Kisah Panji Kembar dari Lamongan

foto
Gentong air dan alas tikar di Masjid Agung Lamongan sebagai tanda lamaran Panji Laras dan Panji Liris. Foto: Twitter.

Salah satu wilayah yang memiliki tradisi pernikahan unik dimana pihak perempuan yang meminang pihak laki-laki terdapat di Lamongan.

Meskipun hanya berlaku di sekitar Pantai Utara Lamongan, tradisi tersebut diyakini sebagai adat yang harus dipertahankan masyarakat ditengah pesatnya perkembangan peradaban.

Munculnya tradisi tersebut tak lepas dari cerita rakyat yang berkembang, yaitu cerita Panji Laras dan Panji Liris.

Menurut buku ‘Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur‘, cerita rakyat Panji Laras dan Panji Liris berasal dari Desa Babadan, yang berada di tepi Kali Lamong, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan.

Alkisah pada saat puncak perang saudara yang melanda Kerajaan Majapahit, yang mengakibatkan kerajaan tersebut melemah dan tidak lagi memiliki wibawa.

Menurut buku terbitan Kemendikbud tahun 2013 itu, Adipati Kediri sebagai kerajaan yang lebih tua dan keturunan sah dari Prabu Airlangga berniat mengambil alih kekuasaan Majapahit. Tapi meski keadaan Majapahit saat itu sudah semakin lemah, masih terlalu kuat dihadapi Kediri sendiri.

Apalagi Adipati Kediri masih sedikit ragu, apakah orang-orang yang berada di pesisir utara Jawa seperti Gresik, Lamongan, Tuban, dan Surabaya, yang telah banyak menganut Islam akan mendukungnya. Selain itu, daerah-daerah tersebut telah menjadi urat perdagangan di Nusantara sehingga perannya tidak dapat disepelekan.

Dalam buku bunga rampai yang ditulis bersama oleh Ayu Sutarto, Akhmad Sofyan, Sugeng Adipitoyo, Rokmat Djoko Prakoso, dan Ikwan Setiawan itu disebutkan bahwa Adipati Kediri berfikir tentang cara melakukan koalisi dengan wilayah-wilayah yang ada di sekitar pesisir utara Jawa.

Sampai suatu ketika dia mendengar kabar bahwa Adipati Lamongan saat itu Raden Panji Puspokusumo yang keturunan Raja Majapahit ke-14 Hayam Wuruk, memiliki dua orang putra kembar bernama Panji Laras dan Panji Liris.

Pun juga dengan Adipati Kediri juga memiliki dua orang putri kembar bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Sehingga niatnya menjodohkan kedua putri kembarnya dengan kedua putra kembar Adipati Lamongan dapat digunakan sebagai langkah koalisi mengepung Majapahit dari dua sisi yaitu Kediri di Selatan dan Lamongan di Utara.

Adipati Lamongan merasa bimbang akan niat Adipati Kediri tersebut. Bila Raden Panji Puspokusumo menerimanya, dia takut pembalasan Majapahit kalau rencana kudeta bersama Kediri gagal total.

Namun bila menolaknya dan Kediri berhasil menggulingkan Majapahit, Kediri juga akan membalas penolakannya tersebut. Disamping itu, bila terjadi perang saudara lagi, ekonomi dan perdagangan yang saat itu dikuasai orang-orang pesisir utara Jawa nantinya pasti akan terganggu.

Merasa bingung memikirkan hal tersebut, maka sebelum dilakukan perjodohan, Adipati Lamongan mengajukan tiga persyaratan yang harus dipenuhi Adipati Kediri. Pertama, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi harus mau memeluk Islam. Kedua, pihak keluarga mempelai perempuanlah yang harus melamar pihak pria. Ketiga, pihak mempelai perempuan harus datang dengan membawa hadiah berupa gentong air dan alas tikar yang terbuat dari batu.

Adipati Kediri bersedia memenuhi semua persyaratan yang diajukan. Maka Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi berangkat diiringi rombongan besar yang mengawal mereka ke Lamongan. Panji Laras dan Panji Liris diminta Raden Panji Puspokusumo menjemput iring-iringan tersebut di tapal batas Lamongan dengan ditemani Ki Patih Mbah Sabilan.

Pada saat itu Lamongan sedang mengalami Banjir akibat meluapnya Kali Lamong, sehingga Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi terpaksa mengangkat kainnya sampai paha agar kainnya tidak basah. Akibatnya Panji Laras dan Panji Liris bisa melihat kaki Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi ternyata berbulu lebat. Panji Laras dan Panji Liris menolak menikahi mereka serta meminta rencana pernikahannya dibatalkan.

Sontak Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan Panji Laras dan Panji Liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan hingga bunuh diri, orang-orang Kediri menjadi marah dan ingin membunuh Panji Laras dan Panji Liris. Akibatnya perang tak dapat dihindari.

Keadaan Panji Laras dan Panji Liris dalam bahaya. Ki Patih Mbah Sabilan berjuang melindungi mereka. Namun perjuangan tinggallah perjuangan, akhirnya Ki Patih Mbah Sabilan tewas dalam rangka melindungi nyawa Panji Laras dan Panji Liris.

Setelah patihnya tewas, orang-orang lamongan yang ikut rombongan penjemputan makin terdesak. Bahkan akhirnya Panji Laras dan Panji Liris ikut tewas dalam pertempuran.

Jenazah Mbah Sabilan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan, Kota Lamongan, sedangkan jenazah Panji Laras dan Panji Liris tidak diketahui lagi keberadaannya.

Orang-orang Kediri tidak puas hanya menewaskan Ki Patih Mbah Sabilan, Panji Laras, dan Panji Liris. Mereka terus merangsek hingga masuk ke pendopo Lamongan. Dalam pertempuran di pendopo kadipaten tersebut, Raden Panji Puspokusumo ikut pula gugur. Namun sebelum gugur beliau sempat berpesan agar kelak anak cucunya tidak ada yang menikah dengan orang Kediri.

Cerita rakyat inilah yang hingga kini melegitimasi pernikahan unik di Pesisir Utara Lamongan, dimana pihak perempuanlah yang akan melamar pihak laki-laki. Barulah setelah cocok mereka akan melangsungkan pernikahan.

Namun pesan Raden Panji Pusponegoro terhadap anak cucunya tidak lagi berlaku. Dimana hari ini tidak ada tradisi atau adat yang melarang pernikahan antara orang Lamongan dengan orang Kediri. (rba)

Add Comment