Arca Dwarapala Gaprang (2): Bukti Kuatnya Budaya Jawa Kuno

foto
Situs Arca Gaprang termasuk sepi dan jarang dikunjungi. Foto: Panoramio.com.

KESAN umum terhadap Reco Pentung Gaprang sepertinya ‘minim hiasan’, seperti halnya arca dan relief di Candi Sukuh yang berada di lereng Gunung Lawu.

Reco Pentung Gaprang menampakkan Phallus (alat kelamin laki-laki) menjadi perwujudan pentung (gada) dan berpasangan dengan Reco Pentung yang menyerupai perempuan. Hal ini terlihat pada posisi tangan yang keduanya memegang paha, dengan hiasan lubang di bagian bawah sebagai perwujudan alat kelamin perempuan.

Ada apa dengan phallus yang diwujudkan dalam bentuk besar, menggantikan ikonografi gada atau pentung?

Dibalik penciptaan atau pembuatan sebuah arca terdapat seorang tukang atau seniman yang disebut juga sebagai Rsi. Status Rsi atau empu yang bertindak sebagai pembuat (konseptor dan konstruktor) arca memiliki peran multi magis.

Dalam budaya Hindu-India dikenal dengan sebutan sthapaka (brahmana arsitek) dan sthapati (brahmana perencana). Status tersebut bukan sekedar menyelesaikan pembuatan semata, akan tetapi ada sebuah pranata atau tata cara pembuatan sebuah arca dalam kebudayaan Hindu-Budha yang harus dipegang.

Seorang Rsi menjalankan proses penterjemahan, pemilihan hingga penggunaan sebuah pranata dalam perencanaan seni kriya. Rsi sebagai seorang seniman agama juga memperhatikan adat budaya Jawa Kuno yang dikenal sebagai pakem.

Sebagai perancang sekaligus pembuat, Rsi memiliki wewenang dari sang raja yang berkuasa untuk membuat perlengkapan ibadah (pemujaan), yakni salah satunya reco pentung (dwarapala).

Posisi para Rsi atau empu berada di bawah Menteri Herhaji (menteri agama Ka-rsi-an), dimana urusan keagamaan Kerajaan Majapahit terbagi dalam tiga golongan, yang termuat dalam Kitab Nagarakertagama (pupuh 10: 3) antara lain:

1. Dharmmadhyaksa ri Kasaiwan, yakni Menteri Agama Hindu, pemegang kebijakan dalam urusan keagamaan Hindu.
2. Dharmmadhyaksa ri Kasogatan, yakni Menteri Agama Budha, pemegang kebijakan dalam urusan keagamaan Budha.
3. Menteri Herhaji, yakni kepala urusan pertapa dan seniman termasuk Menteri agama lokal (Ka-rsi-an), pemegang kebijakan dalam urusan keagamaan lokal ‘aji saka’.

Berdasarkan sumber Kitab Nagarakertagama, seorang Rsi memiliki penghormatan tersendiri dari sang raja, saat menjalankan tugasnya. Penghormatan tersebut juga berhubungan dengan independensi seorang Rsi sebagai seniman agama dalam membuat perwujudan tentunya masalah penterjemahan dan penggunaan pranata atau pakem yang dianggap sesuai dengan masyarakat sekitar.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Edi Sedyowati (2006), dalam meluruskan pernyataan EB Volger (1947) yang menyatakan bahwa “seni pahat Jawa-Hindu pada dasarnya bersifat dienstbaar (terpakai) dan gebonden (terikat), dimana pranata (Indianisasi) dengan rasa hormat dan penuh ketaatan, sehingga tidak mungkin ada ruang untuk kebebasan individu (Sang Rsi atau empu) sebagai seniman”.

Dalam merencanakan, merancang, termasuk proses pengerjaan sebuah bangunan suci terdapat pranata Hindu yang termuat dalam Kitab Silpasastra. Pada ranah ini setiap seniman agama atau Rsi yang juga sebagai sthapaka dan sthapati, menjadikan Kitab Silpasastra sebagai pakem untuk mewujudkan sebuah produk perlengkapan agama.

Rsi atau Empu atau Seniman Agama yang ada di Jawa Timur (wetanan), masih memegang adat Jawa Kuno (pra-Hindu) yang juga digunakan sebagai pakem. Hal ini menjadi bukti bahwa keberadaan Reco Pentung Gaprang lebih mengutamakan Pakem Jawa Kuno dari pada Pakem India (Silpasastra).

Perkembangan Hindu-Budha di Jawa Timur pola kesenian Jawa Kuno semakin terlihat, atau lebih dikenal dengan langgam Jawa Timur (wetanan). Pada ranah ini para pemerhati sejarah dan budayawan termasuk arkeolog memberikan perhatian khusus terhadap setiap peninggalan yang dirasa ‘unik’.

Era pergeseran kekuasaan Hindu-Budha Jawa Tengah ke Jawa Timur dari masa Kerajaan Mataram Kuno dibawah Raja Airlangga (1019-1042 M), Kerajaan Kahuripan (Jenggala) dan Kerajaan Daha-Kadiri (1042-1222 M) serta berdirinya Kerajaan Singosari-Majapahit (1222-1447M), juga berpengaruh dalam bidang seni kriya sebagai salah satu alat pembangunan kerajaan.

Candi dan arca yang ada di Jawa Tengah (kulonan) lebih terlihat megah dan kaya hiasan (ikon), sedangkan candi dan arca di Jawa Timur (wetanan) nampak lebih sederhana dan sepintas ‘minim hiasan’.

Pernyataan ‘minim hiasan’ disini lebih dimaksudkan sebagai bentuk kehadiran kembali unsur lokal (local genius), yakni penerimaan kebudayaan Hindu-Budha di Jawa Timur tidak serta-merta hanya mengikuti gaya India, akan tetapi menampakkan ciri khas (motif dan gaya) Jawa Kuno.

Reco Pentung Gaprang, sebagai salah satu produk budaya Hindu-Budha Jawa Timur (wetanan) di masa akhir Kerajaan Majapahit, menjadi bukti pemegangan budaya Jawa Kuno dalam penciptaan yang terlihat dalam bentuk ikonografi lokal berupa phallus dan pasangannya.

Hal ini dapat ditelaah sebagai bentuk pernak-pernik seni kriya wetanan yang memiliki karakteristik dengan penyampaian nilai-nilai (values) budaya bagi setiap insan (pribadi) dan masyarakat sebagai jati diri bangsa. (2 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Nusantara)

Tulisan ketiga

One thought on “Arca Dwarapala Gaprang (2): Bukti Kuatnya Budaya Jawa Kuno

  1. Pingback: Arca Dwarapala Gaprang (1): Reco Berphallus ‘Bicara’ | timurjawa.com

Add Comment