Proyek Rumah ala Majapahit Tak Optimal

foto
Desa Bejijong di Kab Mojokerto yang rumah-rumah di kawasannya didesain sesuai jaman Kerajaan Majapahit. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Ratusan rumah di kawasan Kampung Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, disalahgunakan pemanfaatannya.

Rumah-rumah yang didesain dengan arsitektur khas rumah zaman Kerajaan Majapahit itu seharusnya menjadi tempat tinggal wisatawan atau menjual barang atau suvenir khas Majapahit.

Namun sebagian besar dimanfaatkan untuk kepentingan usaha, seperti warung, toko kelontong, hingga salon.

Sejak awal 2015 telah dibangun 296 rumah khas Majapahit di tiga desa di Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, yakni Desa Bejijong, Jatipasar, dan Sentonorejo. Pembangunannya dibiayai dari APBD Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto Ustadzi Rois mengakui masih sedikit rumah di Kampung Majapahit yang dijadikan homestay wisatawan. Di Desa Bejijong, misalnya, baru sekitar 30 rumah yang dijadikan homestay.

Rois mengatakan tidak bisa melarang warga yang memanfaatkannya untuk kegiatan usaha, termasuk toko atau warung. “Kami akan melakukan pendataan sesuai keinginan warga,” katanya seperti dikutip Tempo.co.id.

Sebelumnya, saat mengunjungi Kampung Majapahit Januari 2016 lalu Gubernur jatim Soekarwo menginginkan agar rumah-rumah khas Majapahit dijadikan sebagai homestay wisatawan, sentra kuliner, dan souvenir khas Majapahit. Namun keinginan itu tak sesuai kondisi di lapangan.

Mayarakat setempat mengaku belum mendapat pelatihan yang dijanjikan pemerintah dalam memanfaatkan rumah yang sudah didesain khas rumah Majapahit itu. “Hanya pernah disampaikan, rumah itu bebas mau dipakai usaha apapun,” ujar Kristanti, pemilik rumah khas Majapahit di Desa Bejijong.

Kristanti memanfaatkan ruangan 4 X 3 meter dari rumahnya sebagai toko dan warung kopi. Hingga saat ini ia tidak pernah mendapat pengarahan dari dinas terkait ihwal pemanfaatakan rumahnya yang sudah didesain khas rumah Majapahit itu.

Pemilik rumah di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kustilah, juga mengatakan belum mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari instansi terkait ihwal pemanfaatannya. “Saya manfaatkan sebagai ruang tamu,” ucapnya.

Kustilah mengatakan, hanya sekali ada wisatawan dari luar kota yang menginap di rumahnya. Namun ia tak begitu tahu bagaimana mengelola rumahnya menjadi homestay bagi wisatawan. “Saya tidak pernah diberi pelatihan cara mengelola homestay,” tuturnya.

Selain pemanfaatan yang kurang tepat, desain rumah khas Majapahit itu juga ada yang berubah dari yang sudah diatur dalam perjanjian antara pemerintah dengan masyarakat.

Seharusnya warga pemilik rumah tidak boleh mengubah desain, baik atap maupun dinding batu bata. Namun sejumlah rumah, seperti di Desa Sentonorejo sudah berubah.

Dinding rumah dari batu bata merah sudah dilapisi dengan semen dan cat yang tidak mencerminkan ciri khas rumah Majapahit.

Saat meninjau Rumah Majapahit, Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan pembangunan tersebut sebagai bentuk restorasi Majapahit yang menjadi kekayaan cultural yang menjadi Destinasi yang baru adalah natural destinasi dan budaya ini harus dibangun yaitu cultural Majapahit.

Sebagai langkah awal, Pemprov Jatim telah membangun rumah warga dengan model bangunan jaman majapahit 194 unit rumah di Desa Bejijong yang pembangunannnya dilakukan dua tahap.

Tahap pertama tahun 2014 sebanyak 94 unit rumah dengan dana Rp 4,98 miliar. Tahap kedua tahun 2015 sebanyak 100 unit rumah dengan dana Rp 5,7 miliar.

Sedang tahap berikutnya, yakni tahap ketiga tahun 2015 dibangun 300 unit rumah di tiga tempat yakni sekitaran Segaran, Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu.

Untuk pembangunan rumah dianggarkan dana Rp 50-60 juta per unit, dengan ukuran 3X5 atau 4X4 meter. Sedamngkan Pemkab Mojokoerto mebantu anggaran pembuatan/pembangunan pagarnya.

Pengembangan wisata Destinasi Majapahit ini sangat baik untuk kedepannya. Sebab, Mojokerto selain sebagai tempat kerajaan majapahit, wisata alamnya juga bagus dan mendukung.

Seperti Gunung Penanggungan merupakan gunung satu-satunya di dunia yang memiliki/tempat ditemukannya 222 candi yang masih asli dan kondidsinya masih bagus.

“Ini adalah tempat yang harus dijaga kasriannya dan dikembangkan sebagai tempat wisata, karena merupakan potensi yang luar biasa di Jawa Timur dan khususnya Mojokerto,” tegas Soekarwo kala itu. (sak)

Add Comment