Belajar Sejarah Lewat Nada dan Lirik Lagu

foto
Personel Devaraj Band belajar memahami sejarah lewat lagu. Foto: Jawapos.com.

BELAJAR sejarah tidak sekadar melalui buku. Memahaminya dari lirik-lirik lagu ternyata juga menyenangkan. Cara itu pula yang dikembangkan Devaraj Band. Mereka mengajak masyarakat belajar sejarah dengan berlagu.

Alunan nada gamelan Bali mengawali latihan Devaraj Band di studio musik Backbeat di Ruko Sakura Regency, Jalan Ketintang Baru, Kamis (9/2) lalu. Sebentar kemudian, nada bas terdengar. Disusul suara gebukan drum dan melodi gitar. Paduan beragam alat musik tersebut cukup khas.

Di antara alunan nada pembuka, lamat-lamat liriknya mulai terdengar. ”Om Name Siwaya, Om Namo Siwaya.” Suara samar itu lantas berubah menjadi nada tinggi ketika sang vokalis 2, Akbar Satria Putra, bernyanyi. ”Di malam yang sesunyi ini, di malam yang sehening ini, ingin aku sendiri dalam gelap sepi.”

”Sepenggal lagu tersebut merupakan lagu andalan di album mini pertama kami. Judulnya, Linggayoni,” jelas produser Devaraj Band Yohanes Hanan Pamungkas seperti dikutip Jawapos.com.

Lelaki kelahiran 1 Januari 1960 itu menerangkan, perpaduan musik tradisional dengan lirik unik dalam Linggayoni tersebut memang sengaja dibuat lantaran Devaraj Band mengusung genre musik yang berbeda dengan band kebanyakan. Yakni, mengolah musik tradisional dan modern menjadi musik yang enak didengar.

Selain alunan musik yang khas, unsur sejarah dimasukkan dalam lirik lagu yang dibuat. Misalnya, dalam lagu Linggayoni, citra leka dan sojaroitun. Lagu tersebut menggambarkan betapa sentralnya peran lingga yoni dalam kehidupan masyarakat masa lampau. Lingga menggambarkan kejantanan dan yoni melambangkan kesuburan.

Khusus untuk lagu Linggayoni, Hanan mengatakan sudah meminta izin menggunakan lirik tersebut kepada Parisadha Hindu Dharma Indonesia. Izin itu diajukan Hanan untuk menghindari dampak yang terjadi setelah lagu dirilis.

”Dan, akhirnya kami mendapatkan izin tersebut,” jelasnya. ”Lingga yoni merupakan perwujudan dari keseimbangan dunia yang harus dijaga. Ibarat filosofi Tiongkok, perannya mirip yin dan yang,” jelas dosen sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Untuk memperkuat kesan sejarah, di beberapa bait lirik, Devaraj memasukkan kata asing seperti gabra yang berarti bilik candi. Selain lebih terdengar puitis, lirik itu berguna untuk memancing rasa penasaran pendengar sehingga mencari informasi terkait dengan kata tersebut. ”Dengan kata-kata yang tidak lazim, orang pasti akan penasaran dan ingin cari tahu,” tuturnya.

Lirik lagu bernuansa sejarah itu sengaja dipilih lantaran minimnya alternatif pembelajaran sejarah di masyarakat. Menurut dia, belajar sejarah selama ini hanya berdasar pada textbook. Minimnya variasi yang tersedia tidak jarang membuat masyarakat ogah mempelajari sejarah.

Saat ini, untuk memudahkan masyarakat memahami makna lirik pada Linggayoni, Devaraj Band membuat klip video yang bisa diunduh melalui website devarajband.com. Meski baru kumpulan foto dan sedikit video, melalui klip berdurasi 3,43 menit itu, masyarakat akan terbantu dalam memahami makna lagu Linggayoni.

Kemampuan menuliskan lirik bernuansa sejarah tersebut juga tidak terlepas dari latar belakang para personelnya. Yakni, Afrandianto (drumer), Muhammad Rizky Taufan (keyboardist), Najib Khilmi (vokalis 1), Akbar Satria Putra (vokalis 2), Irwan Dwi (gitaris 1), Shofwin Nafi (gitaris 2), dan Iwan Khusman (bas). Mayoritas anggota Devaraj Band merupakan mahasiswa dan alumni prodi sejarah Unesa.

Hanan yang juga ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Jawa Timur mengisahkan awal pendirian band tersebut. Dia mulanya hanya melakukan olah vokal dengan Najib. Ketika itu, sudah ada beberapa lagu yang mereka ciptakan. Namun, setelah beberapa bulan, mereka merasa perlu membentuk band.

Ide itu lantas membuat keduanya mencari personel yang cocok. Awalnya Najib mengajak Arfan. Setelah itu, Arfan menggandeng teman lain. ”Dari situ, kami mulai mencari beberapa posisi yang cocok untuk mengisi karakter Devaraj,” tuturnya.

Setelah masuk dapur rekaman, tujuh personel tersebut memperkenalkan diri dengan manggung di berbagai tempat. Mulai acara jurusan, kampus, hingga stasiun televisi lingkup Provinsi Jawa Timur. ”Dari beberapa pertunjukan itu, kami bersyukur mayoritas pendengar mengatakan musik Devaraj unik, tapi tetap enak didengar,” jelasnya.

Agar tidak terkesan monoton, rencananya Devaraj juga memasukkan unsur rock n roll hingga blues. ”Kami sepakat tetap membawa warna musik berbeda, tapi tetap enak di telinga pendengar,” tuturnya.

Afrandianto mengatakan, dirinya bergabung dalam band tersebut lantaran tertarik dengan jenis musiknya. Menurut dia, Devaraj memiliki akar yang kuat dalam bermusik.

Menurut pemuda yang berprofesi sebagai guru sejarah itu, setiap lirik lagu yang diciptakan Devaraj selalu membawa pesan moral. Suatu hal yang jarang ditemui dalam lirik musik di Indonesia yang mayoritas mengusung tema percintaan.

Kesan senada disampaikan Muhammad Rizky Taufan, keyboardist. Menurut dia, Devaraj memiliki karakter khas. Musiknya memang berbeda, tetapi tidak jauh dari apa yang dialami masyarakat. ”Kalau mendengar lagunya, orang pasti merasa dekat meski jarang mendengarkannya,” jelas mahasiswa sejarah Unesa tersebut.

Dengan konsep itu, ke depan Taufan berharap Devaraj bisa masuk ke ranah musik nasional dan menambah khazanah musik tanah air. ”Semoga bisa,” tegasnya. (ist/JPG)

Add Comment