Belajar Ajaran Moral di Relief Candi

foto
Relief kerbau dan buaya di Candi Penataran Blitar. Foto: Youtube.com.

MASYARAKAT kuno mempunyai berbagai cara untuk mengajar generasi mudanya. Ajaran yang bersifat mendidik dipandang merupakan tonggak untuk mencapai hidup rukun.

Pada masa sekitar seribu tahun lalu, candi merupakan tempat ibadah yang banyak didatangi masyarakat. Maka, agar segala ajaran baik tentang kecerdikan, tingkah laku, dan nasihat mudah diserap oleh masyarakat, dipahatkanlah ajaran-ajaran itu pada dinding candi-candi dalam bentuk panil relief.

Kisah dalam relief, seperti ditulis Hurahura.wordpress.com, dibuat beragam, namun yang paling dikenal dalam bentuk fabel. Kisahnya berupa pengalaman dan petualangan tokoh hewan. Dulu fabel bisa diterima dengan baik oleh anak-anak sampai orang dewasa.

Ajaran moral nenek moyang banyak tergambar dari candi-candi Buddha dan Hindu di Jawa dari berbagai masa. Salah satu kisahnya terdapat pada Candi Mendut. Candi yang bersifat Buddha ini berlokasi tidak jauh dari Candi Borobudur.

Kisah fabel pada candi-candi Buddha biasanya bertema ajaran moral, misalnya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, tolong-menolong selalu dibutuhkan, dan kecerdikan mampu menyelesaikan masalah.

Panil batu yang berisi relief memang tidak begitu banyak. Para arkeolog berhasil mengidentifikasi berdasarkan fungsi candi pada masa dulu. Diketahui bahwa kisah-kisah itu dipahat berdasarkan petikan dari kitab Jataka dan Tantri Kamandaka. Kedua kitab itu dikenal penuh dengan ajaran tamsil ibarat dan falsafah kehidupan yang dalam.

Cerita fabel juga terdapat pada Candi Panataran di Jawa Timur. Berbeda dengan Candi Mendut, Candi Panataran bersifat Hindu. Berbagai ajaran budi pekerti yang mengandung pembelajaran diselipkan nenek moyang kita di sini, di antara relief-relief cerita lain seperti Ramayana dan Kresnayana. Misalnya saja cerita tentang buaya yang tak tahu membalas budi.

Relief Buaya dan Kerbau
Dikisahkan, seekor buaya tiba-tiba tertimpa sebatang pohon. Beruntung, dia jatuh ke tempat yang berlubang sehingga mampu menyelamatkan diri. Ketika seekor lembu melintas di depannya, buaya meminta pertolongan. Sang lembu yang baik hati itu pun berhasil menyingkirkan pohon yang tumbang.

Sang buaya yang sudah terbebas kemudian meminta pertolongan lagi agar sang lembu bersedia mengantarkannya ke sungai. Setibanya di sungai, sang buaya bukannya berterima kasih malah menggigit sang lembu.

Terjadilah perkelahian seru. Namun karena sang buaya terkenal dengan julukan ’raja air’, maka sang lembu pun terdesak.

Sekonyong-konyong datanglah sang kancil bertindak sebagai wasit perkara. Kancil meminta agar buaya dikembalikan ke tempat kejadian semula sewaktu tertimpa pohon.

Alasannya untuk memudahkan penilaian siapa yang benar dan siapa yang salah. Di tempat itu buaya ditinggal sendirian sampai menemui ajal.

Relief ini terdapat pada dinding kolam sisi barat dan bagian belakang arca dwarapala yang terletak di sebelah kanan tangga masuk bagian candi induk sisi utara.

Pelajaran yang bisa diambil tentu saja adalah persoalan balas budi dan kebaikan yang dibalas dengan kejahatan. Sebenarnya di Candi Mendut dan Candi Panataran masih banyak terdapat relief fabel. Belum lagi pada candi-candi lain.

Ajaran moral ini telah terpahat selama ratusan tahun di dinding-dinding candi, bahkan ada yang lebih dari seribu tahun. Meskipun begitu, ajaran moral demikian tetap relevan dan abadi sampai kapanpun.

Kearifan dari masa lampau ini tentu saja patut menjadi perhatian generasi masa kini. (Djulianto Susantio, Majalah Arkeologi Indonesia)

Add Comment