Melestarikan Peninggalan dengan Jelajahi Candi

foto
Siswa SMPN 1 Porong bersama guru pembinanya saat berkunjung ke Candi Pari, Sidoarjo. Foto: Jawapos.com.

PULUHAN siswa dan guru sejarah SMPN 1 Porong Sidoarjo mengunjungi Candi Pari di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong. Lokasi situs bersejarah warisan Kerajaan Majapahit itu tak jauh dari SMPN 1 Porong.

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai tempat tersebut dari sekolah. Tak heran, beberapa siswa sudah sering mengunjungi Candi Pari. Mulai berjalan-jalan hingga mempelajari dan memperdalam ingatan mengenai sejarah.

“Kadang anak-anak bersepeda ke sana,” ujar Kepala SMPN 1 Porong Abdul Mujib. Setiap ada event di Candi Pari, para siswa ikut memeriahkannya. “Biasanya, waktu acara peringatan Agustusan, ada acara di Candi Pari. Kami ikut gerak jalan dari Pasar Baru Porong sampai ke lokasi Candi Pari,” timpal guru IPS SMPN 1 Porong Agus Sulistiawan.

Menurut Agus yang mendampingi siswa ke Candi Pari, anak-anak harus dikenalkan dengan sejarah tempat mereka lahir sejak dini. Selain membangkitkan kebanggaan, anak didik diharapkan tidak melupakan potensi daerahnya. “Kami mempelajari sejarah secara tematik. Mulai peninggalan sejarah hingga budaya masyarakat tertentu,” terangnya.

Agar siswa tidak bosan, pembelajaran sejarah di SMPN 1 Porong dikemas kreatif. “Kami belajar pakai media juga,” kata Tunjung Seto, siswa 8H. Dia mencontohkan, saat menjelaskan asal usul seni pewayangan, gurunya langsung membawa banyak wayang. Materi disesuaikan dengan cerita dalam pertunjukan wayang.

Para siswa juga belajar membuat wayang. Mulai menggambar di kertas hingga memotongnya berdasar pola yang sudah dibuat. Selain itu, mereka kerap diminta menyusun naskah drama tentang kisah sejarah tertentu, lalu mementaskannya di depan kelas.

Pelajaran sejarah pun menjadi menarik. Materi lebih mudah diserap. “Biasanya menggelar drama cerita rakyat dan (mengadakan, Red) forum (diskusi) di kelas,” imbuh Seto yang juga ketua OSIS.

Di kawasan Candi Pari kemarin, Seto sangat aktif bertanya soal asal candi tersebut kepada Muhammad Saroni, si juru kunci. Seto beserta rekan-rekannya mendengarkan dengan saksama sambil menyusuri candi dengan tinggi 13,8 meter, lebar 13,4 meter, dan panjang 13,55 meter itu.

“Kalau belajar langsung seperti ini, rasanya lebih mengena. Kami bisa bertanya kepada pengelola dan melihat bukti fisiknya,” tuturnya.

Sambil menaiki tangga candi, Saroni menjelaskan bahwa candi tersebut dibangun pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja Kerajaan Majapahit. Tepatnya pada 1293 Saka atau bertepatan dengan 1371 Masehi. Candi itu menjadi simbol kesuburan desa setempat atas produksi padi mereka.

“Pernah, waktu Majapahit gagal panen, padi diambil dari kawasan ini. Sebab, tanaman padinya subur,” jelas juru pelihara Candi Pari selama 23 tahun tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan, Hayam Wuruk mengundang dua pasangan suami istri yang dianggap berperan atas suburnya lokasi itu untuk tinggal di kerajaan. “Semacam diberi jabatan,” katanya.

Pasangan suami istri, yaitu Jaka Walang Tinunu dan Nyai Roro Walang Sangit, sebenarnya bersedia datang ke istana. Namun, pasangan yang lain, yaitu Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin, enggan datang. Perwakilan kerajaan sampai turun tangan dengan sedikit memaksa.

Akhirnya, Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin mengalah. Namun, sebelum berangkat, Jaka ingin menengok lumbung padinya.

Sementara itu, istrinya ingin lebih dulu mengambil air di sumur yang berjarak sekitar 50 meter dari lumbung padi. Ternyata, keduanya menghilang di dua tempat tersebut. Tak ada yang tahu ke mana perginya.

Sebagai pengingat atas hilangnya pasangan itu, dibangunlah candi. Di lokasi lumbung padi, dibangun Candi Pari. Di sumur tempat istri Jaka menghilang, dibangun Candi Sumur.

“Kami biasanya ceritakan sejarahnya kepada pengunjung biar mereka tahu kisah di balik bangunan ini,” ujar Saroni.

Selain warga Sidoarjo, banyak pengunjung yang datang dari luar daerah. Ada yang beragama Hindu untuk beribadah, ada pula warga umum dan pelajar. Mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi. “Biasanya ada festival yang digelar di sini setahun sekali,” imbuhnya. (ist/JP)

Add Comment