Gunung Penanggungan Layak Jadi Cagar Budaya Nasional

foto
Gunung Penanggungan, merupakan gunung berapi yang sedang tidur alias sedang tidak aktif. Foto: Jejakwisata.com.

Setelah status Gunung Penanggungan sebagai cagar budaya tingkat propinsi, kini statusnya diusulkan sebagai peringkat nasional. Karena nilai sejarah situs yang terkandung didalamnya sudah bukan lagi mencakup unsur Kabupaten Mojokerto atau Propinsi Jawa Timur saja.

Wacana peningkatan status kawasan gunung Pawitra tersebut tak lepas dari struktur situs yang ditemukan memiliki nilai sejarah tinggi dan tak ada duanya di dunia.

Gunung Penanggungan juga berhubungan langsung dengan sejarah Indonesia kuno sehingga layak jika statusnya ditingkatkan menjadi tingkat nasional.

Kepala Balai Penyelamatan Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan, Andi Mohammad Said membenarkan usulan peningkatan status tersebut.

“Ini setelah adanya pembahasan bersama stakeholder lainnya. Dasar usulan karena nilai sejarah situs yang terkandung di dalamnya sudah bukan lagi mencakup unsur Kabupaten Mojokerto atau propinsi Jawa Timur saja. Tapi juga berhubungan langsung dengan sejarah Indonesia kuno,” ungkapnya kepada Beritajatim.com, Minggu (4/12).

Pasalnya, kata Andi, baik BPCB maupun akademisi lainnya telah menguak sejumlah fakta baru mengenai unsur situs Gunung Penanggungan yang tak dimiliki oleh situs lain. Ada ratusan situs yang ditemukan di gunung yang terletak di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto tersebut.

“Memang seharusnya sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional. Salah satu temuan yang paling terang dan tak ada duanya adalah jalur kuda yang melingkar dari kaki hingga puncak gunung. Lalu keberadaan ratusan situs lain yang sampai saat ini masih dalam identifikasi dan analisa arkeolog,” katanya.

Andi menambahkan, yang paling menguatkan adalah secara keseluruhan wilayah Gunung Penanggungan mulai dari kaki hingga puncak semuanya mengandung unsur situs. Kondisi seperti ini, tegas Andi, hanya ada pada beberapa gunung di Indonesia bahkan dunia. Secara umum, Gunung Penanggungan penuh dengan situs.

“Tapi masih kita dalami secara detail berdasarkan teoritisnya, sebutannya saja gunung suci. Usulan tersebut selain nantinya untuk pusat studi, juga bermanfaat untuk melindungi kawasan gunung dari praktek yang merusak lingkungan atau nilai situs itu sendiri,” ujarnya.

Tidak dipungkiri, lanjut Andi, wilayah Pawitra rawan terhadap praktek pertambangan, pembalakan hutan liar, dan pencurian situs. Untuk itu, nantinya akan dibutuhkan pembahasan serius bersama stakeholder lainnya seperti Badan Lingkungan Hidup (BLH), Perhutani, Pemkab Mojokerto, Pemkab Pasuruan serta pemerhati budaya lainnya.

“Leading sektornya tetap Propinsi Jawa Timur yang berwenang tapi juga akan dibahas secara menyeluruh oleh instansi lain yang berkepentingan. Khususnya di sekitar lokasi,” jelasnya.

Seperti diketahui, penelitian terhadap Gunung Penanggungan sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1935.

Situs yang tersebar berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit akhir. Peninggalan tertua tercatat berupa Patirtan Jolotundo yang berakhir 977 M dan di masa Mpu Sendok.

Selain itu juga berasal peninggalan termuda yang ditemukan adalah Candi Merak yang bertarikh 1511 M. Pemprov Jawa Timur sebelumnya, telah menetapkan Gunung Penanggungan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi sejak 14 Januari 2015 melalui SK Gubernur Nomor 188/18/KPTS/013/2015.

Gunung yang terkenal dengan kabut tebalnya tersebut masuk dalam wilayah konservasi cagar budaya berdasarkan situs yang terkandung di dalamnya. Dari catatan BPCB Propinsi Jatim di Trowulan, tak kurang dari 123 situs ditemukan yang tersebar di penjuru gunung dan 36 di antaranya sudah teridentifikasi dan telah dipasang juru peliharanya. (ist)

Add Comment