Bersama Menjaga Agar Ludruk Tidak Mati

foto
Ngobrol gayeng Kusnadi SH MHum bersama para seniman Ludruk. Foto: Ist.

Ludruk adalah kesenian asli Jawa Timur yang harus diselamatkan. Generasi sekarang mungkin melihat Ludruk hanya sebagai tontonan belaka, namun sejarah panjangnya di masa silam menunjukkan bahwa Ludruk juga menjadi alat perjuangan bangsa.

Melalui pelestarian kesenian tradisional maka diharapkan generasi muda dapat mengenal jati dirinya sebagai bangsa Indonesia dan bangga akan kebesaran sejarah masa lalunya, sehingga dapat menumbuhkembangkan nasionalisme bagi kalangan muda saat ini.

Upaya pelestarian Ludruk itulah yang tengah dilakukan Kusnadi SH MHum, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur yang Selasa (28/2) lalu mengunjungi ‘markas’ seniman Ludruk, di Gedung Kesenian THR Surabaya. Sambil duduk lesehan diatas panggung mereka terlihat ngobrol gayeng.

Kusnadi yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu berbincang dengan beberapa seniman ludruk, salah satunya Cak Lupus, pimpinan Ludruk Arboyo (Arek Suroboyo).

Selain Cak Lupus, para seniman yang ikut hadir dalam diskusi tersebut antara lain Agung pimpinan Ludruk, Indra penulis naskah Ludruk, Farid dan Obenk seniman teater, serta Ony setiawan dari Dept Konservasi Budaya Dewan Kesenian Jatim (DKJT).

Kusnadi mendengarkan penjelasan dari para seniman Ludruk tentang permasalahan Ludruk di Jawa Timur dan khususnya Surabaya. Berawal dari kalahnya persaingan hiburan tradisional dengan hiburan modern lainnya membuat satu persatu kelompok Ludruk gulung tikar.

Problem Ludruk saat ini menurut Cak Lupus, antara lain tempat pertunjukan yang kumuh, dan berada di belakang Hitech Mal, membuat orang enggan datang dan bahkan tidak tahu ada tempat pagelaran Ludruk.

Juga peralatan yang minim dan tua, serta gedung yang ala kadarnya membuat seni pertunjukan Ludruk semakin jauh dari sisi layak tonton.

Namun yang membanggakan, pada malamn tersebut masih ada siswa-siswi dari SMP Negeri 45 Surabaya yang masih mencintai kesenian tradisional ini.

Mereka berlatih di gedung kesenian Irama Budaya, dan dipandu oleh Eko sang pelatih, hingga pukul 21.00 malam.

Kusnadi mendengarkan semua keluh kesah dan berjanji akan meminta kepada Gubernur Jatim agar bisa membantu mereka seperangkat alat gamelan yang layak.

Kusnadi juga menyampaikan bahwa PDI Perjuangan akan berupaya membantu agar kesenian Ludruk dikenal kembali oleh rakyat Jatim. Misalnya melalui Festival Ludruk yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan Juni 2017, bertepatan dengan Bulan Bung Karno.

Meski kesenian khas Jawa Timur ini sudah mulai ditinggalkan, tapi para pelaku seninya tak pernah lelah untuk terus berkarya. Bagi mereka pementasan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk terus melestarikan kesenian Ludruk sambil terus mencari tempat di hati masyarakat modern. (sak)

Add Comment