Kanjengan Tumenggung Pringgodiningrat melarang masyarakat meminum air bekas pencucian tombak Kiai Upas karena mengandung zat kimia berbahaya. (ist)

Add Comment