Prasasti Kawambang Kulwan Aus Tergerus Zaman

foto
Prasasti Sendang Kamal, letaknya tak jauh dari kolam pemandian di Kecamatan Maospati Magetan. Foto: Tribunenews.com.

PRASASTI merupakan peninggalan sejarah yang dapat memberikan informasi mengenai peristiwa yang pernah terjadi di masanya. Di Kabupaten Magetan diketemukan prasasti yang memuat informasi mengenai penetapan sima, atau wilayah yang dibebaskan dengan hak istimewa.

Dikenal dengan nama Prasasti Sendang Kamal, karena letaknya tak jauh dari kolam pemandian di Kecamatan Maospati. Ada pula yang menyebutnya Prasasti Kawambang Kulwan.

“Prasasti Kawambang Kulwan, menggunakan aksara Jawa kuno dan bahasa yang digunakan juga Jawa kuno,” ungkap Ismail Lutfi, dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang seperti dikutip TribuneNews.com.

Prasasti Kawambang Kulwan telah dibaca dan diterjemahkan oleh JLA Brandes, ilmuwan Belanda. Meski hanya dua belas baris yang terbaca, informasi yang didapat tentang penetapan sima yang diterima oleh Samgat Kanuruhan Pu Burung untuk mendirikan bangunan suci untuk pemujaan dewa.

Ismail Lutfi menambahkan, perlu ditelaah lebih jauh eksistensi wilayah tersebut, baik sebelum penetapan sima maupun sesudahnya.Hal ini berkait dengan luas wilayah pendudukan kerajaan beserta siapa pemimpinnya.

Pada prasasti berangka tahun 913 Saka atau 992 Masehi ini memiliki beberapa bagian yang aus. Padahal, aksara Jawa kuno terpahat melingkar di badan prasasti. Hanya dua prasasti yang bisa terbaca dari empat prasasti yang diketemukan. Satu di antaranya menjadi koleksi Museum Nasional.

Diperkirakan nama penguasa pemberi perintah pendirian bangunan suci ini ada di bagian yang tak bisa dibaca tersebut. Sebagai pembanding dari beberapa sumber sejarah, lebih jauh dapat ditaksir, prasasti ini diterbitkan kurun waktu pemerintahan Mpu Sendok dan Airlangga.

Bila demikian adanya, Prasasti Kawambang Kulwan merupakan jejak sejarah yang lahir pada masa pemerintahan Raja Medang, Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.

Bagian yang aus tentu cukup menyulitkan proses penelitian dan penulisan sejarah. Namun melalui sumber-sumber sejarah berkait, rekonstruksi ulang terhadap sebuah peristiwa, masih memungkinkan untuk ditelaah lebih lanjut.

Pada dasarnya sejarah dipelajari, dipahami, serta dituliskan kembali melalui beragam sumber berkait, sehingga terdapat kesatuan yang utuh dalam melihat peristiwa. (sak)

Add Comment