Saatnya Konservasi Lanskap Budaya

foto
Keberadaan lanskap budaya yang sangat melimpah belum banyak digali. Foto: Whenonearth.net.

Tulisan hasil karya dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya (FMIPA-UB), Dr Luchman Hakim berhasil masuk pada salah satu buku yang diterbitkan Springer. Mengangkat judul “Landscape Ecology in Asian Cultures”, buku ini diterbitkan pada Januari 2011.

Dimuat dalam bab pertama mengenai “Understanding Asian Cultural Landscapes”, dalam tulisannya Luchman mengangkat tentang “Cultural Landscapes of the Tengger Highland, East Java”.

Melalui email kepada Prasetya Online, Luchman menerangkan, melalui tulisan tersebut ia mencoba menjelaskan status lanskap budaya Tengger sebagai salah satu representasi lanskap budaya Indonesia.

Luchman menyampaikan bahwa konservasi pada level lanskap saat ini telah menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan biosfer. Fokus utama konservasi lanskap ini adalah mengurangi berbagai ancaman terhadap bentang alam dan meningkatkan peran bentang alam bagi kesejahteraan manusia.

Pendekatan konservasi lanskap, menurutnya sangat penting karena permasalahan lingkungan hidup saat ini semakin kompleks dan melibatkan banyak komponen yang saling terkait.

“Pendekatan ini memungkinkan lahirnya desain-desain dan skenario bagi pemanfaatan lestari sumberdaya alam dimana aspek-aspek dan kepentingan ekonomi, lingkungan hidup dan kepentingan sosio-kultural masyarakat terakomodir,” ujarnya seperti dikutip Prasetya.ub.ac.id.

Hal ini mengingat pendekatan lanskap melingkupi semua proses ekologis dan faktor sosiokultural sehingga sangat relevan dengan krisis global yang saat ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kehidupan di biosfer.

“Lanskap adalah potensi suatu bangsa, dimana pengelolaan yang tepat akan mendorong kuatnya daya saing bangsa,” katanya.

Di Indonesia, Luchman menambahkan, salah satu potensi yang belum digali adalah keberadaan lanskap budaya (cultural landscape) yang sangat melimpah.

Lanskap budaya adalah salah satu menifestasi dari pengelolaan alam terkait budaya masyarakat setempat yang terbukti lebih berkesinambungan dan tahan terhadap krisis.

Studi tentang lanskap budaya ini bersifat interdisipliner, dimana berbagai ilmu pengetahuan saling terkait di dalamnya. “Di berbagai kawasan di dunia, kajian-kajian konservasi lanskap budaya saat ini sedang digalakkan,” kata dia.

Namun demikian, penelitian tentang lanskap budaya di Indonesia sangat rendah dan bahkan jarang. Akibatnya, pemahaman tentang arti, peran, manfaat dan struktur lanskap budaya sangat kurang.

Lebih lanjut disampaikan, lanskap budaya merupakan manifestasi dari pengelolaan lahan dan sumberdaya dengan pendekatan kultural untuk menjamin keberlangsungan hidup komunitas masyarakat setempat.

Lanskap budaya ini berperan penting dalam penyediaan sumberdaya pangan bagi masyarakat lokal.

“Karena tingkat hayatinya yang tinggi, banyak lanskap budaya berperan dalam penyimpanan cadangan diversitas genetik bagi pemuliaan tanaman dan hewan masa depan,” kata dia.

Selain peran tersebut, lanskap budaya juga mempunyai potensi dalam pengembangan wisata desa yang sampai saat ini belum banyak dikaji secara mendalam. Hal ini, menurut Luchman, terutama tampak pada lanskap budaya Tengger.

“Pendekatan kultural dalam pengelolaan tidak saja ditujukan kepada pemenuhan nilai-nilai spiritual dan kultural masyarakat, namun juga diarahkan untuk menjamin kesinambungan sumberdaya di alam agar tetap mampu dimanfaatkan masyarakat,” Luchman melanjutkan.

Teknik-teknik pengelolaan ini telah dikenal luas sebagai indigenous knowledge, ethnoecology, ethnobiology atau istilah-istilah lain yang merujuk pada peran pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya.

“Dengan memperhatikan aspek-aspek budaya dalam pengelolaan lanskap, diharapkan kedepan dapat disusun strategi pengelolaan lanskap yang lebih dapat diterima oleh masyarakat,” katanya.

Sehingga partisipasi publik dapat muncul secara aktif, mencirikan karakter lokal dan dengan demikian bersifat adaptif, dan mempunyai keaslian yang tinggi sehingga berdaya saing dalam pengembangan wisata desa, pungkasnya. (ist)

Add Comment