Arca Dwarapala Gaprang (1): Reco Berphallus ‘Bicara’

foto
Situs Arca Gaprang di Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro, Kota Blitar. Foto: Ils.fr.

PENINGGALAN budaya Jawa Kuno dalam berbagai bentuk perwujudan masih dapat kita saksikan hingga saat ini.

Bangunan suci di era Hindu-Budha antara lain candi (pemujaan dan pendharmaan), petirtan, prasasti, arca, termasuk artefak yang ada, memiliki hubungan erat dengan budaya yang ada di masyarakat.

Masuknya kebudayaan Hindu-Budha di Nusantara sejak berdirinya Kerajaan Kutai (abad ke-5) hingga akhir Kerajaan Singosari-Majapahit (pertengahan s/d akhir abad ke-15) tidak begitu saja meninggalkan kebudayaan Jawa Kuno sebelumnya (pra-Hindu), yakni Zaman Neolithikum (Kebudayaan Batu Halus/ Batu Baru Akhir) termasuk Zaman Megalithikum (Kebudayaan Batu Besar) sebelum memasuki proses penerimaan kebudayaan India.

Masalah perwujudan bangunan termasuk relief dan arca yang ada pada era Hindu-Budha atau Hindu-Jawa juga menampakkan nafas akulturasi budaya atau perpaduan budaya yang pekat. Akulturasi budaya pada era ini tak lain, hadirnya pengaruh Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan Jawa Kuno pada zaman pra-aksara.

Para sejarawan, arkeolog, dan seniman termasuk pemerhati budaya Jawa Kuno memiliki persamaan persepsi bahwa nafas kebudayaan Jawa kuno tidak bisa dikatakan ‘pasif’ atau tanpa peranan. Hal ini bisa kita pahami dengan hadirnya pengakuan terhadap adanya unsur kearifan lokal (Local Genius), dimana setiap budaya memiliki kemampuan (tatanan) sebelum menerima pengaruh dari luar (pengaruh India).

FDK Bosch memaknai Local Genius sebagai proses kekuatan penciptaan kembali dalam proses hinduisasi (Indianisasi) dimana para brahmana (India) dan empu (lokal) memegang peranan. Kontak budaya yang ada antara budaya India dengan budaya Jawa Kuno menjadikan kehadiran budaya Hindu-Budha di Jawa. R.Soekmono menyebut bahwa Local Genius adalah kemampuan luar biasa (untuk mengolah pengaruh asing) yang terpendam dalam kebudayaan pra-aksara.

Sejak Kerajaan Mataram Kuno (Jawa Tengah), Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat) hingga Kerajaan Kahuripan, Daha dan Singosari-Majapahit (Jawa Timur) dalam rentang waktu abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 memiliki produk budaya yang beragam.

Saat terjadinya kontak budaya antara Kebudayaan Hindu-India dengan Kebudayaan Jawa Kuno (pra-aksara), maka yang berperan adalah daya cipta atau kemampuan yang menonjol dalam proses pembentukan kebudayaan baru atau kebudayaan Hindu-Jawa nantinya (RP Soejono, 1983: 131).

Bisa dikatakan bahwa daya serap dari penerimaan budaya dilakukan oleh cendekiawan budaya lokal atau para empu, pada masa pra-aksara dalam kebudayaan Jawa Kuno.

Perkembangan budaya dari model penciptaan kelengkapan budaya pasca Indianisasi terlihat pada berdirinya berbagai bangunan suci, dan tempat sakral yang semakin banyak dan beragam. Hindu Jawa (kebudayaan Hindu-Budha di Jawa) bersifat sinkretis (bercampur) dengan kebudayaan Jawa Kuno yang memunculkan budaya Tantris (Tantrayana).

Punden atau gudukan tanah sebagai tempat peletakan sesaji di era Jawa Kuno memiliki persamaan konstruksi dengan candi. Candi Jawi sebagai tempat pendharmaan Raja Singosari yakni Raja Kertanegara ( 1268-1292 M) berada di kaki Gunung Penanggungan dan Arjuno-Welirang (Pandaan-Jawa Timur).

Terdapat gugusan candi dan petirtan termasuk arca-arca peninggalan Kerajaan Singosari-Majapahit di sekitar kaki Gunung Penanggungan. Sebagai pembanding, Candi Gedong Songo di kaki Gunung Ungaran (Semarang-Jawa Tengah).

Lalu bagaimana dengan sebuah arca (reco), siapa yang membuat dan apa yang terkandung dalam aktifitas magis tersebut?

Keberadaan arca berhubungan erat dengan nilai-nilai religi atau penciptaan yang bersifat magis berdasarkan fungsinya. Reco Pentung atau arca dwarapala menjadi pembahasan yang menarik dalam kajian telaah budaya Jawa Kuno.

Reco Pentung yakni sebuah reco (arca) yang mebawa senjata berupa pentung (gada) sebagai ciri khas. ‘Reco Pentung Gaprang’ adalah arca dwarapala dari Situs Gaprang yang terletak di Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro, Kota Blitar, Jawa Timur.

Arca dwarapala adalah sebuah arca yang berwujud mirip raksasa berambut keriting dan mata melotot serta menggunakan senjata khas yakni pentung (gada), sehingga lebih umum disebut reco pentung. Posisi arca ini terletak di luar bangunan suci, khususnya sebagai penjaga pintu bangunan suci (lebih umumnya pada sebuah candi).

Sehingga setiap orang yang mau memasuki bangunan suci, harus meletakkan semua kepalsuan dunia (niatan buruk) sebelum meminta pertolongan (berkah/pencerahan) pada sang dewa agar terbebas dari bala’ termasuk penderitaan hidup. Setiap arca yang ada dalam sebuah bangunan suci merupakan perwujudan dari para dewa (politheisme), termasuk reco pentung yang ada di areal luar bangunan suci.

Reco Pentung Gaprang merupakan peninggalan Kerajaan Singosari-Majapahit, hal ini terlihat dalam candra sengkala (angka tahun) ‘moto roro haguno tunggal’ atau 1322 Saka (1400 M) pada masa pemerintahan Raja Wikramawardhana (1389-1429). Karakteristik yang ada dalam Reco Pentung Gaprang yakni ciri khas pentung (gada) terwujud dari tubuhnya phallus (alat kelamin laki-laki) yang dibentuk berukuran besar dan berpasangan dengan Reco Pentung yang menyerupai perempuan.

Penggunaan ikonografi phallus sebagai perwujudan pentung juga terlihat pada sebuah arca di kompeks Candi Sukuh (sebagai pembanding), yang dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Ratu Suhita (1429-1447 M). (1 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Nusantara)

Tulisan kedua

2 thoughts on “Arca Dwarapala Gaprang (1): Reco Berphallus ‘Bicara’

  1. Selama makna budaya yg tersirat dr arca2 peninggalan kuno dr jaman kerajaan masih bisa kita pahami maka nilai2 budaya bangsa Indonesia tetap menjadi kebanggaan penerus bangsa dan dunia

  2. Pingback: Arca Dwarapala Gaprang (4): Memberi Pratanda Laku Kehidupan | timurjawa.com

Add Comment