Bhinneka Tunggal Ika, Warisan Mpu Tantular

foto
Lukisan Bali yang dibuat dari kisah dalam kitab Sutasoma. Foto: Heurist.sydney.edu.au.

KATA Bhinneka Tunggal Ika menjadi magnet semboyan bagi bangsa Indonesia, sebuah konsep multikultural yang mampu mengangkat dan menunjukkan keanekaragaman bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebuah warisan berharga bagi bangsa yang dilahirkan memiliki perbedaan suku, etnis dan agama. Indonesia sungguh beruntung memliki satu sikap pandangan ini.

Sebuah kata Bhinneka Tunggal Ika yang ada dalam lambang negara Burung Garuda, menghiasi dinding setiap kantor, sekolah dan rumah saja, tetapi seringkali menjadi kutipan dalam berbagai pidato pejabat, terlebih-lebih jika sedang terjadi peristiwa genting yang dianggap dapat mengancam kelangsungan persatuan bangsa dan kesatuan negara.

Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah karya sastra agama yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap akan berbunyi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Irawan Joko Nugroho seorang penulis buku Meluruskan Sejarah Majapahit, seperti dikutip di Kemenag.go.id mengatakan Bhinneka Tunggal Ika merupakan sastra agama yang tertuang dalam kakawin Sutasoma, namun implementasi dari konsep ini dijabarkan dalam kitab NegaraKertagama yang dikarang Mpu Prapanca.

Dalam Bhinneka Tunggal Ika dijabarkan tentang sebuah cerita epis yang amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Kakawin ini digubah oleh Mpu Tantular pada abad ke-14, pada masa keemasan Majapahit di bawah kekuasaan prabu Rajasanagara atau Raja Hayam Wuruk.

“Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam khasanah sejarah sastra Jawa atau bisa dikatakan sastra agama. Karena merupakan satu-satunya kakawin bersifat epis yang bernafaskan agama Buddha. Ini menunjukan kalau Mpu Tantular memiliki toleransi keagamaan yang besar,” ujar Irawan, jebolan Sarjana Sastra Jawa Kuno, Universitas Gadjah Mada.

Menurut Irawan, Mpu Tantular seorang penganut agama Buddha, namun orangnya terbuka terhadap agama lainnya, terutama agama Hindu-Siwa. Hal ini bisa terlihat pada dua kakawin atau syairnya yang ternama yaitu kakawin Arjunawijaya dan terutama kakawin Sutasoma. Mpu Tantular memiliki pandangan tentang esesnsi nilai-nilai keagamaan yang universal.

Bahwa agama-agama yang ada harus dihormati. Karena jalan yang harus dilalui untuk menyembah Yang Maha Agung adalah seperti jalan menuju ke gunung orang dapat mencapai puncak gunung itu dari segenap penjuru, dari timur, barat, utara dan selatan.

Artinya, kata Irawan banyak cara orang untuk menmanjatkan doa melalui mediasi berbagai macam kepercayaan atau agama yang diyakini.

Disini Mpu Tantular tidak mempersoalkan latar belakang keyakinan orang, namun yang terpenting bagaiamana membangun toleransi dalam pergaulan sesama kemanusiaan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertuang dalam setia ajaran agama masing-masing.

Irawan menjabarkan dimasa kejayaan Majapahit, tidak terjadi konflik antar agama, dan senantiasa terjadi semangat toleransi kebersamaan. Mpu Tantular menggunakan ungkapan itu khusus kata Bhinneka tunggal Ika untuk merumuskan perpadanan antara Buddha, Hindu dan Siwa yang berlaku di Majapahit pada abad keempatbelas.

Dalam pengertian segala macam aliran agama, alam pikiran, kebudayaan dan politik, yang pada waktu itu memang banyak terdapat di Majapahit. Bisa diartikan berbeda-beda namun mereka tetap bersatu di dalam peraturan di kitab Negara Kertagama tidak ada diskriminasi atau dualisme. Pencapaian ini sudah terbangun kebersamaan, persatuan dalam Negara keprabuan Majapahit.

Konsep ini kemudian diangkat ke dalam ranah politik. Ia menjadi bermakna ’walaupun berbeda-beda (suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya), tetap satu (satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air Indonesia) jua. Dengan menggunakan kalimat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Indonesia, Indonesia mengapresiasi adanya sejarah nasional sebelumnya yaitu masa kejayaan kerajaan Majapahit.

Menurut Irawan tokoh negarawan M Yamin yang memiliki pengetahuan ketatanegaraan, menilai tentang Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar pemikiran cemerlang Mpu Tantular, yang diimplementasikan dalam kitab Negara Kertagama. Dimana Majapahit sebagai kerajaan yang dapat mempersatukan Nusantara.

M Yamin, lanjut Irawan, memiliki pemikiran yang luar biasa, bahwa wilayah Nusantara bukanlah untuk menyatakan luas daerah Majapahit, melainkan wilayah kesatuan geopolitik yang ditentukan Sang Alam sebagai tumpah darah tempat kediaman bangsa Indonesia yang sejak permulaan sejarah menyusun dan menjaga perimbangan kekuasaan terhadap keluar dan kedalam lingkungan mandala tanah dan air Nusantara itu.

Irawan menambahkan kesatuan Nusantara, juga tertulis dalam Nagarakrtagama pupuh 12.6.4 berbunyi: mwang Nusantara sarwa mandalikârastra angasraya akweh mark. Artinya: Dan Nusantara, wilayah yang melingkari, meminta perlindungan, banyak yang menghadap.

Kesatuan Nusantara tersebut terletak pada kata angasraya ‘meminta perlindungan’. Kalimat ini adalah kalimat aktif. Dengan demikian kesatuan Nusantara itu bukan dari paksaan namun dari kesadaran bersama untuk bersatu. (ist)

Add Comment