Ganesha Torongrejo, Arca Setia ‘Penunggu ‘ Persawahan

foto
Arca Ganesha dipayungi gazebo berada di areal persawahan. Foto: Malangtimes.com.

Kota Batu menyimpan berbagai cerita sejarah melalui situs-situs peninggalan bersejarah. Selain candi Songgoriti, juga terdapat arca Ganesha yang terletak di Dusun Klerek Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Arca yang diduga sebagai pembatas wilayah antara Kerajaan Singosari dan Daha Kediri itu berdiri di lahan pertanian milik perseorangan. Kondisinya masih utuh. Lokasinya ada di tengah-tengah persawahan yang ditanami aneka sayuran. Seperti bawang merah, sawi, jagung dan cabai.

Arca berbentuk gajah duduk dengan tinggi satu meter ini kini dipayungi oleh gazebo dari beton. Gazebo tersebut dibangun bersama-sama oleh warga Torongrejo dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu.

Pembangunan gazebo dilakukan pada 2013 lalu. Gazebo itu untuk melindungi arca Ganesha. Sebab, pada tahun tersebut, pondok bambu yang menaungi arca ini sempat dibakar orang yang ingin mencurinya.

Untuk dapat mencapai arca peninggalan Kerajaan Singosari ini, pengunjung harus melalui jalan bebatuan tanpa aspal sejauh 500 meter. Jalan bebatuan itu bisa ditemui ketika wisatawan melintasi jalan alternatif Batu-Pendem.

Meskipun tidak terlalu lebar, jalan setapak tersebut dapat dilalui oleh satu mobil. Di kanan kiri jalan, pengunjung diapit sawah milik penduduk Dusun Klerek dan Dusun Krajan.

Setelah menempuh 500 meter, pengunjung dapat menemukan arca Ganesha ini di tengah sawah. Di depan arca biasanya terdapat beberapa sesaji. Misanya bunga mawar dan sedap malam, dupa bekas dibakar, juga rokok berikut korek apinya.

Sesaji itu diberikan oleh orang-orang yang masih percaya tempat itu sebagai lokasi ritual tertentu. Bahkan tidak jarang pengunjung dari luar kota pun juga mendatangi tempat bersejarah ini. Baik untuk ritual maupun penelitian.

Mujiono, Kasi Pemerintahan Desa Torongrejo yang juga merupakan warga sekitar mengatakan, pada tahun 80-an arca Ganesha ini, tidak sendiri. Ada tiga patung lain yang ukurannya lebih kecil.

“Tapi arca-arca kecil tersebut dicuri satu persatu. Begitu juga dengan arca Ganesha ini, berulang kali ingin dicuri, tetapi karena terlalu berat, gagal,” ungkap Mujiono. Konon arca-arca kecil yang hilang tersebut berbentuk Lembu Andini, Lingga, dan Yoni.

Arca Ganesha Torongrejo yang oleh warga sekitar disebut Reco Gajah itu fungsinya sebagai vignya vignecvara atau Dewa penolak mara bahaya. Karena letaknya menghadap tempuran, dua pertemuan sungai (Kali Brantas dan Kali Lanang).

Pertemuan dua aliran sungai besar merupakan tempat yang sangat berbahaya, sehingga dalam konsep masyarakat Jawa Kuna untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan diletakkan arca Dewa Ganesha dan diharapkan mampu meredam berbagai energi negatif dan bencana yang muncul.

Dari bentuk ornamen dan penggambarannya, kemungkinan besar Arca Ganesha Torongrejo ini berasal dari masa Majapahit. Hal itu terlihat dari penggambaran arca yang terlihat kaku, gagah, dan identik dengan arca-arca dari masa Majapahit.

Dengan banyaknya situs-situs sejarah yang ada di Kota Batu, diharapkan pemerintah kota perlu mengembangkannya sebagai salah satu destinasi wisata yang unik. Berbagai situs sejarah yang ada di Batu selayaknya turut dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal di sekolah, sehingga pelajar di Batu akan semakin bangga dengan sejarah kotanya sendiri.

Apabila sejarah mampu diolah sebagai destinasi wisata, maka masyarakat dan pemerintah akan sama-sama mendapatkan keuntungan. Diantaranya semakin meningkatnya rasa bangga dan percaya diri akan khasanah budaya bangsa ditengah lunturnya jati diri ketimuran bangsa akhir-akhir ini. (sak)

Add Comment