Arca Dwarapala Gaprang (4): Memberi Pratanda Laku Kehidupan

foto
Arca Dwarapala Gaprang memiliki pratanda rambu kehidupan. Foto: Pemudagaprang.blogspot.com.

SUARA Ksatria-isme yang ada dalam ikonografi phallus memang terkesan pada sosok laki-laki, namun arca ini berpasangan (perwujudan laki-laki dan perempuan), sehingga masalah gender tidak menjadi sebuah diskriminasi.

Pemahaman ‘suara tersirat’ merupakan bentuk komunikasi keimanan pribadi atau masyarakat umum dengan “Mbah Gaprang”, dimana terdapat fungsi cermin diri dalam perjalanan hidup duniawi. Pemegangan kepercayaan Jawa yang berhubungan dengan larangan dalam menjalani hidup dikenal dengan istilah ‘mo limo’ yakni;

(1) mamsa (daging) artinya, tidak memakan daging berhubungan dengan kebiasaan material karena daging sebagai bentuk simbolisasi kekayaan materi, pada kepercayaan Hindu beberapa dewa menjelma dalam bentuk binatang (nandi: sapi, ganesha: gajah, waraha: babi hutan).

(2) matsya (ikan) artinya, ikan sebagai penjelmaan (awatara) dari Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu, dan kepercayaan Jawa Kuno, ikan digambarkan sebagai penghuni alam bawah air, baik sungai maupun laut harus dijaga kelestarian dan keseimbangan ekosistemnya, sehingga tidak menjadi bencana.

(3) madya (alkohol) artinya, tidak meminum minuman yang dapat memabukkan (mengandung alkohol), karena dapat menghilangkan kejernihan alam pikiran atau mendem.

(4) maithuna (persetubuhan), artinya, tidak melakukan hubungan seksual yang bukan haknya kecuali yang telah sah menjadi haknya (suami-istri), hal ini berhubungan dengan tata susila.

(5) mudra (sikap tangan yang menimbulkan tenaga gaib, dilakukan secara berlebihan), artinya, tidak melakukan hal-hal berhubungan dengan pelanggaran susila (asusila) melalui tangan karena tangan ini sebagai sarana keluar-masuk kekuatan diri, dalam bahasa Jawa kasar ada istilah nggratil.

Reco Pentung Gaprang secara tersirat berhubungan dengan adat mo limo yang keempat, yakni maithuna (persetubuhan). Hubungan suami-istri merupakan hal yang sakral atau memiliki kekuatan supranatural, kaitannya dengan penciptaan manusia (janin-anak keturunan) oleh Sang Khaliq.

Begitupun sebaliknya, saat persetubuhan yang dilakukan bukan dari hubungan suami-istri (madon) akan menimbulkan murka atau hukuman dari Sang Khaliq berupa penyakit (sekarang: HIV/AIDS).

Reco Pentung Gaprang menjadi jawaban bahwa budaya freesex (seks bebas atau madon) merupakan ‘pantangan’ dalam budaya Jawa, mengingat tatanan yang tersirat dalam ikonografi phallus adalah penguatan harga diri pribadi dan keharmonisan keluarga.

Pabila melihat bentuk Reco Pentung yang menakutkan, lebih menyiratkan arti rupo yakni penilaian bentuk wajah dalam satu kesatuan, yang sebenarnya berada dibawah rasa (roso atau ngolah roso) yakni penilaian terhadap niat dan peneguhan keimanan.

Saat sowan atau berkunjung ke “Mbah Gaprang” lebih diutamakan agar tidak terjebak pada penilaian bentuk (fisik/materi) sebuah arca, akan tetapi lebih mengutamakan porsi cermin diri, untuk melakukan instrospeksi sebelum meminta bantuan kepada-Nya (Ngolah Roso).

Saat seseorang masih mengutamakan bentuk ciptaan, maka mudah lupa dengan makna harfiah ‘titipan illahi’ sehingga rasa syukur semakin minim (kedonyan). Sebaliknya, pada saat seseorang sudah bisa melepaskan penilaian bentuk ciptaan, maka lebih mudah ingat akan tanggung-jawab sebagai ‘titipan illahi’ sehingga rasa syukur semakin kuat (nerimo ing pandum).

Konsepsi nerimo ing pandum (menerima apa adanya dengan selalu bersyukur) bukan berarti tidak mau berusaha, akan tetapi setiap insan (pribadi) diarahkan untuk memahami sebuah proses hidup sebagai bentuk lelaku (perjalanan hidup).

Hal ini menyiratkan pemahaman bahwa takdir illahi (pandum) itu berada pada hasil akhir yang menjadi ketetapan-Nya, sehingga ada sebuah rambu-rambu hidup. Agar tidak menempuh jalan pintas dengan cara yang instan (misal: pesugihan atau ingin cepat kaya dengan bantuan gaib; pelet atau ingin terlihat rupawan untuk memikat lawan jenis dengan tujuan materi semata).

Suara tersirat “Mbah Gaprang” merupakan bentuk ‘jembatan pembicaraan’ proses perjalanan hidup baik pribadi maupun masyarakat umum. Sekaligus menjadi ‘rambu-rambu hidup’ yang terbungkus dalam komunikasi keimanan kepada Sang Khaliq.(4 dari 4/habis – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Nusantara)

Tulisan pertama

One thought on “Arca Dwarapala Gaprang (4): Memberi Pratanda Laku Kehidupan

  1. Pingback: Arca Dwarapala Gaprang (3): “Suara Tersirat dari Mbah Gaprang” | timurjawa.com

Add Comment