Uang Gobog Majapahit, Koin untuk Kuil

foto
Uang Gobog Wayang Majapahit dari buku The History of Java. Foto: Pidipedia.com.

INDONESIA merupakan negara kepulauan dengan keadaan alam sangat melimpah dan terletak di jalur khatulistiwa. Letak tersebut membuat kepulauan Nusantara ini menjadi destinasi pedagang asing singgah ke Indonesia.

Pedagang asing dari berbagai negara mulai singgah ke Nusantara sejak jaman kerajaan-kerajaan besar yang berkuasa di Indonesia. Kekayaan alam Nusantara yang melimpah membuat kerajaan-kerajaan tersebut mendapat kerjasama perdagangan dengan negara lain.

Namun dalam urusan mata uang, Nusantara masih terbilang muda dalam mengenal mata uang sebagai alat pembayaran. Karena pada masa itu, kebanyakan mereka masih menggunakan cara barter, baik hasil perkebunan, ternak ataupun beberapa jenis keping logam tarmasuk perak dan emas, tapi bukan berupa mata uang resmi kerajaan.

Tercatat pada sejarah, bahwa negeri ini baru mempunyai uang resmi pada sekitar abad ke-8, yang disebaban karena adanya pengaruh dari mitra negara-negara tetangga, yang juga berdagang disaat itu namun sudah mempunyai mata uangnya sendiri (seperti Arab, China dan India).

Sejarah uang Indonesia dimulai sejak masa jaya Kerajaan Mataram Kuno, yakni sekitar tahun 850 M. Kerajaan ini menggunakan koin-koin emas dan perak berbentuk kotak sebagai alat tukarnya.

Sedangkan mata-uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal:
– Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
– Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
– Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak

Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).

Koin emas jaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) hanya berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”.

Dibelakangnya terdapat incuse (lekukan kedalam) yang dibagi dua bagian, masing-masing semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma”, singkatan dari Masa, dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.

Kerajaan Syailendra akhirnya meluaskan wilayahnya hingga ke daerah-daerah timur Jawa. Dimana pelabuhan-pelabuhannya seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya banyak kedatangan para pedagang dari manca negara.

Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhannya merupakan daerah maritim, akhirnya semakin maju dibandingkan dengan kerajaan induknya di Jawa Tengah yang merupakan daerah agraris.

Pada jaman Dinasti Tang di China (618-907 Masehi), orang-orang China mulai berdatangan ke tanah Jawa untuk melakukan perdagangan.

Mereka membawa dan memperkenalkan mata-uangnya yang disebut Cash atau Caixa, Cassie, Pitje, atau orang Jawa menyebutnya Kepeng atau Gobok, dengan ciri khas terdapat lubang persegi di tengah. Koin-koin China ini lambat laun dapat diterima penduduk sebagai alat pembayaran.

Pada kira-kira tahun 928 Masehi, Gunung Merapi meletus dahsyat, yang mengakibatkan rusaknya hampir seluruh sendi-sendi perekonomian kerajaan.

Karena alasan diatas, disamping semakin majunya daerah Jawa Timur, maka pada tahun 929 diputuskan memindahkan ibukota kerajaan, dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Nantinya Raja Mpu Sendok membagi wilayah Jawa Timur menjadi dua untuk dibagikan kepada dua orang anaknya, menjadi wilayah Daha dan Jenggala.

Pada era Kerajaan Jenggala (1042-1130-an) dan Kerajaan Daha (1478-1526) uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya.

Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung dengan diameter antara 13-14 mm.

Pada waktu itu, uang kepeng China yang didatangkan pedagang Cina sebagai alat tukar dan barter begitu banyak. Sedemikian banyaknya maka dipakai juga secara ‘resmi’ sebagai alat pembayaran, menggantikan fungsi mata uang lokal emas dan perak.

Adapun alasan-alasan dari penggantian fungsi ini adalah ukuran koin emas dan perak lokal terlalu kecil, sehingga mudah jatuh atau hilang. Sedangkan uang kepeng China mempunyai lubang ditengah. Direnteng dengan tali sebanyak 200 keping, sehingga praktis dibawa kemana-mana dan tidak mudah hilang.

Koin emas dan perak lokal adalah mata-uang dalam pecahan besar, sedangkan koin-koin kepeng berfungsi sebagai uang kecil atau uang receh, yang sangat dibutuhkan dalam perdagangan.

Nilai tukar untuk 1 Masa perak berharga 400 buah Chien. Dan pada akhir abad ke-9, dengan 4 Masa perak saja bisa membeli seekor kambing.

Sebenarnya koin-koin emas dan perak yang sudah mengalami perubahan bentuk adalah produk dari Daha dan Jenggala. Namun karena Kerajaan Majapahit (1293-1528) pada waktu itu merupakan kerajaan besar di Asia Tenggara, maka biasanya orang menamai koin itu sebagai uang Majapahit.

Uang Gobog Wayang
Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali termasuk di situs kota Majapahit ini, kebanyakan berupa perkembangan dari dinasti sebelumnya.

Ada uang “Ma”, zaman dinasti Syailendra yang dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Juga beredar mata uang emas dan perak dengan satuan tahil. Yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan “ta” dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, antara 2,4–2,5 gram.

Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segi empat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali.

Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan adalah cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar.

Tanda “tera” atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga teratai (?) dalam bidang lingkaran atau segi empat.

Jika dikaitkan dengan kronik China dari zaman Dinasti Song (960–1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.

Pada zaman Majapahit, keping koin ini dikenal atau disebut sebagai “Gobog Wayang”. Untuk pertama kalinya diperkenalkan Thomas Raffles, dalam bukunya ‘The History of Java’. Bentuknya bulat dengan lubang kotak ditengah karena pengaruh dari koin China.

Koin Gobog Wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Hanya sebagai koin token. Koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut juga sebagai ‘koin-koin kuil’. (sak/sumber: student.unud.ac.id)

Add Comment