Potensi Penataran jadi Desa Wisata Budaya

foto
Keberadaan Candi Penataran menjadi syarat utama Desa Penataran menjadi Desa Wisata Budaya. Foto: Ist.

DESA Penataran terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa timur atau berada di lereng barat daya gunung Kelud. Desa ini berkembang pesat karena sejarah suatu tinggalan warisan cagar budaya yaitu situs Candi Penataran.

Nama desa ini sama dengan penamaan candi karena menurut sejarah berdirinya candi di desa ini di latar belakangi adanya tiga kerajaan Hindu yang berkuasa di daerah Blitar.

Desa Penataran ini layak dan memiliki potensi besar sebagai desa wisata budaya nasional maupun internasional karena candi Penataran yang ada di desa ini juga telah di daftarkan kepada UNESCO untuk mendapat status World Heritage.

History
Sejarah merupakan hal yang paling penting untuk diketahui dari adanya suatu desa yang berpotensi sebagai desa wisata budaya. Hal tersebut dapat membantu untuk mengetahui identitas dan asal usul suatu wilayah. Sejarah desa Penataran tidak lepas dari keberadaan candi Penataran.

Desa Penataran merupakan pusat dimana kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit membangun sebuah bangunan suci yang bernama Palah (dalam kitab Negarakertagama) yang digunakan sebagai tempat pemujaan sebagai upaya untuk menangkal mara bahaya yang disebabkan letusan Gunung Kelud.

Bangunan candi dibangun pada 1194 M oleh Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Crengalancana Digwijayottunggadewa yang merupakan raja kerajaan Kadiri yang berkuasa pada tahun 1190–1200 M.

Kemudian, bangunan candi dilanjutkan Kertanegara mulai tahun 1286, lalu dilanjutkan Jayanegara, Tribuanatunggadewi, serta Hayam Wuruk. Bangunan candi ini diperkirakan dibangun sekitar 250 tahun yang meliputi 3 masa kerajaan Kadiri, Singhasari dan Majapahit.

Ketika kerajaan Majapahit yang dipimpin Hayam Wuruk berkunjung ke bangunan candi ini dan melakukan pemujaan di tempat ini, kerajaan terbesar di Jawa Timur ini memberikan pengaruh besar pada wilayah Kota Blitar khususnya desa Penataran.

Dilihat dari relief candi, mengungkap bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal tersebut terlihat dari relief yang menceritakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pernah melakukan ekspansi hingga benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian serta sempat berperang dengan bangsa Maya.

Selain itu, beberapa relief menggambarkan beberapa bangsa seperti bangsa Han (China), Campa, Maya, Yahudi, dan Mesir telah tunduk pada leluhur kita.

Disamping hal tersebut, terdapat relief yang menggambarkan 3 spesies yaitu ras manusia kera, ras raksasa, dan manusia biasa yang membantah teori darwin bahwa jasad manusia jaman dahulu diperabukan. Tapi hal tersebut masih belum tentu kebenarannya karena pendapat tersebut hanya berasal dari beberapa ahli.

Pada kala tersebut, nama Blitar masih bernama Balitar (bali dadi latar). Candi Penataran merupakan ikon sejarah terbesar yang dimiliki Blitar.

Di candi tersebut dan atau di wilayah desa Penataran pernah berlangsung upacara-upacara pengangkatan raja Kadiri, Singhasari, dan Majapahit. Di desa dan candi ini pula, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara.

Walau Candi Penataran telah menjadi destinasi wisata, tetapi lingkup desa ini belum menjadi perhatian banyak pihak sebagai lokasi desa wisata budaya.

Padahal, wilayah desa Penataran tersebut juga perlu dikelola karena berpotensi menjadi desa wisata budaya. Wilayah desa Penataran perlu dikembangkan lebih lanjut, karena desa tersebut juga menyimpan banyak sejarah perjalanan tiga kerajaan besar yang pernah singgah di kota Blitar.

Heritage
Heritage dalam kasus ini merupakan situs cagar budaya atau tinggalan arkeologis yang menyebabkan suatu desa yang memiliki situs tersebut layak dijadikan sebagai desa wisata budaya.

Candi Penataran dibangun sebagai tempat pemujaan Hayam Wuruk (Majapahit) untuk menyembah Hyang Acalapati atau dikenal sebagai Girindra (Raja Gunung).

Beberapa ahli mengatakan pula bahwa candi ini merupaan tempat perabuan Ken Arok (pendiri kerajaan Singhasari), serta Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit).

Yang menarik dari candi ini untuk dikunjungi yaitu bangunan-bangunan serta cerita atau pesan moral yang dituangkan dalm bentuk relief-relief yang terpahat pada dinding candi.

Selain itu, pemandangan di wilayah candi Penataran sangat indah serta udara di sekitar lokasi tersebut sangat sejuk karena berada di lereng gunung.

Candi Penataran berlatar Gunung Kelud ini memiliki tinggi 7,19 meter yang membuat candi ini tampak megah serta adanya relief-relief pada bagian dinding pilar, pahatan arca singa bersayap dan naga bersayap dengan posisi kepala menghadap ke depan semakin menambah nilai estetika pada candi ini.

Candi penataran dibangun di atas lahan dengan luas ± 1,3 hektar. Candi ini sejak 1995 telah didaftarkan sebagai calon Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO dalam kategori budaya.

Habitat
Habitat merupakan definisi lingkungan beserta kebudayaan dan tradisi yang ada di dalamnya. Pada desa Penataran ini, lingkungan sekitar beserta isinya merupakan habitat dari desa tersebut.

Desa Penataran secara administratif terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar Jatim. Desa ini berada pada lereng atau kaki gunung Kelud sehingga wilayah desa ini masih subur dan sejuk.

Selain suasana desa yang masih alami, terdapat juga kebudayaan dan tradisi yang masih dilestarikan masyarakat hingga sekarang. Ada 2 tradisi yang selalu dilakukan warga Desa Penataran di Kompleks Candi Penataran yaitu Pagelaran Purnama Seruling Penataran dan Tumpeng Agung Nusantara.

Pagelaran Purnama Seruling Penataran atau disingkat PSP merupakan acara atau tradisi rutin yang dilaksanakan setiap 3 bulan sekali di Candi Penataran yang merupakan festival budaya bergengsi di Blitar.

Sedangkan Tumpeng Agung Nusantara merupakan acara atau ritual yang diselenggarakan setiap tanggal 27 Juni untuk memperingati berdirinya Candi Penataran pada 27 Juni 1197. Tumpeng Agung Nusantara ini biasanya dikirab dari situs Umpak Balekambang menuju situs Komplek Candi Penataran.

Kedua tradisi tersebut merupakan bukti bahwa dahulu, Desa Penataran merupakan desa yang berperan penting dan menjadi saksi sejarah kebudayaan yang tumbuh di wilayah tersebut.

Handcraft
Handcraft merupakan kerajinan yang dibuat manusia menggunakan tangan langsung baik dengan bantuan mesin maupun murni karya tangan manusia.

Di Desa Penataran terdapat beberapa kerajinan tangan yang dihasilkan sebagai oleh-oleh dan pernak—pernik dari kompleks situs Candi Penataran.

Beberapa hasil karya masyarakat Desa Penataran tersebut antara lain pakaian atau topi bertuliskan Penataran atau I Love Blitar. Sedangkan cidera mata lain yang khas dengan adanya situs tinggalan arkeologis di desa tersebut yaitu miniatur candi Penataran baik yang terbuat dari kaca maupun kayu.

Masyarakat telah memproduksi pernak-pernik tersebut sejak Candi Penataran dikenal di kalangan umum dan dijadikan sebagai lokasi wisata. Beberapa pengerajin miniatur candi tersebut membuka kios-kios untuk menjual hasil kerajinan mereka.

Dengan adanya situs arkeologis yang telah menjadi tujuan wisata serta potensi desa Penataran yang dapat menjadi desa wisata budaya merupakan hal yang dapat menguntungkan di bidang ekonomi dan mata pencaharian masyarakat sekitar.

Oleh sebab itu, dengan adanya masyarakat yang dapat membuat hasil karya sebagai pernak pernik yang khas dari desa tersebut, tidak salah jika wilayah Desa Penataran menjadi Desa Wisata Budaya yang dikenal hingga ke mancanegara. (ist/sumber student.unud.ac.id)

Add Comment