Umpak Songo, Saksi Bisu Kerajaan Blambangan

foto
Situs Umpak Songo di Tembokrejo, Kec Muncar Banyuwangi. Foto: AmboyIndonesia.blogspot.co.id.

SEMBILAN batu besar yang menyerupai bentuk kubus dengan lubang di bagian tengah itu tertata di sebuah pekarangan dengan pembatas pagar tembok setinggi satu meter.

Beberapa pohon tumbuh di sekitar bebatuan itu. Jika tidak ada papan bercat putih dengan tulisan Situs Umpak Songo, bisa jadi lokasi ini tidak banyak dikenal masyarakat. Padahal, lokasi ini menjadi salah satu perjalanan penting Kerajaan Blambangan dalam peperangan melawan pasukan VOC Belanda.

Umpak Songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. Umpak berarti tangga dan Songo berarti sembilan. Situs terletak di Tembokrejo, Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

Ini adalah sisa-sisa Kerajaan Blambangan ketika ibukota kerajaan pindah ke Ulupampang (kini Muncar) setelah Blambangan dipecah menjadi dua yakni Blambangan barat dan Blambangan timur pasca pemberontakan Jagapati terhadap VOC pada Oktober 1772.

Situs Umpak Songo adalah runtuhan bangunan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya memiliki lubang pada bagian tengah yang diduga berfungsi sebagai penyangga atau umpak.

Situs ini diduga bekas balai pertemuan antara Bupati Blambangan, Mas Alit (Raden Tumenggung Wiraguna) dengan bawahannya. “Situs ini bagian penting Kerajaan Blambangan,” kata sejarawan UGM, Sri Margana seperti dikutip AmboyIndonesia.blogspot.co.id.

Balai pertemuan ini terbengkalai sejak Mas Alit memindahkan ibukota Blambangan ke lokasi yang kini menjadi pendopo Kabupaten Banyuwangi pada 20 November 1774.

Reruntuhan balai ini ditemukan kembali oleh Mbah Nadi Gede, warga Bantul, Jogja pada 1916 saat membuka hutan dalam kondisi tertimbun tanah. Ketika tanah digali, bentuk reruntuhan ini lebih menyerupai sebuah candi. “Kakek tidak tahu fungsi batu-batu ini,” kata Soimin, cucu Nadi Gede yang menjadi juru kunci Umpak Songo.

Teka-teki reruntuhan bangunan itu terjawab setelah seorang raja dari Surakarta, Mangkubumi IX mengunjungi situs ini pada tahun 1928. “Sejak itu kakek kami tahu kalau di sini lokasi ibukota Kerajaan Blambangan,” katanya. Sang raja menjelaskan, situs itu merupakan peninggalan Kerajaan Belambangan, tepatnya bekas pendopo kadipaten Belambangan.

Situs ini sekarang berada dibawah naungan dan tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Banyuwangi. Karena pada akhir 70an mengalami kerusakan pada kondisi tanah dimana tempat batu-batu terletak, sehingga pada tahun 1982 pemerintah melakukan renovasi.

“Pada tahun 1982, pemerintah melakukan renovasi karena tanahnya rusak, termasuk menata kembali beberapa batu yang tergeletak, dan memasang pagar pembatas di sekeliling situs,” pungkasnya.

Sayang, beberapa peninggalan penting dari situs ini sudah tidak ada di tempatnya lagi. Yang tersisa sekarang hanya sembilan batu besar dengan lubang di bagian tengah dan beberapa batu kecil di sekitarnya. Situs ini berada di tanah pribadi milik keturunan Nadi Gede yang didiami sekitar 20 keluarga.

Meski demikian, Umpak Songo memiliki daya tarik tersendiri bagi pemeluk Hindu dan penganut aliran. Pada malam Sabtu Pahing dalam penanggalan Jawa, penganut aliran menggelar ritual tirakatan semalam penuh.

Puncak keramaian Umpak Songo terjadi pada hari raya Kuningan bagi umat Hindu, termasuk pemeluk Hindu Bali. Apalagi tidak jauh dari Situs Umpak Songo ada Pura Agung Blambangan, pura terbesar di Banyuwangi. “Biasanya mereka sembahyang ketika hari raya Kuningan,” katanya.

Selain Umpak Songo, bekas peninggalan Kerajaan Blambangan di sekitar Ulupampang adalah Situs Setinggil di Dusun Kalimati, Muncar. Lokasinya sekitar 4 kilometer arah timur dari Situs Umpak Songo dan menghadap pantai.

Setinggil berarti tanah yang menjulang tinggi menyerupai sebuah bukit. Lokasi in diyakini sebagai tempat bekas menara pengintai Kerajaan Blambangan untuk memantai lalu lintas selat Bali yang ramai oleh kapal-kapal perdagangan. (ist)

Add Comment