Angklung Caruk, Upaya Pelestarian Budaya

foto
Ajang Festival Angklung Caruk Pelajar bagian upaya pelestarian budaya. Foto: Humas Pemkab Banyuwangi.

Ajang Festival Angklung Caruk Pelajar 2017, yang digelar di Gesibu Blambangan Banyuwangi beberapa waktu lalu, mampu menghibur ribuan pecinta kesenian angklung dari berbagai daerah di Banyuwangi.

Tak hanya itu, ajang ini sebagai nostalgia bagi masyarakat. Karena sudah 25 tahun lebih kegiatan perlombaan seperti ini tak ada di Banyuwangi.

Angklung caruk adalah kesenian khas Banyuwangi yang mempertemukan dua kelompok angklung untuk diuji kelihaiannya bermain angklung. Yang unik dari gelaran ini adalah permainan caruknya.

Dua kelompok angklung saling tebak lagu layaknya berpacu dalam melodi versi angklung. Yang tak bisa menebak lagu, dianggap kalah.

Tak pelak suasana Gesibu yang biasanya sepi langsung riuh membahana. Anak-anak yang tampil pun tak sekedar piawai bermain angklung, tetapi juga menjaga penampilan dan kekompakan arasement lagunya. Karena ini yang menjadi salah satu point penilaian dalam festival ini.

“Saya orang yang paling bahagia saat ini. Karena 25 tahun lalu saya ikut ajang seperti ini. Saya dulu penabuh angklung. Seperti nostalgia saja malam ini. Dulu main sekarang saya jadi pembina mereka,” ujar Jayadi (56) pembina salah satu grup Angklung Banyuwangi, seperti dikutip Detikcom.

Hal yang sama diungkapkan oleh dr Taufik Hidayat. Kesenian Angklung Caruk ini tenar tahun medio 80 anda. Ajang itu merupakan perlombaan kesenian antar grup kesenian Angklung Banyuwangi yang digelar setiap tahun. Disana nanti akan terlihat siapakah yang piawai dalam bermain angklung.

Tak jarang karena permainan ini juga dibalut emosi, dua grup angklung yang sedang bermain bisa bentrok. “Disini kita melakukan pembinaan. Kalau dulu sering bentrok tapi saat ini kita buang saja. Bentrok kita ganti persaudaraan,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, festival ini untuk kali pertama digelar dalam balutan Banyuwangi Festival 2017.

“Bagi kami seni dan budaya adalah bagian dari kekayaan potensi Banyuwangi yang terus dikembangkan agar tidak hilang. Festival angklung caruk ini, merupakan salah satu cara kami dalam melestarikan budaya tradisional Banyuwangi,” ujarnya.

Ditambahkan Anas, melestarikan budaya dibutuhkan kaderisasi. “Digelarnya festival angklung caruk pelajar ini, supaya generasi muda kita lebih tertarik dan greget untuk mempelajarinya,” kata Anas.

Festival angklung caruk ini, diikuti oleh 16 grup, yang terdiri atas grup pelajar tingkat SD dan SMP. Dari 16 grup yang mengikuti festival ini hanya akan diambil lima penyaji terbaik. Sementara untuk hadiah, para penyakit terbaik tersebut mendapatkan seperangkat alat angklung dengan total Rp 20 juta.

“Kita lakukan pembinaan kepada anak-anak ini dengan alat musik. Dan kita harap ditahan kedepan mereka bisa tampil lebih baik lagi,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda. (ist)

Add Comment