Intip Budaya Gresik Lewat Aplikasi ITrip

foto
Karina Pradinie Tucunan (kanan) bersemangat menunjukkan Itrip Budaya bersama mahasiswanya, Wahyu Septiana. Foto: JawaPos.com.

KEDUA mata Karin, panggilan akrab Karina, terlihat sembap. Sambil menikmati bandeng bakar, perempuan 32 tahun itu sibuk mengutak-atik ponselnya. Senyumnya mengembang.

”Setelah susah payah, akhirnya jadi. Aplikasi ini belum sempurna,” ujar Karin semringah seperti dikutip JawaPos.com. Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memamerkan karyanya: sebuah aplikasi Android bernama Itrip Budaya.

Isinya produk tentang objek-objek wisata di Kota Pudak. Karin mengaku dirinya sebagai penggagas program tersebut. Namun, dia tidak sendirian menggarapnya. Ibu satu anak itu dibantu Tim Cagar Budaya Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS.

“Program ini hasil penelitian tahun 2016. Untuk survei, saya juga dibantu anak-anak kesayangan,” kata Karin. Dia lantas menoleh ke arah salah seorang mahasiswanya, Wahyu Septiana.

ITrip Budaya diluncurkan pada pertengahan Desember 2016 lalu. Aplikasi itu mengupas objek-objek wisata di Kota Pudak. Selain makam-makam Islam sebagai wisata religius, program tersebut memuat peta jalur kunjungan ke Kampung Kemasan dan pantai-pantai di Gresik.

Muatan materi lain akan ditambahkan. Sebab, ITrip Budaya masih dikembangkan. Misalnya, tambahan daftar penginapan di sekitar objek wisata. Termasuk tarif kunjungan. Karin dan teman-temannya tiada berhenti berkreasi.

Dia menambahkan pula fitur macam-macam kuliner. Acara penting yang diagendakan pemkab juga di-update. Dengan begitu, pangakses program tidak sulit berselancar di seputar dunia wisata Kota Giri.

“Mungkin aplikasi lain banyak. Namun, tetap ada yang membedakan,” imbuh Karin. Putri pertama di antara tiga bersaudara itu menjelaskan, ITrip dilengkapi kotak saran dan pertanyaan secara online.

Peselancar bisa menemukan informasi yang tak tersaji dalam aplikasi. Karin girang. Berdasar pengamatannya, program itu mulai diburu. Pengunduhnya semakin banyak.

Tentu, dosen pengajar bidang perencanaan kota di ITS tersebut belum puas. Dia optimistis minat masyarakat untuk berkunjung ke Gresik terus bertambah. Termasuk warga asing.

“Saya bermimpi, objek wisata jadi pusat ekonomi masyarakat. Jadi, pelaku usaha bisa merasakan manisnya keberadaan cagar budaya,” ujar Karin.

Mengapa ngotot ingin mengembangkan wisata Gresik? Karin menilai Kota Pudak sebagai daerah unik. Gresik memiliki banyak objek wisata berupa makam Islam. Selain itu, cagar budaya Kampung Kemasan berdiri kukuh.

Karin melihat potensi itu belum tergarap maksimal. Keinginan Karin juga tidak terlepas dari kehidupannya sewaktu kecil. Perempuan yang murah senyum tersebut masih ingat betul saat tinggal di Kampung Kemasan.

Tingkah laku dan pengalaman main petak umpet masih menggoda memorinya. “Sebenarnya saya masih ada hubungan darah dengan salah satu masyarakat pemilik rumah di Kampung Kemasan. Meski, jauh,” imbuhnya.

Banyak cerita di objek wisata tersebut. Dia ingin cagar budaya itu semakin termasyhur. Anak Sri Priyantini tersebut ingin potensi wisata di kota kelahirannya semakin berkembang. Gresik kaya budaya.

Kota unik yang masih memiliki adat-adat kerukunan di masyarakat. “Sekarang sudah lahir batik Gajah Mungkur. Saya ingin masyarakat lain berkreasi,” ujar penghobi membaca tersebut.

Karin ingin setiap cagar budaya ditata ulang. Wisata harus memberikan spot untuk pelaku usaha. Harapannya, di masing-masing lokasi rekreasi tumbuh pusat oleh-oleh khas Gresik. ”Produk pelaku usaha akan kami masukkan ke aplikasi ITrip,” ucapnya, lantas tersenyum. (ist/JP)

Add Comment