Menggagas Kampung Budaya Polowijen

foto
Seniman membawakan tari topeng di kawasan Situs Budaya Topeng di Polowijen, Malang. Foto: Antara.

Kampung Polowijen mempunyai potensi besar menjadi kampung budaya, membangkitkan ekonomi kreatif lokal, serta daya tarik wisata budaya Kota Malang.

Polowijen adalah sejarah tentang Ken Dedes, ibu dari raja raja besar di tanah Jawa. Mulai petilasan Sumur Windu Ken Dedes dan Mandala Empu Purwa, petilasan Joko Lulo, Makam Mbah Reni penemu Topeng Malangan.

Ada Mbok Gundari penari Topeng Malangan, kini menjadi ikon budaya Malang dan telah ditetapkan sebagai situs budaya Polowijen oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang.

Ketua Tosan Aji, Ajisaka Raden Prasena Cokro Adiningrat menceritakan, sejarah kampung Polowijen harus dipahami masyarakat bahwa keberadaan situs-situs budaya di Polowijen sudah semestinya mampu membangkitkan ekonomi kreatif.

Sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang menjadi khasanah dan referensi pengembangan pariwisata di Kota Malang.

“Sentra-sentra industri kreatif seperti kerajinan topeng, gerabah, seni pahat, desain, fashion, handycraft, seni pertunjukan serta kuliner dapat tumbuh seiring dengan meningkatnya sosialisasi dan informasi keberadaan situs Polowijen,” kata Ajisaka dalam Sarasehan Kampung Budaya Polowijen di Malang, akhir Desember 2016 lalu, seperti dikutip Suara.com.

Budayawan Malang, Romo Djathi Kusumo menambahkan, pada tahun 1993 dirinya telah membuat film dokumenter Ken Dedes dan bertindak menjadi sutradara. Dia berjanji akan memberikan dokumen film itu kepada masyarakat Polowijen agar bisa ditonton dan dipahami oleh khalayak ramai.

Romo Djathi menuturkan kala itu Empu Purwa datang pertama kali ke tanah Jawa tepatnya di lereng Gunung Arjuna bersama istrinya yang sedang mengandung putri Ken Dedes.

“Bahwa Panawijen sebagai tanah suci sehingga Empu Purwa mendirikan asrama perguruan yang merupakan wiyata mandala keagamaan Budha jaman itu,” ujarnya.

Sarasehan Kampung Budaya Polowijen ini dihadiri antara lain penggagas kegiatan Ki Demang (Isa Wahyudi), budayawan Romo Djathi Kusumo, Ajisaka Raden Prasena Cokro Adiningrat, Komunitas Pecinta Topeng Malangan Yudit Perdananto dan Ahmad Nasai, anggota Komisi D DPRD Kota Malang Erni Farida, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Polowijen Muhammad Effendi, akademisi, serta warga Polowijen.

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Erni Farida mengatakan bahwa Kampung Polowijen dulu namanya Panawijen, sebagai kampung kuno yang mempunyai banyak situs bersejarah.

Dalam hal ini, Erni mengajak masyarakat turut serta melestarikan dan membangun budaya dengan cara merawat dan membangkitkan kejayaan seni tradisi yang dulu pernah ada.

“Jika masyarakat mau kembali belajar berkesenian seperti karawitan, latihan tari topeng Malangan, serta kesenian-kesenian lainnya, saya siap memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” katanya dalam sarasehan.

Sementara Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Polowijen Muhammad Effendi menceritakan, Polowijen telah mengalami masa 3 kejayaan yang sangat terkenal, yaitu Ken Dedes yang melahirkan raja-raja besar di Jawa dengan situs Sumur Windunya.

Kedua, Topeng Malangan yang tersebar di Malang Raya yang dalam sejarahnya berasal dari Polowijen. Dan ketiga, hasil usaha ekonomi masyarakat seperti olahan keripik buah sangat terkenal dan sudah mendunia dipasarkan di banyak negara.

“Masyarakat harus bangkit untuk membangun gerakan budaya mulai dari budaya dan berkesenian sampai dengan budaya kerja kreatif, budaya hidup sehat, budaya lingkungan bersih, budaya gotong-royong, budaya kerja yang menjadi inti dan ruh kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.

Penggagas kegiatan sarasehan Kampung Budayawa Polowijen Ki Demang mengatakan selain situs Ken Dedes dan Mandala tempat pertapaan Empu Purwo, situs budaya Polowijen juga asal lahirnya topeng Malang yang diciptakan dan dikembangkan Tjondro Suwono atau akrab dipanggil Mbah Reni.

Mbah Reni ini kemudian mendapat julukan Kyai Sungging Adi Linuwih Bupati RAA Soeriohadiningrat (1889-1928) sebagaimana tertulis di buku Belanda terbitan 1938, yang oleh sejarawan Ong Hok Ham melakukan penelitian tentang Topeng Malang.

Topeng Malang dalam perkembangannya banyak ditemui di Kabupaten Malang, diantaranya di Tumpang, Jabung, Srenggeng, Pakisaji, dan Jatiguwi di Kabupaten Malang.

Masyarakat tak cukup mengerti cerita kebesaran dan kejayaan kampung Polowijen. Lebih dari itu, masyarakat perlu membangun kembali kesadaran masyarakat tentang arti penting berkebudayaan.

Sehingga dapat menggali potensi, membangkitkan ekonomi, memunculkan inspirasi dan kreasi-kreasi baru yang menarik sebagai salah satu upaya melestarikan warisan sejarah, kebudayaan dan wisata budaya di Polowijen. “Hal itu sebagai salah satu upaya melestarikan warisan sejarah, kebudayaan dan wisata budaya di Polowijen,” tukasnya. (ist)

One thought on “Menggagas Kampung Budaya Polowijen

Add Comment