Menguak Nilai Luhur Sendang Duwur

foto
Komplek masjid dan makam Sendang Duwur di Kabupaten Lamongan. Foto: Kekunaan.blogspot.co.id.

Jauh sebelum jatuh ke tangan VOC Belanda, pesisir utara Pulau Jawa merupakan salah satu gerbang masuk dan berkembangnya Islam. Berbagai peninggalan dan jejak sejarahnya begitu mudah dijumpai. Tak heran bila hampir di sepanjang pesisir utara banyak ditemukan petilasan hingga makam para wali.

Salah satu jejak perjumpaan Islam dengan warga pesisir, bisa ditelisik dari tinggalan Sunan Sendang Duwur di bukit Amintuno, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Nama asli Sunan Sendang Duwur ialah Raden Noer Rahmad, diyakini sebagai putera dari Abdul Qohar dan masih murid dari Sunan Drajad.

Semasa hidupnya, Sunan Sendang Duwur menyebarkan Islam ke warga pesisir Lamongan. Sebagaimana kisah yang kerap diwariskan secara lisan oleh warga lokal pada umumnya, kisah tentang Sunan Sendang Duwur juga berbau mitologi.

Masjid yang terletak satu wilayah dengan pusara Sunan Sendang Duwur ini menyimpan mitos dari kisah lokal tersebut. Masjid yang berdiri di bukit Amintuno, dahulu diboyong dari Mantingan dalam waktu semalam. Tentu sesuatu yang sulit diterima nalar. Namun menjadi lumrah bagi mereka yang diberikan kelebihan.

“Ratu Kalinyamat berkata apabila masjid ini bisa dipindahkan dalam waktu satu malam dari Mantingan ke bukit Amintuno, maka Sunan Sendang diperbolehkan untuk membawanya,” tutur Rohman, warga Sendang Duwur seperti dikutip Harian Surya.

Letak masjid di atas bukit, juga bukan tanpa alasan. Ada nilai yang tersemat, bahwa letak tertinggi merupakan simbol penghormatan.

Di masjid ini terdapat sumber mata air yang tentu saja bermanfaat bagi warga sekitar kala itu. Pada salah satu sisi masjid, ada lantai yang bisa dibuka dan akan nampak ujung batu yang merupakan puncak dari bukit.

Setidaknya dari sini bisa dipelajari, bagaimana cara manusia zaman dahulu mendirikan bangunan di atas bukit berbatu cadas. Tentu teknologi yang luar biasa pada masanya.

Bentuk bangunan di area pusara Sunan Sendang Duwur juga sangat artistik. Terdapat perpaduan budaya Hindu pada gapura yang dihiasi beragam ukiran beserta ornamen hias yang bernilai luhur.

Temuan-temuan tersebut memberi gambaran mengenai konsep yang dikembangkan manusia dalam mendirikan bangunan. Ada nilai artistik dan nilai luhur yang disematkan.

“Sudah sewajarnya, rumah maupun bangunan lain tak hanya menjadi tempat tinggal bagi manusia, namun juga menjadi identitas yang mampu memberikan gambaran pada siapapun tentang siapa yang berdiam serta tinggal di dalamnya,” pungkas Rohman. (ist)

Add Comment