Brantas Merajut Kehidupan Masa Lalu hingga Kini

foto
Situs Ganesha di Desa Karangkates, Sumberpucung, Malang lebih tertata. Foto: Travel.kompas.com.

BRANTAS, sungai terpanjang di Jawa Timur yang melintasi paling tidak 12 kabupaten/kota, memiliki peran vital sejak dahulu kala. Kehidupan masyarakat sejak zaman kerajaan, seperti Singasari, Kadiri, dan Majapahit, pernah menghiasi alur sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa itu.

Sepekan lebih kawasan persawahan di Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tidak diguyur hujan. Selain puluhan petani yang sibuk menyambut datangnya kemarau dengan menanam bawang prei, sebuah bangunan mungil di tengah hamparan terasering di lembah Sungai Brantas juga menarik perhatian.

Bangunan gazebo permanen yang terbuat dari semen berukuran sekitar 1,5 meter x 1,5 meter dengan tinggi lebih dari 3 meter itu menaungi sebuah arca Ganesha yang menghadap ke Sungai Brantas, berjarak sekitar 700 meter dari arca itu.

Rumah arca di lereng Gunung Wukir itu dibangun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu untuk menggantikan rumah arca dari bambu yang rusak dibakar orang tak dikenal.

”Sudah sekitar dua tahun ini bangunan itu berdiri. Tadinya hanya rumah biasa, dari bambu, seperti gubuk lain yang ada di tengah sawah,” ujar Da’i (60-an), warga yang lahannya hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi arca, seperti dikutip Travel.Kompas.com.

Da’i tidak tahu pasti sejarah bagaimana asal mula arca tersebut berdiri. Ia hanya tahu bahwa situs tersebut merupakan peninggalan zaman dahulu.

Bahkan, tidak semua anggota keluarganya pernah mendekati arca yang terbuat dari batu andesit tersebut. Pada waktu-waktu tertentu, tempat itu kerap didatangi orang dari luar daerah yang ingin melakukan ritual.

Bergeser 2 kilometer ke arah timur, masih di tepian Sungai Brantas, tepatnya di pinggiran Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, terdapat situs lain yang biasa disebut warga sebagai Punden Kajang.

Tidak tampak adanya arca atau bangunan besar di lokasi ini. Hanya ada sejumlah potongan batu andesit mirip bagian candi yang disusun sejajar di bawah pohon tua. Sebuah papan bertuliskan benda cagar budaya berdiri di dekat bangunan semipermanen dari kayu.

Warga umumnya mengaku tidak tahu pasti bagaimana sejarah Punden Kajang. ”Kalau orang-orang dulu mungkin tahu. Orang sekarang, ya, tahunya di situ ada punden,” ujar Mardi (53), warga.

Berbeda dengan situs Ganesha dan Punden Kajang di Kota Batu, kondisi situs Ganesha di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, itu terlihat lebih tertata.

Siang itu, situs yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Torongrejo itu dikunjungi empat wisatawan domestik. Seorang warga tengah membersihkan dedaunan kering yang mengotori area arca.

Meski sama-sama menghadap ke utara dan ada di tepi Brantas, arca Ganesha di Karangkates itu lebih besar. Ia dikelilingi tembok dari batu dan dilengkapi empat cungkup mirip gazebo di sisi kanan dan kiri serta belasan anak tangga di luar pintu gerbang.

Misiah (60-an), warga, menuturkan, sebelum proyek Waduk Ir Sutami (Bendungan Karangkates) dibangun pada 1975-1977, arca itu sudah ada. Tempatnya persis di belakang rumah Misiah yang berdekatan dengan makam Tiongkok. ”Ia (arca Ganesha) ramai didatangi orang saat hari Minggu atau hari-hari tertentu,” ucapnya.

Ketiga situs di atas hanyalah sebagian kecil peninggalan purbakala yang banyak terdapat di sepanjang DAS Brantas. Situs-situs lainnya tersebar, baik di wilayah Malang Raya maupun kabupaten lain.

Benang air
Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono, mengatakan, Brantas merupakan benang air yang merajut belasan subarea wilayah tengah Jawa Timur, mulai dari hulu di Kota Batu hingga hilir di Surabaya dan Sidoarjo.

Situs-situs masa lalu ada di semua sub-DAS meski kerapatannya berbeda. Jumlahnya cukup banyak dan temuan paling padat ada di antara Blitar hingga di sisi utara Mojokerto.

”Mengapa banyak temuan? karena sub-DAS dari Blitar sampai Mojokerto menjadi pusat pemerintahan masa lalu, mulai dari Mataram Dinasti Isyana-Sindok, Kediri, hingga Majapahit. Dan, kerajaan-kerajaan itu ada di sub-DAS Brantas, termasuk Singasari yang tidak jauh dari hulu sungai,” ucap Dwi yang belum lama ini menemukan struktur bangunan kuno di tengah Sungai Brantas di wilayah Kabupaten Tulungagung.

Peninggalan masa lalu yang terdapat di DAS Brantas tidak serta-merta merupakan hasil karya pendahulu saat zaman kerajaan berdiri.

Ada beberapa temuan yang merupakan peninggalan tahun-tahun sebelumnya atau prasejarah. Homo Mojokertensis, misalnya, fosilnya yang ditemukan di Perning tahun 1936 juga berada di DAS Brantas.

Jejak peradaban kuno yang tertinggal di DAS Brantas tidak hanya peninggalan masa Hindu-Budha, tetapi juga Islam. Banyak peninggalan masa Islam, seperti masjid dan makam, di DAS sepanjang 320 kilometer itu.

Contohnya Situs Setono Gedong di Kediri yang dibangun pada abad ke-15 dan makam Islam abad ke-16 di Gondanglor, Tulungagung.

Contoh lain peninggalan masa lalu yang masih dipakai adalah tempat penyeberangan (tambangan) di sungai yang menggunakan bantuan perahu yang ditarik menggunakan tali.

Dwi dalam Prasasti Canggu pada masa Hayamwuruk (Majapahit) menyebutkan sejumlah desa perdikan atau sima. Di desa-desa itu terdapat tempat tambangan. Di sejumlah tempat di Jawa Timur, aktivitas tambangan ini masih berlangsung.

”Jadi, banyak sekali temuan lintas abad di DAS Brantas. Konsep sungai saat itu tidak hanya menjadi media untuk transportasi, tetapi juga penyebaran aktivitas sosial dan budaya masyarakat. Karena itu, ibu kota kerajaan dulu tidak jauh-jauh dari sungai atau anak sungai,” katanya.

Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah yang kaya akan peninggalan masa lalu pun tidak tinggal diam. Upaya menjaga agar peninggalan tetap lestari terus dilakukan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara mengatakan, Malang memiliki beberapa candi, salah satunya Candi Kidal yang memiliki relief garuda (Garudayedha) paling lengkap dari candi-candi yang ada.

Pihaknya pun berharap, peninggalan masa lalu ini tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. ”Ada yang mengatakan bahwa sejarah Indonesia ada di Candi Kidal. Ada kawan-kawan, termasuk dari Bali, yang tertarik dan ingin mendatangkan banyak wisatawan ke tempat itu. Bagaimanapun, pariwisata tidak bisa lepas dari budaya dan kita berusaha ke sana,” ucapnya. (ist)

Add Comment