Disini Ken Arok Suka Mengintip Ken Dedes

foto
Petirtaan Watugede, konon disini Ken Arok suka mengintip Ken Dedes. Foto: Liputan6.com.

Semilir angin nan sejuk seakan menyambut siapa pun yang bertandang ke Petirtaan Watugede di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Petirtaan atau kolam pemandian ini adalah satu di antara sejumlah petirtaan yang bertebaran di daerah Singosari. Namun, ada sebuah cerita di Petirtaan Watugede yang membuatnya sangat istimewa.

Di tempat itu Ken Arok kali pertama bertemu Ken Dedes, yang dianggap sebagai perempuan yang melahirkan raja-raja besar di Tanah Jawa, khususnya Kerajaan Singasari dan Majapahit dari Dinasti Rajasa.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono kepada Liputan6.com mengatakan, Petirtaan Watugede pada masa lampau dalam Kitab Pararaton disebut dengan Petirtaan Baboji dan dipercaya sebagai Tamansari Ken Dedes.

“Ini petirtaan khusus untuk mandi Ken Dedes dengan ditemani para dayang. Di petirtaan ini pula kali pertama terjadi perjumpaan Ken Arok dan Ken Dedes,” kata Dwi Cahyono.

Dwi menceritakan, suatu hari Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang hamil muda datang ke petirtaan tersebut naik pedati. Ken Arok saat itu adalah seorang prajurit yang berjaga di petirtaan.

Saat turun dari pedati, Ken Dedes menjulurkan kaki lebih dahulu dan membuat kain wiru atau belahan kainnya tersingkap. Saat itulah tersingkap rahsanya atau dalam istilah lain disebut wawati atau organ kewanitaan Ken Dedes. Ken Arok juga melihat itu sebagai mudyar hamurup atau pancaran cahaya.

Karena terpesona dengan kecantikan sekaligus penasaran dengan Ken Dedes, Ken Arok lalu membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes untuk kemudian mendirikan Kerajaan Singasari.

“Petirtaan Watugede ini situs penting dan sakral. Dahulu, berderet arca yang mengalirkan air dari sumber ke dalam petirtaan. Tapi kini hanya sisa sebuah arca saja,” Dwi Cahyono menandaskan.

Pemandian ini pertama kali ditemukan tahun 1925 oleh Arkeolog Belanda, berlokasi sekitar 2 km dari Candi Singosari. Melongok ke dalam pemandian, ada kolam kuno berbentuk persegi panjang. Dinding-dinding kolam terbuat dari batu bata kuno tersusun rapi dan kuat. Pondasi dinding yang kokoh dengan kondisi sebagian sudah tak utuh seolah-olah mengentalkan kesan kuno kolam ini.

Tepi kolam dihiasi dengan beberapa patung kecil yang menjadi pintu keluar air yang nantinya akan mengisi kolam. Uniknya, air yang keluar dari mulut arca ini tak pernah berhenti, meskipun pada musim kemarau. Kolam ini memiliki sebuah tangga batu yang memudahkan pengunjung masuk ke dalam kolam.

Uniknya, salah satu batu pada tangga memiliki permukaan yang berlubang-lubang, dengan jarak lubang yang beraturan. Konon, lubang pada batu tersebut menjadi penunjuk waktu bagi putri-putri raja yang sedang mandi di kolam tersebut. Batu tangga yang berlubang tersebut dikenal dengan nama Watu Dakon.

Tak jauh dari kolam, terdapat sebuah sumur yang seringkali dijadikan sebagai tempat meletakkan sesaji. Di sekitaran sumur juga terdapat tiga buah batu yang konon sering dijadikan sebagai batu pengasah pedang. Pedang yang diasah tersebut merupakan senjata yang digunakan untuk melaksanakan hukuman pancung.

Hukuman pancung tersebut diberikan kepada lelaki yang nekat menyusup ke dalam area pemandian. Pasalnya, pemandian ini hanya boleh dikunjungi oleh putri Raja beserta dayang-dayangnya. Tak hanya itu, di dekat sumur juga terdapat gua yang berfungsi sebagai tempat berlindung bagi para putri saat bahaya mendekat. Sayangnya, gua ini sekarang telah berada dalam kondisi tertutup.

Air di Petirtaan Watugede berasal dari sumber air yang ada di bawah sebuah pohon besar di salah satu sudut petirtaan itu. Air kemudian dialirkan ke dalam kolam melalui arca. Di dasar kolam diperkirakan masih ada relief padma, lambang para dewa. (sak)

Add Comment