Kunjungan ke Museum Wajakensis Naik

foto
Pelajar di Museum Wajakensis Tulungagung. Foto: AntaraJatim.

KUNJUNGAN ke Museum Wajakensis di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meningkat selama musim libur Natal dan Tahun Baru 2017 dengan volume kenaikan mencapai 40 persen dibanding hari libur biasa.

“Ada kenaikan volume kunjungan dari kalangan pelajar selama liburan kemarin,” kata pengelola museum Wajakensis Hariyadi di Tulungagung, Senin (2/1).

Ia mengatakan, pada hari biasa atau libur biasa volume kunjungan hanya di kisaran 300-an orang per hari.

Namun sejak libur sekolah akhir pertengahan Desember 2016 atau selama libur Natal hingga Tahun Baru 2017 volume kunjungan meningkat hingga 500-an per hari.

“Selain ingin mengenal peninggalan bersejarah, sebagian pelajar yang datang mendapat pekerjaam rumah dari guru sekolah masing-masing,” katanya seperti dikutip AntaraJatim.

Hariyadi mengatakan, peningkatan kunjungan pelajar ke museum menjadi pertanda positif bagi perkembangan sejarah budaya di Tulungagung.

Sebab, kata dia, banyaknya kunjungan pelajar bisa menjadi indikator peningkatan kepedulian kalangan dunia pendidikan terhadap peninggalan sejarah dan kebudayaan manusia dari masa lalu.

“Apapun latar belakangnya, tren ini positif dan harus terus dibudayakan,” ujarnya.

Pada hari terakhir libur sekolah, pengunjung silih berganti datang ke museum dengan aneka kendaraan.

Sebagian mereka bahkan ada yang datang berombongan naik bus, lalu melakukan studi benda-benda purbakala di dalam museum.

“Kebanyakan siswa SD. Selain dari seputar Tulungagung, beberapa rombongan datang dari luar kota seperti Trenggalek, Kediri, Nganjuk dan Blitar,” papar Hariyadi.

Museum Wajakensis yang didirikan sejak 1996 kondisi bangunannya kecil dan hanya berukuran sekitar 8 x 15 meter menyebabkan tempat penyimpanan benda arkeologi dan cagar budaya itu kini penuh sesak.

“Sudah ada rencana penambahan bangunan. Tanahnya sudah disediakan daerah, tinggal pembangunan menunggu dari pusat,” kata Bupati Tulungagung Syahri Mulyo.

Idealnya, kapasitas tampung museum tidak lebih dari 200 koleksi dengan berbagai ukuran yang ada. Kenyataannya saat ini koleksi museum mencapai 247 dari sebelumnya 245.

Jumlah koleksi tersebut terdiri atas 133 koleksi etnografi, seperti mainan anak-anak, alat pertanian dan perikanan zaman sejarah/kuno serta 114 koleksi arkeologi yang terdiri atas arca, batu candi, prasasti dan sebagainya.

Termasuk dua koleksi benda arkeologi yang diterima dari Situs Pulotondo di Desa Pulotondo yang diikuti penemuan kerangka manusia zaman sejarah, beberapa waktu lalu.

Dua koleksi dari Situs Pulotondo berupa dua buah batu bekas ambang pintu atau meja sesaji pada masa Kerajaan Kadiri dibawah kepemimpinan raja Jayabaya itu adalah benda purbakala yang terpaksa ditaruh di luar gedung.

Ukuran benda arkeologi yang cukup besar, panjang sekitar 1,5 meter dan lebar sekitar 0,5 meter, membuat benda bersejarah yang ditemukan di sekitar bantaran Sungai Brantas di Desa Pulotondo itu tidak bisa ditaruh di dalam karena volume koleksi sudah berlebih. (ant)

Add Comment