Arca Dwarapala Gaprang (3): “Suara Tersirat dari Mbah Gaprang”

foto
Reco Berphallus di Situs Arca Gaprang di Kota Blitar. Foto: Panoramio.com.

PARA seniman agama alias Rsi memiliki independensi dalam merancang dan membuat seni kriya sebagai penyampaian ‘adi-kodrati’ dalam bentuk sebuah arca.

Reco Pentung Gaprang memiliki ikon utama yakni Reco Pentung (perwujudan laki-laki) phallus (alat kelamin laki-laki) sebagai pentung dan berpasangan dengan Reco Pentung (perwujudan perempuan).

Eksotisme Reco Pentung Gaprang tidak terlepas dari makna tersirat yang disuarakan oleh Sang Rsi, baik sebagai penghubung magis dengan para dewa (Sang Khaliq), rambu-rambu sosial, introspeksi diri, maupun kritik sosial yang ada pada zamannya.

Arca ini berpasangan sebagai wujud laki-laki dan perempuan, layaknya keberadaan arca dwarapala yang berpasangan di kanan-kiri pintu masuk sebuah candi. Hingga saat ini Reco Pentung Gaprang masih dipercaya dalam ritual-ritual keagamaan oleh masyarakat sekitar, bukan hanya umat Hindu, juga yang beragama lain, khususnya pemegang adat Jawa – Kejawen.

Teringat sebuah ungkapan adat Jawa “desa mawa cara, nagara mawa tata” atau bisa diartikan bahwa setiap desa memiliki keragaman adat dan budaya, dan setiap pemerintahan (dahulu kerajaan) memiliki keragaman tata kelola masyarakat.

Adat Jawa dalam perkembangannya semakin terlihat nyata, dengan kemampuan mengolah unsur-unsur kebudayaan lain (Hindu-Budha) sedemikian rupa, sehingga budaya sendiri tidak ditenggelamkan oleh pengaruh asing yang ada.

Secara tersirat pada produk budaya yakni Reco Pentung Gaprang telah menampilkan nilai-nilai lokal (Jawa Kuno) dan menggeser dominasi unsur-unsur India (Indianisasi). Masuknya kebudayaan India tidak melalui paksaan (koloni) sehingga Adat Jawa Kuno sebagai penerima pengaruh budaya lebih berhak menentukan akulturasi budaya.

Tradisi Jawa yang ada hingga saat ini secara garis besar dapat dipilah dalam tiga pokok ajaran, yaitu: sistem upacara daur hidup, adat pergaulan (kekeluargaan), dan kesenian (pertunjukan budaya). Apa kaitannya dengan Reco Pentung Gaprang?

Segala tradisi Jawa Kuno yang ada hingga menjadi Jawa Madya dan Jawa Baru, memiliki konsepsi yang sama yakni ‘rasa syukur terhadap Sang Khaliq’. Semua itu berhubungan dengan nilai-nilai keselarasan, keserasian, dan keharmonisan, sehingga tolak-ukur pencapaian nilai-nilai tersebut berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan.

Berkaitan dengan wujud nyata pembagian tradisi Jawa dalam tiga garis besar di atas, yakni:

1. Upacara daur hidup, antara lain, perkawinan, kelahiran dan kematian (yakni: adat kelahiran diantaranya; selametan weton, mitoni, sepasaran, selapan; adat kematian diantaranya; telung dina, pitung dina, patang puluh dina, nyatus, nyewu; adat perkawinan diantaranya; temu manten).

2. Adat pergaulan bisa dilihat dalam tradisi tilik atau sungkeman yakni adat bagi yang muda mengunjungi yang lebih tua, termasuk ziarah kubur dan mengunjungi tempat peninggalan nenek moyang.

3. Kesenian (wayang, ludruk dan tari-tarian yang ada di setiap adat kulonan-wetanan dan sub-budayanya) merupakan bentuk hiburan yang juga memiliki pola komunikasi budaya berupa introspeksi diri bagi pribadi dan masyarakat luas.

Ritual Jawa yang masih ada hingga kini dalam masyarakat adat yakni Grebeg (muludan dan suro), bersih desa (syukur kesejahteraan dan ketentraman desa), larung samudro (syukur hasil laut), panenan (syukur hasil pertanian), dan lainnya. Semua adat tersebut berhubungan dengan peninggalan budaya Jawa Kuno.

Bagi masyarakat yang masih memegang adat ini, salah satunya dengan menyelenggarakan ritual adat dihadapan Reco Pentung Gaprang. Tradisi yang ada menjadi sebuah rambu-rambu moralitas, berhubungan dengan posisi ‘aji’ atau harga diri dalam satu kesatuan proses hidup. Salah satunya melalui ungkapan: ajining raga soko busono, ajining diri soko lati, harga diri kita ditentukan oleh pakaian dan tingkah laku yang juga berhubungan dengan harga diri dalam pemegangan ucapan, sumpah dan janji.

Hal ini diwujudkan dalam posisi tangan kiri Reco Pentung Gaprang (perwujudan laki-laki) yang memegang phallus. Tangan kiri dalam adat Jawa diartikan sebagai perwujudan nilai-nilai ketidaksopanan.

Perwujudan bentuk vulgar memegang phallus dengan tangan kiri, lebih bermakna bahwa adanya rasa malu (akibat penyimpangan perilaku) karena tidak mampu memegang ketidaksopanan pribadi. Ketidaksopanan merupakan cikal-bakal terjadinya penyimpangan sosial dari asusila menjadi sebuah tindakan pelanggaran pranata umum.

Reco Pentung Gaprang masyarakat setempat menyebut “Mbah Gaprang” dikenal (diyakini) sebagai perwujudan “Sang Khaliq”, yang pada jaman dulu sebagai perwujudan dewa dalam aliran Tantrayana dalam hal ‘kesuburan’.

Suara tersirat dalam arca ini lebih terlihat dalam ikonografi phallus yang juga menjadi simbolisasi komunikasi keimanan. Pengertian ‘kesuburan’ dalam perspektif adat Jawa yang ada hingga saat ini, antara lain:

(1) Berhubungan dengan hubungan suami-istri untuk memohon keturunan atau kehamilan. Berhubungan dengan bisa terlepas dari penyakit yang diderita.

(2) Berhubungan dengan kesuburan tanah garapan untuk meningkatkan hasil bumi dan terbebas dari hama (penyakit tanaman). Kekuatan masyarakat dalam menghadapi wabah penyakit (pageblug)

‘Suara tersirat’ dari “Mbah Gaprang” merupakan rambu-rambu sosial yang bertumpu pada moralitas masyarakat pada saat berhadapan dengan permasalahan hidup (samsara). Mengingat semua manusia yang hidup akan menghadapi cobaan (samsara) dari Sang Khaliq.

Ikonografi phallus alat kelamin laki-laki yang dibesarkan dan pasangannya yang ada dalam Reco Pentung Gaprang menyiratkan sebuah nilai-nilai ksatria-isme. Antara lain ksatria-isme dalam porsi pemegangan tanggung-jawab yang berhubungan dengan kepemimpinan pribadi sebagai kepala rumah tangga, dan atau kedudukan atau kepemimpinan masyarakat (struktural pemerintahan). (3 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Nusantara)

Tulisan keempat

One thought on “Arca Dwarapala Gaprang (3): “Suara Tersirat dari Mbah Gaprang”

  1. Pingback: Arca Dwarapala Gaprang (2): Bukti Kuatnya Budaya Jawa Kuno | timurjawa.com

Add Comment