Puluhan Situs di Probolinggo Tak Terurus

foto
Situs Kentrung di Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan kondisinya memprihatinkan. Foto: xxx.

Ratusan peninggalan bersejarah di Kabupaten Probolinggo, saat ini masih belum dikelola dengan baik. Pemkab setempat sejauh ini baru mengajukan ratusan benda bersejarah tersebut sebagai cagar budaya.

Saat ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat mengestimasi ada 106 benda bersejarah yang diajukan jadi cagar budaya. Ratusan benda bersejarah itu diajukan sejak 2014 lalu ke pemerintah pusat. Namun, sejauh ini belum ada jawaban dari pemerintah pusat.

Kepala Disbudpar Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto menyebut, 106 objek bersejarah yang diajukan sebagai cagar budaya itu terdiri atas empat kategori. Yakni, kategori benda, kategori bangunan, kategori struktur, dan kategori situs.

Rinciannya 2 bakalan arca, 15 umpak, 8 pilar, 30 batu candi bentuk polos dan 14 batu candi berpelipit. Lalu 1 batu bertulis, 1 fragmen arca Dwarapala, 1 batu Lumping, 2 kepala naga dan 3 batu candi berelief.

Kemudian 1 bagian pintu candi, 7 batu isian candi, 2 kala, 1 arca raksasa, 1 yoni, dan 1 fragmen kala. Serta tiga bangunan pabrik, 6 makam wali, 3 situs candi, dan 3 bangunan candi.

Khusus untuk peninggalan situs, tersebar di Candi Jabung, Desa Jabung Candi, Paiton; Situs Talkandang, Kecamatan Kotaanyar; Situs Candi Kedaton di Andungbiru, Kecamatan Tiris; dan situs Kentrung di Ketompen, Pajarakan.

Sejumlah peninggalan benda bersejarah itu kini sudah didaftarkan pada Balai Cagar Budaya di Trowulan, Mojokerto. “Pengajuannya dilakukan pada 2014 lalu,” terang Anung. Menurut Anung, ada beberapa pertimbangan yang menjadikan suatu objek atau bangunan menjadi cagar budaya.

Diantaranya, memiliki nilai budaya, sudah berumur lebih dari 50 tahun, dan adanya kisah turun temurun dari masyarakat setempat. “Pengajuan objek itu bertujuan untuk melestarikan bangunan yang memiliki nilai sejarah,” tambah Anung seperti dikutip Jawa Pos Radar Bromo.

Banyak yang tak terawat dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, kondisi sejumlah bangunan bersejarah itu tak semuanya terawat. Beberapa di antaranya kondisinya memprihatinkan. Misalnya, situs Kentrung di Dusun Kentrung, Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan.

Kondisi bebatuan yang oleh warga setempat disebut Candi Kentrung itu memprihatinkan. Solehuddin, warga setempat yang rumahnya paling dekat dengan kawasan candi menyebut jika bebatuan itu merupakan benda bersejarah.

“Kami meyakininya seperti itu, karena dulunya batu-batuan ini tersusun rapi seperti candi pada umumnya,” terangnya. Kala itu, pria yang bekerja sebagai ahli bangunan itu masih duduk di bangku SD.

Dari pantauan, lokasi candi tersebut sangat tidak terawat. Bahkan, untuk menuju lokasi tersebut warga harus melintasi kebun tebu dan sengon. Sangat berbeda jauh dengan candi-candi pada umumnya yang aksesnya lebih mudah.

Bahkan, orang yang belum mengetahui keberadaan candi itu tidak akan sadar bahwa di lokasi tersebut menyimpan benda-benda bersejarah. Ada 9 batu yang berserakan di lokasi tersebut. Dua diantaranya menyerupai relief kepala naga.

Lokasinya sudah terpisah. Bahkan, salah satunya sudah ada yang mengecat dengan warna putih. Posisinya tertanam miring dekat sungai yang melintasi kawasan tersebut. Sementara lainnya, ada yang berbentuk kotak seperti tubuh candi pada umumnya.

Paidi, 70, warga lainnya mengatakan. Di kawasan tersebut dulunya dijaga oleh sepasang suami istri. “Mereka seperti juru kunci,” katanya. Saat itu, kondisi candi lengkap seperti candi pada umumnya. Mulai dari batur, tubuh, sampai atap.

Di kawasan itu, juga ada sebuah kolam yang menjadi tempat main bagi anak-anak sekitar. Sepeninggal dua orang itulah, baru kondisi candi tak terawat. Bahkan, sekitar 1990-an silam, sebuah batu sempat raib dicuri orang. Beredar kabar, batu itu dijual seseorang ke kolektor yang ada di Bali dengan harga Rp 50 juta.

Meski batu itu sempat kembali karena dicari oleh warga, belakangan batu itu raib lagi. Kali ini selama-lamanya. “Waktu hilang banyak orang nyari. Mungkin karena dicari itu, pencurinya mengembalikan ke posisi semula. Tapi setelah itu hilang lagi dan warga tak lagi mencari,” timpal Solehuddin.

Kini kondisi candi sudah tak beraturan. Bahkan, di luar 9 bebatuan yang masih berkumpul, beberapa diantaranya dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat pijakan di sungai. Satu di antaranya menurut Solehuddin, berbentuk batu dengan relief tangan memegang pentung.

Solehuddin mengaku, beberapa tahun silam ada sekumpulan mahasiswa yang melakukan penelitian arkeologi di lokasi tersebut. “Tapi setelah itu, tidak tahu lagi apa hasilnya,” katanya.

Ia juga mengaku pernah kedatangan wisatawan dari Asutralia yang juga tertarik mengunjungi candi tersebut. “Saya tahu karena saya sendiri yang mengantarkan wisatawan itu ke sini,” katanya. (ist)

Add Comment